Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK orang sering kali mengabaikan perubahan warna kulit wajah yang tampak lebih pucat dari biasanya. Alasan yang sering muncul adalah kurang tidur, kelelahan bekerja, atau kurang asupan vitamin. Namun, dalam dunia medis, wajah yang kehilangan rona alaminya secara terus-menerus bisa menjadi alarm bahaya dari gagal ginjal.
Gagal ginjal sering disebut sebagai silent killer karena gejalanya yang samar pada stadium awal. Salah satu tanda yang paling nyata namun sering disepelekan adalah wajah pucat yang disertai dengan tampilan kulit yang kusam atau kekuningan.
Mengapa kerusakan pada organ penyaring limbah ini bisa berdampak pada warna kulit wajah? Jawabannya terletak pada fungsi endokrin ginjal yang jarang diketahui orang awam.
Ginjal bukan sekadar "saringan" air seni. Organ ini bertugas memproduksi hormon penting bernama Eritropoietin atau EPO. Hormon ini berfungsi sebagai instruktur bagi sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah (eritrosit).
Ketika fungsi ginjal menurun secara signifikan, produksi EPO akan anjlok. Akibatnya, tubuh kekurangan sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh jaringan, termasuk kulit wajah. Kondisi inilah yang disebut sebagai Anemia Renal. Inilah alasan utama mengapa penderita gagal ginjal stadium awal hingga lanjut hampir selalu memiliki wajah yang pucat.
Tidak semua wajah pucat merujuk pada kerusakan ginjal. Namun, ada karakteristik unik yang perlu Anda perhatikan untuk membedakannya dengan anemia biasa atau kelelahan.
Pada anemia biasa karena kekurangan zat besi, kulit cenderung tampak putih pucat. Namun, pada penderita gagal ginjal, pucat tersebut sering kali dibarengi dengan rona kekuningan, kecokelatan, atau abu-abu kusam. Fenomena ini disebut earthy look.
Hal ini terjadi karena ginjal tidak lagi mampu membuang pigmen urine (urokrom) dan racun sisa metabolisme (ureum) secara sempurna. Racun-racun ini akhirnya menumpuk di bawah jaringan kulit dan mengubah pigmen alami wajah Anda.
Selain perubahan warna, perhatikan juga area sekitar mata. Ginjal yang bermasalah sering menyebabkan retensi cairan. Jika wajah pucat Anda dibarengi dengan mata yang tampak bengkak (sembap) terutama di pagi hari, ini adalah indikasi kuat adanya kebocoran protein atau gangguan filtrasi ginjal.
Muka pucat menjadi tanda yang bahaya karena sering kali muncul saat fungsi ginjal sudah menurun lebih dari 50 persen. Tubuh manusia sangat adaptif, sehingga pada kerusakan awal, Anda mungkin tidak merasakan nyeri sama sekali. Pucat adalah salah satu cara tubuh "berteriak" bahwa ada ketidakseimbangan kimiawi yang serius di dalam darah.
Untuk memastikan apakah wajah pucat Anda berkaitan dengan ginjal, perhatikan keberadaan gejala-gejala berikut:
Jangan menunggu hingga muncul rasa sakit di pinggang, karena nyeri pinggang sering kali bukan gejala utama gagal ginjal kronis. Jika Anda merasa wajah tampak pucat secara konsisten selama lebih dari dua minggu, segera lakukan langkah pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kadar Ureum, Kreatinin, dan eGFR. Di tahun 2026, kesadaran akan deteksi dini menjadi kunci utama untuk menekan angka penderita gagal ginjal terminal di Indonesia.
| Jenis Pemeriksaan | Tujuan |
|---|---|
| Cek Kreatinin Darah | Menghitung fungsi filtrasi ginjal (eGFR). |
| Urinalisis Lengkap | Mendeteksi adanya protein atau darah dalam urine. |
| Tekanan Darah | Memastikan tensi di bawah 130/80 mmHg. |
Pencegahan terbaik adalah mengontrol tekanan darah dan kadar gula darah. Kurangi konsumsi garam berlebih dan hindari penggunaan obat pereda nyeri jangka panjang tanpa pengawasan medis. Dengan menjaga kesehatan ginjal, Anda tidak hanya menjaga warna alami wajah, tetapi juga kualitas hidup jangka panjang. (H-3)
Memahami perbedaan antara pucat biasa dan pucat akibat gagal ginjal dapat menjadi langkah penyelamatan nyawa yang krusial bagi Anda dan keluarga.
Anemia renal adalah kondisi di mana jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin (Hb) berada di bawah normal akibat penurunan fungsi ginjal, berbeda dengan anemia biasa.
Studi global mengungkap ketidakcocokan hasil tes kreatinin dan sistatin C bisa menjadi sinyal bahaya gagal ginjal hingga kematian.
Ginjal bisa rusak tanpa gejala awal. Simak 8 kebiasaan sehari-hari yang diam-diam merusak fungsi ginjal menurut pakar kesehatan.
Meningkatnya angka obesitas dan diabetes, ditambah dengan penuaan populasi global, menjadi pendorong utama lonjakan kasus CKD.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved