Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA pakar kesehatan dan pemangku kepentingan lintas sektor berkumpul di Hotel Borobudur, Jakarta, untuk memperingati Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) 2026 pada Rabu (11/3).
Tahun ini, tema global yang diangkat adalah Caring for People, Protecting the Planet (Merawat Kesehatan Ginjal, Melindungi Bumi), sebuah ajakan untuk menyelaraskan penanganan medis dengan kelestarian lingkungan.
Acara dibuka oleh Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, dr. Andi Saguni, MA, yang mewakili Menteri Kesehatan.
Dalam pidatonya, ia menekankan urgensi transformasi sistem kesehatan nasional agar lebih tangguh menghadapi tantangan penyakit ginjal sekaligus berkomitmen pada praktik layanan yang berkelanjutan.
Tingginya beban ekonomi akibat penyakit ginjal kronis menjadi sorotan utama. drg. Tiffany Monica dari BPJS Kesehatan mengungkapkan bahwa gagal ginjal merupakan salah satu beban biaya (burden) tertinggi bagi sistem jaminan kesehatan nasional saat ini.
“Mengingat tingginya biaya perawatan jangka panjang, seperti hemodialisis, perlu ada pergeseran paradigma dari pendekatan kuratif yang mahal menuju strategi preventif yang lebih efektif,” tuturnya.
Hal ini sejalan dengan paparan dr. Mohammad Fiqri Qoidhafy dari Kemenkes RI yang menyatakan bahwa transformasi layanan saat ini mulai mendorong implementasi operasional yang ramah lingkungan untuk meminimalkan dampak ekologis dari proses medis.
Dari sisi medis, Ketua Umum PB PERNEFRI, Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, Sp.PD-KGH, menegaskan bahwa penguatan sistem deteksi dini adalah fondasi utama untuk menekan laju penyakit ginjal di Indonesia.
Selain pencegahan, diskusi ini menyoroti transplantasi ginjal sebagai solusi jangka panjang. Ketua Umum Yayasan Komunitas Cangkok Ginjal Indonesia (YKCGI), Supriyanto, menyatakan bahwa transplantasi memberikan kualitas hidup yang lebih produktif bagi pasien.
Ia juga mencatat adanya perubahan positif pada kesadaran pasien yang kini jauh lebih patuh terhadap pengobatan pasca-operasi demi menjaga fungsi ginjal mereka.
Mendukung hal tersebut, sektor industri turut memperkenalkan inovasi teknologi. Cokhy Indira Fasha dari PT Fresenius Medical Care Indonesia memaparkan konsep Green Dialysis, sebuah solusi hemodialisis yang dirancang untuk mengurangi jejak karbon di rumah sakit.
Sementara itu, Roy Priadi dari PT Etana Biotechnologies Indonesia menekankan pentingnya farmasi yang lebih aman dan terjangkau bagi pasien.
Roy menegaskan bahwa kolaborasi antara teknologi medis mutakhir dan inovasi farmasi ini menjadi bukti nyata bahwa keterlibatan sektor swasta sangat krusial dalam mendukung ekosistem kesehatan Indonesia yang lebih ramah bagi pasien maupun bagi kelestarian planet kita.
Sesi yang menyentuh hati diisi oleh Kombes Pol (Pur) Tartono Suwitonegoro, SH., MBA, yang telah hidup sehat selama 35 tahun dengan satu ginjal setelah mendonorkan ginjalnya.
Ia membuktikan bahwa kekhawatiran mengenai penurunan kualitas hidup setelah mendonorkan ginjal tidaklah terbukti.
Peringatan World Kidney Day 2026 ini diharapkan menjadi momentum kolektif bagi pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk bergerak bersama dalam deteksi dini serta mendukung ekosistem kesehatan yang lebih ramah bagi pasien maupun bumi. (Z-1)
Gagal ginjal sering berkembang tanpa gejala di tahap awal. Kenali tanda-tanda seperti kelelahan, edema, hingga perubahan urine untuk penanganan sedini mungkin.
Setiap prosedur hemodialisis untuk mengatasi gagal ginjal membutuhkan infrastruktur, energi listrik, dan air dalam jumlah besar.
Total biaya penanganan gagal ginjal mencapai Rp13 triliun pada 2025. Angka ini menempatkan gagal ginjal di posisi kedua setelah penyakit jantung yang menelan biaya Rp17 triliun.
Mengapa transplantasi ginjal sulit berkembang di negara berkembang? Studi terbaru mengungkap 4 kendala utama, mulai dari biaya hingga faktor sosial.
TERAPI cuci darah selama ini identik dengan hemodialisis (HD) yang dilakukan secara rutin di rumah sakit. Padahal, pasien gagal ginjal memiliki pilihan terapi lain yakni CPAD
KPCDI desak pemerintah reformasi layanan ginjal. 98% pasien terjebak cuci darah akibat minim informasi, memicu beban BPJS Rp11 triliun dan angka kematian tinggi.
TERAPI cuci darah selama ini identik dengan hemodialisis (HD) yang dilakukan secara rutin di rumah sakit. Padahal, pasien gagal ginjal memiliki pilihan terapi lain yakni CPAD
Buruknya transparansi informasi ini mencerminkan kegagalan pemerintah membangun kebijakan yang mendorong diversifikasi terapi ginjal.
IDAI mencatat peningkatan kasus diabetes anak mencapai 70 kali lipat sejak 2010. Sebagian besar penderita berada di kelompok usia 10-14 tahun, dengan risiko komplikasi gagal ginjal.
Kemenkes menegaskan rumah sakit tidak boleh menolak pasien peserta PBI dengan status JKN nonaktif sementara hingga tiga bulan.
Pasien gagal ginjal yang ideal untuk dilakukan transplantasi justru yang baru dilakukan dialisis, sekurangnya dari satu tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved