Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Memahami Perbedaan Miom dan Kista: Gangguan Reproduksi yang Mengancam Kesuburan Perempuan

Basuki Eka Purnama
28/1/2026 09:20
Memahami Perbedaan Miom dan Kista: Gangguan Reproduksi yang Mengancam Kesuburan Perempuan
Ilustrasi(Freepik)

MASALAH kesehatan reproduksi berupa miom dan kista masih menjadi momok bagi perempuan di usia produktif. Meski sering dianggap sama, kedua kondisi ini memiliki karakteristik yang berbeda dan memerlukan penanganan yang tepat agar tidak mengganggu kualitas hidup serta kesuburan.

Dokter Spesialis Kandungan Eka Hospital BSD, dr. Budi Santoso, SpOG menjelaskan bahwa masyarakat awam kerap salah mengartikan miom dan kista sebagai kondisi yang identik. Padahal, secara anatomis dan jenis pertumbuhannya, keduanya sangat berbeda.

“Miom adalah pertumbuhan jaringan otot dan jaringan ikat di dinding rahim, sedangkan kista merupakan kantong berisi cairan yang umumnya terbentuk di ovarium,” jelas Budi di Tangerang, Rabu.

Gejala dan Karakteristik

Miom atau fibroid rahim biasanya bersifat jinak dan sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Namun, Budi memperingatkan bahwa pada kondisi tertentu, miom dapat memicu perdarahan menstruasi yang berlebihan, nyeri panggul, perut terasa penuh, hingga rasa nyeri saat berhubungan seksual.

Di sisi lain, kista ovarium lebih sering terbentuk sebagai bagian dari proses alami ovulasi. Banyak kasus kista ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan USG. 

Walau sebagian besar bersifat ringan dan dapat hilang dengan sendirinya, beberapa jenis kista memerlukan perhatian medis yang lebih serius.

“Sebagian besar kista bersifat ringan dan dapat menghilang dengan sendirinya. Namun, kista yang berhubungan dengan PCOS atau endometriosis perlu perhatian khusus,” tambahnya.

Risiko Terhadap Kesuburan dan Kehamilan

Terkait dampaknya terhadap sistem reproduksi, miom dan kista memiliki risiko yang berbeda. Miom memang jarang menjadi penyebab langsung infertilitas (ketidaksuburan). Namun, keberadaan miom selama masa kehamilan dapat memicu komplikasi serius, seperti pertumbuhan janin terhambat, kelahiran prematur, hingga solusio plasenta.

Kondisi berbeda ditemukan pada kasus kista. 

“Berbeda dengan miom, kista yang berkaitan dengan PCOS dapat menurunkan peluang kehamilan karena mengganggu proses pematangan sel telur,” ujar Budi.

Hingga saat ini, penyebab pasti miom belum diketahui, namun ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron diyakini memegang peran penting. Beberapa faktor risiko yang patut diwaspadai antara lain obesitas, faktor genetika, menstruasi dini, hingga gaya hidup.

Pentingnya Deteksi Dini

Mengingat kedua kondisi ini sering kali tidak bergejala, Budi mengimbau kaum perempuan untuk rutin melakukan pemeriksaan panggul dan USG, terutama bagi mereka yang merencanakan kehamilan atau mengalami gangguan menstruasi.

Ia juga menekankan bahwa diagnosis miom atau kista tidak selalu berakhir di meja operasi. Penanganan medis akan disesuaikan dengan keluhan dan perkembangan kondisi pasien.

"Segera periksa ke dokter jika menstruasi tidak teratur, perdarahan berlebihan, nyeri panggul berkepanjangan, atau perut terasa membesar dan tertekan," pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya