Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Pasien Gangguan Irama Jantung Bisa Puasa Selama Kondisi Terkontrol

Basuki Eka Purnama
15/2/2026 14:41
Pasien Gangguan Irama Jantung Bisa Puasa Selama Kondisi Terkontrol
Ilustrasi(Freepik)

MENJALANKAN ibadah puasa di bulan Ramadan sering kali memunculkan kekhawatiran bagi penderita gangguan irama jantung atau aritmia. Namun, pakar kesehatan menegaskan bahwa ibadah ini relatif aman dilakukan, asalkan pasien berada dalam kondisi stabil dan tetap disiplin dalam mengonsumsi obat-obatan.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, dr. Ardian Rizal, Sp.JP(K)-FIHA, menjelaskan bahwa pada dasarnya puasa tidak memberikan dampak buruk secara langsung terhadap sistem kelistrikan jantung pasien.

"Secara langsung puasa tidak berbahaya bagi pasien gangguan irama jantung," ujar Ardian, dikutip Minggu (15/2).

Perbaikan Gaya Hidup dan Pola Makan

Menurut Ardian, yang juga merupakan anggota Perhimpunan Aritmia Indonesia (Peritmi), kasus gangguan ritme jantung sering kali memiliki keterkaitan erat dengan pola hidup yang tidak sehat. 

Dalam konteks ini, puasa justru dapat menjadi momentum bagi pasien untuk memperbaiki kualitas kesehatan mereka.

Puasa dinilai mampu membantu pasien dalam mengatur pola makan dan mengontrol asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. 

Sebagian besar pasien dengan gangguan irama jantung bahkan disebut tidak memerlukan perlakuan medis khusus saat menjalankan ibadah ini.

Manajemen Obat Selama Berpuasa

Tantangan utama bagi pasien jantung saat berpuasa adalah penyesuaian jadwal konsumsi obat. Ardian menekankan bahwa perubahan waktu makan tidak boleh mengubah dosis obat yang telah ditetapkan oleh dokter.

"Prinsipnya obat tetap dikonsumsi dengan dosis yang sama. Jika obat diminum tiga kali sehari, jadwalnya bisa diatur saat buka puasa, sebelum tidur, dan saat sahur," jelasnya.

Selain kedisiplinan obat, pasien juga diingatkan untuk menjaga kendali diri saat berbuka. 

Pasalnya, ada kecenderungan masyarakat untuk mengonsumsi makanan secara berlebihan setelah menahan lapar seharian. Lonjakan asupan yang drastis ini justru berisiko menjadi pemicu masalah kesehatan jantung.

"Setelah puasa seharian, kadang asupan justru berlebihan. Itu bisa menjadi pemicu kekambuhan pada penyakit jantung tertentu," tambah  Ardian.

Kelompok Pasien yang Perlu Waspada

Meski secara umum dinyatakan aman, Ardian memberikan catatan khusus bagi pasien dengan kondisi jantung yang lebih kompleks. 

Ia mengingatkan bahwa tidak semua kondisi jantung memiliki toleransi yang sama terhadap perubahan pola makan dan cairan selama puasa.

Pasien dengan gagal jantung stadium lanjut, pasien dengan penyakit jantung bawaan berat, serta mereka yang memiliki aturan ketat mengenai pembatasan cairan dianjurkan untuk tidak berpuasa sebelum melakukan konsultasi medis.

"Pasien yang sangat bergantung pada obat rutin dan pembatasan cairan, serta beberapa kelainan jantung bawaan tertentu, harus memastikan dulu ke dokter apakah aman untuk berpuasa," pungkasnya.

Langkah konsultasi ini krusial dilakukan untuk mencegah komplikasi dan memastikan bahwa kondisi jantung pasien tetap dalam batas aman selama menjalankan ibadah. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya