Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Panduan Pertolongan Pertama untuk Gejala GERD Saat Mudik 

Basuki Eka Purnama
18/3/2026 15:41
Panduan Pertolongan Pertama untuk Gejala GERD Saat Mudik 
Ilustrasi(Freepik)

PERJALANAN mudik yang panjang sering kali memicu kekambuhan gejala Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Kondisi duduk terlalu lama, stres di perjalanan, hingga pola makan sahur yang terburu-buru menjadi pemicu utama naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi lulusan Universitas Indonesia Dr. dr. Hasan Maulahela, Sp.P.D, Subsp. G.E.H. (K) membagikan panduan praktis bagi pemudik yang merasakan gejala GERD saat masih menjalankan ibadah puasa di perjalanan.

Tiga Langkah Darurat di Kendaraan

Jika muncul sensasi terbakar di dada (heartburn), mual, atau rasa pahit di mulut, Hasan menyarankan tiga langkah segera untuk meredakan gejala tanpa harus langsung membatalkan puasa:

  1. Longgarkan Tekanan Perut: Segera longgarkan ikat pinggang atau pakaian yang ketat. Pakaian yang terlalu menjepit perut dapat memperburuk aliran balik asam lambung ke atas.
  2. Perbaiki Posisi Duduk: Atur posisi duduk menjadi tegak dan jangan membungkuk atau meringkuk. Upayakan posisi kepala dan dada lebih tinggi dari perut. "Gunakan gaya gravitasi agar asam lambung tidak terus naik," saran Hasan.
  3. Teknik Pernapasan Relaksasi: Lakukan pernapasan dalam dengan menarik napas melalui hidung dan buang perlahan melalui mulut. Langkah ini efektif merelaksasi otot saluran cerna serta mengurangi rasa panik yang justru bisa memicu peningkatan produksi asam lambung.

Kapan Harus Membatalkan Puasa?

Meskipun penderita berupaya tetap berpuasa, ada kondisi tertentu di mana kesehatan harus diprioritaskan. Hasan mengingatkan agar pemudik tidak memaksakan diri jika gejala masuk dalam kategori berat.

“Jika kondisi tidak mereda dan terjadi gejala berat yang ditandai dengan nyeri ulu hati sangat hebat disertai muntah atau sesak napas, maka sebaiknya jangan memaksakan diri. Segerakan berbuka dengan air hangat (bukan air dingin atau air dengan es batu) dan konsumsi obat jika perlu,” tegasnya.

Antisipasi dan Pencegahan

Selain pertolongan pertama, pencegahan tetap menjadi kunci. Pemudik disarankan untuk tidak makan terburu-buru saat sahur dan menghindari makanan pemicu seperti makanan pedas, berlemak, atau minuman berkafein tinggi. 

Penting juga bagi para pemudik untuk mengelola stres dan kelelahan dengan beristirahat secara berkala di rest area. 

Sebagai langkah antisipasi medis darurat, Hasan menyarankan pemudik untuk menyimpan daftar alamat rumah sakit di sepanjang jalur mudik yang dilewati agar pertolongan medis cepat bisa didapatkan jika gejala tidak kunjung membaik. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik