Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI Anda yang terbiasa aktif hingga larut malam atau night owls, sebuah peringatan kesehatan muncul dari penelitian terbaru. Studi skala besar yang melibatkan lebih dari 300.000 orang dewasa menunjukkan mereka yang secara alami sering begadang memiliki kesehatan jantung yang lebih buruk dibandingkan mereka yang aktif di pagi hari. Risiko ini ditemukan jauh lebih tinggi pada kelompok usia paruh baya dan lanjut usia, dengan dampak yang paling nyata terlihat pada perempuan.
Berdasarkan data dari UK Biobank dengan rata-rata usia partisipan 57 tahun, para peneliti menganalisis kronotipe atau preferensi waktu tidur alami seseorang. Hasilnya cukup mengejutkan, orang-orang dengan kronotipe malam memiliki kemungkinan 79% lebih besar untuk memiliki skor kesehatan kardiovaskular yang buruk.
Mengapa para "burung hantu" ini lebih berisiko? Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the American Heart Association ini mengungkapkan risiko tersebut sebagian besar dipicu faktor gaya hidup yang sering menyertai kebiasaan begadang. Pola makan yang kurang sehat, durasi tidur yang tidak mencukupi, dan tingginya angka perokok di kalangan orang yang aktif malam hari menjadi kontributor utama rendahnya kesehatan jantung mereka.
Sina Kianersi, Ph.D., peneliti dari Harvard Medical School, menjelaskan adanya fenomena circadian misalignment atau ketidakselarasan ritme sirkadian.
"Orang malam sering kali mengalami ketidakselarasan sirkadian, yang berarti jam tubuh internal mereka mungkin tidak sesuai dengan siklus cahaya siang-malam alami atau jadwal harian mereka yang biasa," ujar Kianersi. "Mereka cenderung memiliki perilaku yang dapat memengaruhi kesehatan kardiovaskular, seperti kualitas diet yang lebih buruk, merokok, serta tidur yang tidak memadai atau tidak teratur."
Studi ini mencatat bahwa hubungan antara kronotipe malam dengan risiko kesehatan jantung jauh lebih kuat pada perempuan dibandingkan pria. Dalam masa pemantauan selama 14 tahun, kelompok penyuka malam ini memiliki risiko 16% lebih tinggi terkena serangan jantung atau stroke dibandingkan kelompok menengah. Sebaliknya, "tim pagi" justru menunjukkan skor kesehatan jantung 5% lebih baik.
Meski temuan ini terdengar mengkhawatirkan, para ahli menekankan ini bukanlah sebuah vonis mati. Karena pemicu risikonya adalah perilaku yang bisa diubah, para night owls memiliki peluang besar untuk menurunkan risiko tersebut.
Kristen Knutson, Ph.D., dari American Heart Association, menegaskan orang malam tidak secara inheren kurang sehat.
"Temuan ini menunjukkan risiko penyakit jantung yang lebih tinggi di kalangan tipe malam sebagian disebabkan oleh perilaku yang dapat dimodifikasi seperti merokok dan tidur. Oleh karena itu, tipe malam memiliki pilihan untuk meningkatkan kesehatan kardiovaskular mereka," kata Knutson.
Para ahli merekomendasikan program kesehatan yang lebih personal. Selain berhenti merokok dan memperbaiki pola makan, menyesuaikan waktu konsumsi obat atau terapi dengan jam biologis masing-masing individu dianggap dapat memberikan hasil yang lebih efektif untuk menjaga kesehatan jantung jangka panjang. (Science Daily/Z-2)
Siapa sangka, golongan darah ternyata ikut berkaitan dengan risiko serangan jantung. Ini bukan mitos kesehatan.
Obesitas perut, dikenal sebagai lemak visceral, adalah pemicu diam-diam namun mematikan yang meningkatkan risiko serangan jantung dan kematian mendadak.
Kadar kolesterol tinggi dalam darah bisa diam-diam memicu penyumbatan arteri, meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
Musim liburan akhir tahun menjadi momen yang dinantikan banyak orang untuk berkumpul bersama keluarga, bepergian, atau sekadar beristirahat dari rutinitas.
SEBUAH studi yang dirilis British Cardiovaskular Society Conference menyebut bahwa serangan jantung lebih berpotensi terjadi di awal minggu, khususnya hari Senin.
Dokter menyebut stroke muncul karena kebiasaan pria tersebut yang mengonsumsi minuman berenergi berlebihan setiap hari.
STROK masih menjadi penyebab kematian kedua di dunia dan salah satu penyakit yang paling banyak menyebabkan kecacatan jangka panjang.
Penanganan stroke harus dilakukan dengan cepat karena termasuk kondisi medis darurat yang dapat mengancam nyawa dan menyebabkan kecacatan permanen.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan stroke masih menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian di Indonesia. Prevalensi stroke berada di kisaran 8,3 per 1.000 penduduk
Kita jarang membayangkan bahwa kondisi yang mengancam jiwa, seperti serangan jantung atau stroke, bisa terjadi pada diri sendiri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved