Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG pria berusia sekitar 50 tahun asal Nottingham, Inggris yang memiliki pola hidup sehat, tidak merokok, dan konsumsi alkohol, tetapi harus menelan kenyataan pahit setelah dokter mendiagnosanya terkena stroke lakunar.
Dokter menyebut stroke tersebut muncul karena kebiasaan pria tersebut yang mengonsumsi minuman berenergi berlebihan setiap hari. Pria itu tiba-tiba mengalami mati rasa di sisi kiri tubuhnya, serta kehilangan keseimbangan.
Dikutip dari Live Science, setelah pria itu dirawat di rumah sakit, tekanan darahnya ditemukan sebesar 254/150 milimeter merkuri (mm Hg). Angka yang sangat tinggi itu menunjukkan krisis hipertensi.
Pemeriksaan neurologis mengkonfirmasi bahwa ia mengalami mati rasa di seluruh sisi kiri tubuhnya dan mengalami kesulitan mengoordinasikan gerakan lengan dan kaki kirinya.
Pihak dokter melakukan CT Angiogram (CTA) atau pemindaian yang merinci pembuluh darah, termasuk penyumbatan dan kerusakan, hasilnya menunjukkan tanda-tanda bahwa pria tersebut mungkin mengalami kejang dan penyempitan mendadak pada arteri serebral, suatu kejadian yang dikenal sebagai sindrom vasokonstriksi serebral reversibel (RCVS).
Selain itu, MRI menunjukkan kematian jaringan di talamus, yang bertindak sebagai stasiun penghubung untuk informasi motorik dan sensorik. Pada kasus pria tersebut, ia mengalami kerusakan di talamus yang terletak di sisi kanan otak.
Dokter mendiagnosa pria tersebut menderita stroke lakunar talamus kanan. Stroke lakunar terjadi ketika pembuluh darah yang membawa darah ke salah satu struktur dalam otak tersumbat. Stroke sisi kanan memengaruhi sensasi dan gerakan di sisi kiri tubuh, dan sebaliknya.
Diketahui pria tersebut mengonsumsi rata-rata 8 kaleng minuman berenergi setiap hari. Setiap kaleng mengandung 160 miligram kafein per 16 ons cairan, yang berjumlah sekitar 1,2 gram kafein per hari.
Pasien disarankan untuk berhenti mengonsumsi minuman energi, dan tekanan darahnya dengan cepat turun ke tingkat normal. Ia mampu berhenti mengonsumsi semua obat yang diresepkan dalam waktu tiga minggu setelah berhenti minum minuman tersebut. (H-2)
STROK masih menjadi penyebab kematian kedua di dunia dan salah satu penyakit yang paling banyak menyebabkan kecacatan jangka panjang.
Penanganan stroke harus dilakukan dengan cepat karena termasuk kondisi medis darurat yang dapat mengancam nyawa dan menyebabkan kecacatan permanen.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan stroke masih menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian di Indonesia. Prevalensi stroke berada di kisaran 8,3 per 1.000 penduduk
Kita jarang membayangkan bahwa kondisi yang mengancam jiwa, seperti serangan jantung atau stroke, bisa terjadi pada diri sendiri.
Minuman berenergi menjadi sorotan utama setelah sebuah studi kasus di Inggris mengungkapkan hubungan antara konsumsi berlebihan dan stroke ringan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved