Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
MENJELANG hadirnya Bulan Ramadan, umat Islam sejatinya tidak hanya bersiap menahan lapar dan dahaga, tetapi memasuki fase pendidikan rohani dan sosial sangat mendalam. Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan madrasah peradaban yang dirancang untuk membersihkan hati, menata ulang orientasi hidup, dan memperkuat tanggung jawab kemanusiaan.
Al Qur'an secara tegas menempatkan puasa sebagai sarana pembentukan kualitas manusia: Yaa ayyuhalladzi aamanu kutiba àlaikumushshiyaama kamaa kutiba àlalladziina mingablikum laàllakum tattaquun. (Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah:183)
Ayat ini menegaskan tujuan utama puasa adalah takwa, yakni kesadaran moral spiritual yang melahirkan kepatuhan, kejujuran, dan tanggung jawab baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menegaskan puasa adalah ibadah yang melemahkan dominasi hawa nafsu dan menguatkan kendali akal serta hati. Menurutnya, lapar bukan tujuan, tetapi sarana agar hati menjadi lembut dan mudah menerima kebenaran. Dalam konteks pendidikan modern, puasa sejatinya melatih self regulation -kemampuan mengendalikan diri- yang oleh para pakar pendidikan karakter dipandang fondasi integritas.
Prof Dr Quraish Shihab menyebut puasa sebagai latihan kesadaran batin yang membentuk manusia jujur bahkan ketika tidak diawasi siapa pun.
Inilah yang membedakan puasa dari sekadar kebiasaan diet atau ritual simbolik. Puasa mendidik manusia untuk taat karena kesadaran, bukan karena tekanan eksternal.
Ramadan juga mengandung pesan sosial yang kuat. Rasa lapar yang dirasakan orang berpuasa adalah bahasa empati agar manusia tidak lupa pada mereka yang hidup kekurangan. Syekh Yusuf Al-Qaradawi menegaskan puasa Ramadan tidak boleh melahirkan kesalehan individual yang egoistik. Justru puasa sejati adalah yang melahirkan kepekaan sosial, solidaritas, dan kepedulian terhadap ketimpangan.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa esensi puasa tidak berhenti pada menahan diri secara fisik: Manlam yadaà gaulazzuuri wal ali bihi falaisa lillahi haajatan fil an yadaà thaàmahu wa syaraabahu (Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya. (HR. Bukhari). Hadis ini menegaskan puasa harus berdampak pada etik sosial: kejujuran, adab, dan perilaku bermartabat.
Dalam perspektif psikologi Islam, puasa berfungsi sebagai tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Prof. Dr. Ali Jum’ah, mantan Mufti Mesir, menyebut puasa sebagai ibadah yang membersihkan kekeruhan batin akibat dosa dan kesibukan duniawi. Puasa juga memiliki dimensi terapeutik. Ia melatih kesabaran, mengurangi agresivitas, dan menenangkan jiwa. Dalam masyarakat modern yang penuh tekanan, Ramadan hadir sebagai ruang jeda spiritual, tempat manusia menata ulang makna hidup. Rasulullah SAW bersabda: Asshiyaamu junnatun (Puasa adalah perisai. (HR. Bukhari dan Muslim) Perisai dari dorongan destruktif, dari perilaku merusak diri dan orang lain.
Ramadan juga dikenal sebagai bulan ampunan dan pembaruan diri. Nabi SAW bersabda: Man shaama ramadhaana iimanan wah tisaaban ghufira lahu maa tagaddama mindzambihi (Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim) Pengampunan ini bukan sekadar penghapusan dosa, tetapi undangan untuk memulai hidup yang lebih bermakna dan bertanggung jawab.
Puasa Ramadan adalah madrasah penyucian jiwa dan rekonstruksi peradaban. Ia membentuk manusia yang sadar diri, peduli sesama, dan tunduk kepada nilai-nilai Ilahi. Jika Ramadhan dijalani dengan pemahaman dan kesungguhan, maka ia tidak berhenti pada satu bulan tetapi memancar dalam sebelas bulan berikutnya. Inilah hakikat tarhib Ramadan: bukan sekadar menyambut bulan suci, melainkan menyambut peluang menjadi manusia lebih utuh, lebih jujur, dan lebih beradab.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah menegaskan bahwa pasien dengan gangguan irama jantung pada umumnya tetap dapat menjalankan puasa.
Mengingat usia buah hatinya yang masih sangat kecil, Nikita Willy lebih fokus pada pengenalan suasana dan nilai-nilai spiritual ketimbang praktik fisik berpuasa.
Spesialis dermatologi dr. Riva Ambardina Pradita menekankan pentingnya hidrasi dan penggunaan pelembap untuk menjaga kelembapan kulit selama puasa Ramadan.
Mengabaikan aktivitas fisik sama sekali selama bulan Ramadan penuh dapat berdampak negatif pada tingkat kebugaran seseorang.
Pengenalan puasa yang dilakukan dengan paksaan berisiko menimbulkan tekanan emosional yang berdampak negatif pada kesehatan mental anak.
Bulan suci menjadi momen istimewa ketika masyarakat meluangkan waktu untuk kembali mempererat hubungan dan berkumpul bersama sambil menikmati hidangan tersaji.
Berdasarkan data 10 komoditas dengan andil inflasi dan deflasi terbesar secara bulanan, cabai merah mencatat andil deflasi terbesar sebesar -0,31 persen, disusul cabai rawit -0,07 persen.
Daging ayam potong dari Rp37 ribu menjadi Rp40 ribu per kg, telur ayam ras menjadi Rp32 ribu per kg, bawang merah Rp45 ribu per kg, cabai merah menjadi Rp70 ribu per kg.
Harga daging sapi terpantau Rp140.000 per kilogram, daging kambing Rp160.000, ayam ras Rp42.000, ayam kampung Rp65.000. Serta minyak goreng berada di kisaran Rp15.700 per liter.
Harga cabai domba mencapai Rp80.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp60.000. Begitu juga cabai tanjung dari Rp30.000 menjadi Rp 45.000.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved