Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Diabetes Anak di Indonesia Capai Alarm Merah, Kurikulum Sekolah jadi Benteng Terakhir

Putri Rosmalia Octaviyani
25/2/2026 22:30
Diabetes Anak di Indonesia Capai Alarm Merah, Kurikulum Sekolah jadi Benteng Terakhir
Ilustrasi pemeriksaan gula darah mandiri pada pasien diabetes anak.(Dok. Freepik)

LONJAKAN kasus diabetes anak di Indonesia kini telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2026, prevalensi kasus diabetes anak meningkat drastis dibandingkan satu dekade lalu. Temuan di lapangan bahkan menunjukkan adanya anak usia 6 hingga 10 tahun yang sudah harus menjalani prosedur cuci darah akibat komplikasi diabetes melitus tipe-2.

Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, Ahmad Heryawan, menegaskan bahwa kondisi ini adalah "alarm keras" bagi keberlangsungan generasi bangsa. Menurutnya, intervensi pemerintah tidak boleh lagi hanya bersifat kuratif di rumah sakit, melainkan harus preventif melalui jalur pendidikan resmi.

IDAI mencatat peningkatan kasus diabetes anak mencapai 70 kali lipat sejak 2010. Sebagian besar penderita berada di kelompok usia 10-14 tahun, dengan risiko komplikasi gagal ginjal yang semakin dini.

Literasi Gizi di Bangku Sekolah

Pemerintah melalui kementerian terkait kini tengah menggodok integrasi pendidikan kesehatan ke dalam kurikulum sekolah sebagai bagian dari Kurikulum Nasional 2026. Langkah ini bertujuan agar siswa memiliki literasi yang kuat terhadap kandungan gula dalam makanan dan minuman kemasan atau MBDK (Minuman Berpemanis Dalam Kemasan).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa pemerintah menargetkan skrining kesehatan terhadap 50 juta anak sekolah di seluruh Indonesia. Hingga awal 2026, sekitar 20 juta anak telah menjalani pemeriksaan dasar sebagai bagian dari upaya deteksi dini nasional.

Sinergi dengan Program Makan Bergizi Gratis

Implementasi pendidikan kesehatan ini juga akan disinergikan dengan program prioritas nasional, Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan masuknya materi kesehatan ke kurikulum, sekolah diharapkan tidak hanya menyediakan makanan sehat, tetapi juga memberikan pemahaman kepada siswa mengapa pola makan rendah gula sangat penting bagi masa depan mereka.

Fokus Intervensi Target Sasaran
Skrining Kesehatan Nasional 50 Juta Anak Sekolah
Integrasi Kurikulum Literasi Gizi & Bahaya Gula
Regulasi Pendukung Penerapan Cukai MBDK 2026

Meski sekolah menjadi garda depan edukasi, para ahli menekankan pentingnya peran orang tua dalam memantau gejala awal seperti sering haus, sering buang air kecil, dan penurunan berat badan drastis pada anak. Kolaborasi antara sekolah, pemerintah, dan keluarga menjadi kunci utama untuk memutus rantai peningkatan diabetes anak di Indonesia. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya