Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Dr. dr. Gita Pratama, Sp.OG, Subsp. FER., M.Rep.Sc menjelaskan perbedaan penyakit polip dan miom yang dapat tumbuh dalam rahim wanita.
"Miom dan polip itu sebenarnya kalau enggak bergejala tidak perlu diapa-apakan, karena memang dia tumor jinak ya, enggak berbahaya," kata Gita, dikutip Jumat (21/11).
Dokter lulusan Universitas Indonesia itu mengatakan polip endometrium atau polip merupakan tumor jinak di dalam rongga rahim yang dapat mengganggu terjadinya penempelan (implementasi) embrio. Letaknya biasa menggantung di dinding-dinding rahim.
Sering kali, kondisi pasien tidak bergejala, tetapi dapat menyebabkan timbulnya bercak darah (spotting) di luar siklus menstruasi. Spotting juga dapat muncul di antara siklus menstruasi.
"Misalnya mensnya 7 hari, kemudian nanti sudah berhenti, mensnya nanti tiba-tiba spotting. Apa muncul flek-flek begitu ya. Kemudian nanti mens normal lagi, itu biasanya gejala dari polip," ujar dia.
Penyakit ini juga dikatakannya kerap dihubungkan dengan infeksi dan gangguan hormon.
"Jadi kalau pasien yang haidnya enggak teratur, kemudian ditemukan ada gangguan hormon, itu biasanya tumbuh polip," kata dia.
Pada polip yang disebabkan oleh infeksi, ia mengatakan penyebabnya akan sulit untuk diketahui karena tidak adanya gejala yang terlihat pada pasien.
Dokter akan menggunakan histeroskopi sebagai alat untuk mendiagnosis sekaligus melakukan prosedur minimal invasive untuk mengangkat polip tersebut.
Kemudian miom merupakan kondisi yang mirip dengan polip, namun miom merupakan tumor jinak yang dapat menyebabkan infertilitas atau tidak bisa hamil.
Perbedaannya dengan polip yakni penderita miom akan mengalami gejala keluarnya darah menstruasi yang banyak dan memanjang, sehingga sering menyebabkan anemia.
Ukuran miom sendiri cukup beragam dari besar hingga kecil. Menurutnya, 90% miom yang pernah ditemukan dalam ukuran kecil.
"Miom itu enggak dikaitkan dengan gangguan hormon atau infeksi, tetapi dia memang genetik ya. Jadi sebenarnya pada seorang perempuan kalau dicari sebenarnya miom mungkin saja ada.Tapi ada yang mudah sekali membesar, kemudian lebih dari satu," kata dokter yang saat ini praktik di Rumah Sakit Pondok Indah itu.
Lebih lanjut, pertumbuhan miom dalam rahim dapat dipengaruhi oleh peran genetik, bukan gaya hidup.
Miom akan menjadi mioma submokosum apabila ukurannya sudah menonjol ke arah rongga rahim. Ukuran yang besar membuat area pada rongga menjadi lebih besar, sehingga darah yang dikeluarkan juga akan lebih banyak dan sulit diberhentikan.
Pasien yang merasa mengalami gejala tersebut dianjurkan untuk segera melakukan sesi konsultasi dengan dokter spesialis untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan mengetahui penyebabnya lebih lanjut. (Ant/Z-1)
Rahim yang telah lepas menyebabkan perempuan tidak mampu memiliki anak lagi karena tidak ada tempat bagi sperma dan telur melakukan pembuahan.
Program bayi tabung (IVF) menjadi harapan banyak pasangan yang kesulitan memiliki anak. Namun, dokter spesialis kandungan, Mila Maidarti, menegaskan bahwa keberhasilan bayi tabung.
Kanker serviks, atau kanker leher rahim, merupakan salah satu jenis kanker yang paling umum di kalangan perempuan di seluruh dunia.
PADA masa kehamilan, perut mengalami kedutan, apakah hal tersebut aman? Selama kehamilan, sangat wajar apabila perut kamu mengalami kedutan dan terasa berdetak seperti jantung.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved