Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Ramadan: Madrasah Penyucian Jiwa dan Rekonstruksi Peradaban

Mohsen Hasan Alhinduan Koordinator Dewan Pakar DPP Partai NasDem Pimpinan Majlis Kajian Kitab Klasik Depok
13/2/2026 17:06
Ramadan: Madrasah Penyucian Jiwa dan Rekonstruksi Peradaban
Mohsen Hasan Alhinduan, Koordinator Dewan Pakar DPP Partai NasDem Pimpinan Majelis Kajian Kitab Klasik Depok(Dok Istimewa)

MENJELANG hadirnya Bulan Ramadan, umat Islam sejatinya tidak hanya bersiap menahan lapar dan dahaga, tetapi memasuki fase pendidikan rohani dan sosial sangat mendalam. Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan madrasah peradaban yang dirancang untuk membersihkan hati, menata ulang orientasi hidup, dan memperkuat tanggung jawab kemanusiaan.

Al Qur'an secara tegas menempatkan puasa sebagai sarana pembentukan kualitas manusia: Yaa ayyuhalladzi aamanu kutiba àlaikumushshiyaama kamaa kutiba àlalladziina mingablikum laàllakum tattaquun. (Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah:183)

Ayat ini menegaskan tujuan utama puasa adalah takwa, yakni kesadaran moral spiritual yang melahirkan kepatuhan, kejujuran, dan tanggung jawab baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Pendidikan Karakter Manusia

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menegaskan puasa adalah ibadah yang melemahkan dominasi hawa nafsu dan menguatkan kendali akal serta hati. Menurutnya, lapar bukan tujuan, tetapi sarana agar hati menjadi lembut dan mudah menerima kebenaran. Dalam konteks pendidikan modern, puasa sejatinya melatih self regulation -kemampuan mengendalikan diri- yang oleh para pakar pendidikan karakter dipandang fondasi integritas. 

Prof Dr Quraish Shihab menyebut puasa sebagai latihan kesadaran batin yang membentuk manusia jujur bahkan ketika tidak diawasi siapa pun.
Inilah yang membedakan puasa dari sekadar kebiasaan diet atau ritual simbolik. Puasa mendidik manusia untuk  taat karena kesadaran, bukan karena tekanan eksternal.

Kepekaan Kemanusiaan

Ramadan juga mengandung pesan sosial yang kuat. Rasa lapar yang dirasakan orang berpuasa adalah bahasa empati agar manusia tidak lupa pada mereka yang hidup kekurangan. Syekh Yusuf Al-Qaradawi menegaskan puasa Ramadan tidak boleh melahirkan kesalehan individual yang egoistik. Justru puasa sejati adalah yang melahirkan kepekaan sosial, solidaritas, dan kepedulian terhadap ketimpangan.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa esensi puasa tidak berhenti pada menahan diri secara fisik: Manlam yadaà gaulazzuuri wal ali bihi falaisa lillahi haajatan fil an yadaà thaàmahu wa syaraabahu (Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya. (HR. Bukhari). Hadis ini menegaskan puasa harus berdampak pada etik sosial: kejujuran, adab, dan perilaku bermartabat.

Terapi Jiwa Penyembuhan Moral

Dalam perspektif psikologi Islam, puasa berfungsi sebagai tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Prof. Dr. Ali Jum’ah, mantan Mufti Mesir, menyebut puasa sebagai ibadah yang membersihkan kekeruhan batin akibat dosa dan kesibukan duniawi. Puasa juga memiliki dimensi terapeutik. Ia melatih kesabaran, mengurangi agresivitas, dan menenangkan jiwa. Dalam masyarakat modern yang penuh tekanan, Ramadan hadir sebagai ruang jeda spiritual, tempat manusia menata ulang makna hidup. Rasulullah SAW bersabda: Asshiyaamu junnatun (Puasa adalah perisai. (HR. Bukhari dan Muslim) Perisai dari dorongan destruktif, dari perilaku merusak diri dan orang lain.

Momentum Rekonstruksi Diri

Ramadan juga dikenal sebagai bulan ampunan dan pembaruan diri. Nabi SAW bersabda: Man shaama ramadhaana iimanan wah tisaaban ghufira lahu maa tagaddama mindzambihi (Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim) Pengampunan ini bukan sekadar penghapusan dosa, tetapi undangan untuk memulai hidup yang lebih bermakna dan bertanggung jawab.

Penutup/Khitam

Puasa Ramadan adalah madrasah penyucian jiwa dan rekonstruksi peradaban. Ia membentuk manusia yang sadar diri, peduli sesama, dan tunduk kepada nilai-nilai Ilahi. Jika Ramadhan dijalani dengan pemahaman dan kesungguhan, maka ia tidak berhenti pada satu bulan tetapi memancar dalam sebelas bulan berikutnya. Inilah hakikat tarhib Ramadan: bukan sekadar menyambut bulan suci, melainkan menyambut peluang menjadi manusia lebih utuh, lebih jujur, dan lebih beradab.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya