Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Terapi CAPD Harapan Baru Cuci Darah Pasien Gagal Ginjal

Ficky Ramadhan
14/3/2026 16:16
Terapi CAPD Harapan Baru Cuci Darah Pasien Gagal Ginjal
Grafis CAPD(Dok.MI)

TERAPI cuci darah selama ini identik dengan hemodialisis (HD) yang dilakukan secara rutin di rumah sakit. Padahal, pasien gagal ginjal memiliki pilihan terapi lain yakni Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis atau CAPD

Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir mengatakan bahwa sebagian besar pasien baru mengetahui adanya alternatif terapi setelah bertahun-tahun menjalani HD.

"Di Indonesia hampir 98% pasien gagal ginjal langsung masuk ke hemodialisis, sementara pilihan terapi lain seperti CAPD atau transplantasi sering tidak dijelaskan secara utuh kepada pasien. Bagi kami di KPCDI, ini bukan sekadar soal metode terapi, tetapi soal hak pasien untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan menentukan pilihan terapinya sendiri," kata Tony dalam keterangannya, Jumat (14/3).

Penyakit ginjal kronik (PGK) kerap disebut silent killer karena gejalanya sering tidak terasa pada tahap awal. Sekitar 90 persen pasien baru menyadari penyakitnya ketika sudah memasuki stadium lanjut dan membutuhkan dialisis atau transplantasi. Jumlah penderita gagal ginjal kronik di Indonesia tercatat mencapai sekitar 1,5 juta pasien pada 2023 dan diperkirakan terus meningkat.

Di tengah lonjakan tersebut, terapi dialisis di Indonesia masih didominasi hemodialisis dengan 134.057 pasien selama periode 2022–2024. Beban pembiayaan yang ditanggung BPJS Kesehatan juga meningkat dari Rp6,5 triliun pada 2019 menjadi Rp11 triliun pada 2024.

Berbeda dengan HD, CAPD memungkinkan pasien melakukan terapi secara mandiri di rumah dengan memasukkan cairan dialisat melalui kateter di perut dan menggantinya tiga hingga empat kali sehari. Terapi ini memberi fleksibilitas lebih bagi pasien untuk tetap beraktivitas.

Meski telah dijamin dalam sistem kesehatan nasional dengan tarif Rp8 juta per bulan sesuai Permenkes Nomor 3 Tahun 2023, pemanfaatan CAPD masih rendah. Pemerintah menargetkan minimal 10 persen pasien dialisis menggunakan metode ini.

Tony menilai rendahnya pemanfaatan CAPD salah satunya disebabkan kurangnya edukasi mengenai pilihan terapi kepada pasien sejak awal diagnosis. Di beberapa negara, kata dia, pasien telah diberikan penjelasan mengenai berbagai pilihan terapi sebelum menjalani dialisis.

"Di Malaysia, misalnya, pasien dijelaskan secara rinci mengenai pilihan hemodialisis (HD) maupun peritoneal dialysis (PD), sehingga dapat menentukan terapi yang paling sesuai. Sementara di Indonesia, edukasi serupa belum umum," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa setelah kondisi pasien stabil setelah beberapa kali menjalani hemodialisis, pilihan untuk mempertimbangkan CAPD sebagai terapi lanjutan sering kali tidak lagi disampaikan. Akibatnya, banyak pasien terus menjalani HD karena itulah satu-satunya metode yang mereka ketahui.

"Kami sering mendengar kalimat yang sama dari pasien 'Kenapa tidak dari dulu saya tahu CAPD?’. Banyak pasien baru mengenal terapi ini justru dari komunitas pasien, bukan dari sistem layanan kesehatan. Ini menunjukkan bahwa edukasi mengenai pilihan terapi gagal ginjal belum disampaikan secara utuh sejak awal kepada pasien," ucapnya.

Ia berharap, edukasi mengenai pilihan terapi  menjadi bagian dari standar pelayanan bagi pasien gagal ginjal agar mereka dapat memahami dan menentukan terapi yang paling sesuai untuk jangka panjang.

"Pasien gagal ginjal akan menjalani terapi ini seumur hidup. Karena itu, pasien tidak boleh hanya menjadi objek pengobatan, tetapi harus menjadi subjek yang memahami dan memilih terapinya sendiri," tuturnya. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya