Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
MELALUI peringatan Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) yang jatuh setiap Kamis kedua di bulan Maret, Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) menitikberatkan pentingnya penguatan edukasi mengenai berbagai pilihan terapi bagi pasien demi meningkatkan kualitas hidup dan keberlanjutan sistem jaminan kesehatan.
KPCDI mendorong momentum penting ini untuk meninjau kembali arah kebijakan layanan kesehatan ginjal di Indonesia, sesuai dengan tema global “Kidney Health for All: Caring for People, Protecting the Planet" (Kesehatan Ginjal untuk Semua: Peduli pada Manusia, Melindungi Planet).
KPCDI menilai pemerintah belum memberikan transparansi informasi mengenai pilihan terapi pengganti ginjal. Kondisi ini mengakibatkan pasien terjebak dalam layanan mesin cuci darah (Hemodialisis/HD) dan memicu pembengkakan anggaran BPJS Kesehatan yang tidak terkendali.
Ketua Umum KPCDI, Tony Richard Samosir, mengungkapkan data Indonesian Renal Registry (IRR) 2024 mencatat dari 136.793 pasien aktif dan 60.034 pasien baru, sebanyak 98% hanya menjalani terapi HD. Sementara itu, opsi terapi mandiri seperti Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) baru mencakup 2%, dan angka transplantasi ginjal--yang secara medis dianggap sebagai solusi jangka panjang terbaik--masih berada di bawah 1%.
Karenanya, Tony memandang perlunya langkah kolaboratif antara pemerintah, tenaga medis, dan pemangku kepentingan untuk memberikan informasi yang lebih komprehensif kepada pasien sejak awal terdiagnosis.
"Harapannya, setiap pasien mendapatkan gambaran utuh mengenai seluruh opsi terapi yang tersedia, baik itu HD, CAPD, maupun transplantasi. Edukasi yang lengkap memungkinkan pasien mengambil keputusan yang paling sesuai dengan kondisi fisik dan gaya hidup mereka," ujar Tony dalam peringatan Hari Ginjal Sedunia di Jakarta, Kamis (12/3).
Langkah diversifikasi terapi ini juga dipandang sebagai strategi strategis dalam menjaga stabilitas pembiayaan kesehatan nasional. Data menunjukkan beban biaya penyakit ginjal pada BPJS Kesehatan terus meningkat, dari Rp6,5 triliun pada 2019 menjadi Rp11 triliun pada 2024. Melalui penguatan program Home Dialysis (CAPD) dan perluasan akses transplantasi, tekanan terhadap kapasitas infrastruktur rumah sakit diharapkan dapat berkurang secara signifikan.
“Selama bertahun-tahun ketimpangan informasi terapi pengganti ginjal sangat minim. Bahkan banyak pasien baru mengenal CAPD atau transplantasi dari sesama pasien di komunitas, bukan dari tenaga medis atau sistem layanan kesehatan resmi,” tandasnya.
Selain aspek biaya, peningkatan kualitas hidup pasien tetap menjadi prioritas utama. Mengingat angka kematian pasien dengan gangguan ginjal yang masih cukup tinggi, KPCDI mendorong adanya penguatan pada sistem deteksi dini. Pasalnya, banyak pasien baru menyadari kondisi kesehatannya saat sudah memasuki stadium lanjut.
Melalui momentum ini, sinergi untuk mewujudkan layanan ginjal yang lebih adil dan merata diharapkan semakin kuat. Dengan akses informasi yang transparan dan pilihan terapi yang beragam, pasien diharapkan tidak hanya menjalani pengobatan, tetapi juga mampu kembali produktif dan memiliki harapan hidup yang lebih baik. (B-3)
Gagal ginjal merupakan salah satu beban biaya (burden) tertinggi bagi sistem jaminan kesehatan nasional saat ini.
Sering buang air kecil di malam hari atau nokturia bisa menjadi tanda gangguan ginjal. Kenali gejala lain dan cara mencegah penurunan fungsi ginjal sejak dini.
Memahami perbedaan antara pucat biasa dan pucat akibat gagal ginjal dapat menjadi langkah penyelamatan nyawa yang krusial bagi Anda dan keluarga.
Anemia renal adalah kondisi di mana jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin (Hb) berada di bawah normal akibat penurunan fungsi ginjal, berbeda dengan anemia biasa.
Gagal ginjal sering disebut sebagai silent killer karena gejalanya yang samar pada stadium awal. Salah satu tanda yang paling nyata namun sering disepelekan adalah wajah pucat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved