Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH studi global berskala besar mengungkap selisih hasil antara dua tes darah yang umum digunakan untuk memantau kesehatan ginjal dapat menjadi tanda peringatan dini bagi masalah kesehatan serius. Ketika hasil tes kreatinin dan sistatin C tidak sejalan, risiko gagal ginjal, penyakit jantung, hingga kematian dilaporkan meningkat tajam.
Selama bertahun-tahun, dokter mengandalkan kreatinin untuk memperkirakan seberapa baik ginjal menyaring limbah hasil aktivitas otot. Namun, pedoman medis terbaru menyarankan penggunaan sistatin C, protein kecil yang dihasilkan oleh seluruh sel tubuh, sebagai indikator tambahan. Karena keduanya dipengaruhi oleh proses biologis yang berbeda, penggunaan kombinasi keduanya memberikan gambaran kesehatan ginjal yang jauh lebih akurat.
Peneliti dari NYU Langone Health menemukan perbedaan hasil antara kedua tes ini sangat umum terjadi, terutama pada pasien yang sedang sakit. Dalam analisis internasional terhadap lebih dari 860.000 orang dewasa, ditemukan lebih dari sepertiga pasien rawat inap memiliki kadar sistatin C yang menunjukkan fungsi ginjal 30% lebih buruk daripada yang ditunjukkan kadar kreatinin mereka.
"Temuan kami menekankan pentingnya mengukur kreatinin dan sistatin C secara bersamaan untuk memahami kinerja ginjal yang sebenarnya, terutama pada lansia dan pasien dengan kondisi medis berat," ujar Dr. Morgan Grams, salah satu penulis utama studi yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Association (JAMA).
Akurasi pengukuran fungsi ginjal tidak hanya penting untuk mendiagnosis penyakit, tetapi juga untuk menentukan dosis obat yang aman. Kinerja ginjal menjadi panduan dalam pemberian dosis pengobatan kanker, antibiotik, dan berbagai obat resep lainnya.
Saat ini, penyakit ginjal kronis telah menjadi penyebab kematian kesembilan secara global. Dengan alat deteksi yang lebih baik, pasien dapat memulai perawatan lebih awal, sehingga mengurangi kebutuhan akan tindakan ekstrem seperti dialisis (cuci darah) atau transplantasi organ.
Studi ini menemukan orang dengan hasil sistatin C yang menunjukkan filtrasi ginjal 30% lebih rendah dibandingkan hasil kreatinin menghadapi risiko kematian dan gagal jantung yang jauh lebih besar. Pola serupa juga ditemukan pada 11% pasien rawat jalan yang sekilas tampak sehat.
Meski tes sistatin C telah direkomendasikan sejak 2012, hingga tahun 2019 kurang dari 10% laboratorium klinis di Amerika Serikat yang melakukannya secara internal. Bahkan, pada pasien rawat inap di AS yang dilibatkan dalam studi ini, kurang dari 1% yang pernah menjalani tes sistatin C.
"Hasil ini menekankan perlunya dokter memanfaatkan ketersediaan tes sistatin C yang mulai ditawarkan banyak rumah sakit," tambah Dr. Josef Coresh, Direktur Optimal Aging Institute di NYU Langone. Tanpa tes kedua ini, dokter berisiko kehilangan informasi berharga mengenai kondisi kesehatan pasien di masa depan. (Science Daily/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved