Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SEIRING meningkatnya kasus infeksi RSV (Respiratory Syncytial Virus) pada bayi dan balita, vaksin RSV mulai menjadi perhatian banyak orang tua, terutama para ibu menyusui. Lantas, apakah vaksin ini aman untuk digunakan saat sedang menyusui?
Mengutip dari laman Dr. Oracle, vaksin RSV dinilai aman untuk ibu yang sedang menyusui, dan hingga kini tidak ditemukan bukti adanya efek buruk terhadap bayi yang menerima ASI dari ibu yang divaksin. Meskipun penelitian khusus mengenai keamanan pada ibu menyusui masih terbatas, pedoman dari Komite Penasihat Praktik Imunisasi (ACIP) menegaskan bahwa menyusui bukan merupakan kontraindikasi untuk mendapatkan vaksin RSV.
Komponen vaksin RSV tidak berpindah ke ASI dalam jumlah yang membahayakan. Karena itu, bayi yang disusui tidak berisiko mengalami efek samping dari vaksin yang diterima ibunya. Justru, menyusui setelah vaksinasi tetap dianjurkan karena dapat memperkuat perlindungan bayi terhadap infeksi pernapasan.
ASI mengandung berbagai sel kekebalan tubuh, termasuk sel CD8+ T yang sangat penting untuk melawan infeksi. Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa sel imun dalam ASI memiliki kemampuan bertahan dan melindungi bayi hingga empat kali lebih kuat dibandingkan sel imun bayi itu sendiri. Ini menjadi alasan mengapa menyusui tetap memberikan manfaat besar, bahkan setelah sang ibu menerima vaksin.
Infeksi RSV sering kali menyerang saluran pernapasan dan dapat menyebabkan gejala serius pada bayi, termasuk bronkiolitis atau pneumonia. Oleh karena itu, upaya pencegahan sangat penting, terutama selama musim RSV yang biasanya berlangsung dari akhir tahun hingga awal tahun berikutnya.
Vaksin RSV umumnya diberikan pada ibu hamil usia 32-36 minggu untuk memberikan perlindungan langsung kepada bayi melalui antibodi yang ditransfer melalui plasenta. Namun, setelah melahirkan, ibu menyusui tetap dapat menerima vaksin tanpa membahayakan bayinya.
Bagi ibu yang sudah mendapatkan vaksin saat hamil, perlindungan untuk bayi sebetulnya sudah dimulai sejak lahir, terutama jika vaksin diberikan minimal 14 hari sebelum persalinan. Sementara bagi ibu yang tidak mendapat vaksin selama kehamilan, menyusui tetap memberikan perlindungan alami bagi bayi, dan dokter dapat mempertimbangkan pemberian nirsevimab, yaitu antibodi monoclonal khusus RSV untuk bayi yang usianya kurang dari delapan bulan.
Berbagai studi menunjukkan bahwa bayi yang disusui secara eksklusif lebih dari 4-6 bulan memiliki risiko lebih rendah mengalami infeksi RSV yang berat. Bahkan, durasi rawat inap, kebutuhan alat bantu pernapasan, hingga peluang masuk ICU dapat ditekan berkat perlindungan alami dari ASI.
Tak hanya itu, baik menyusui eksklusif maupun sebagian tetap memberi manfaat bagi bayi yang sudah terinfeksi RSV. Artinya, semaksimal apa pun upaya vaksinasi, menyusui tetap memainkan peran besar dalam memperkuat kekebalan tubuh bayi.
Sumber: Dr. Oracle.
RSV merupakan virus pernapasan yang mudah menular dan berbahaya bagi bayi. Kenali gejala, risiko komplikasi, serta langkah pencegahan untuk melindungi anak.
RSV adalah virus yang sangat umum dan menular. Pada bayi prematur, saluran napas yang kecil dan fungsi paru-paru yang belum berkembang penuh tidak mampu menangani peradangan
RSV menyebar melalui percikan napas, sentuhan, dan permukaan yang terkontaminasi. Karena itu, langkah pencegahan sederhana sangat penting untuk melindungi bayi prematur
Ibu hamil yang menerima vaksinasi RSV (Respiratory Syncytial Virus) akan merasakan berbagai manfaat, baik bagi kesehatan diri mereka sendiri maupun untuk bayi yang dikandung.
Vaksinasi merupakan salah satu cara paling efektif untuk melindungi kesehatan ibu hamil dan bayi dari berbagai penyakit, termasuk infeksi virus RSV (Respiratory Syncytial Virus).
Kemampuan virus untuk menulari akan meningkat saat cuaca menjadi lebih dingin. Hal ini dipicu oleh dua faktor utama: perubahan biologis dan perilaku sosial.
RSV bukan penyakit batuk pilek biasa yang kemudian orang yang tetap hidup sehat seperti biasa. Tapi bisa berakhir dengan komplikasi ICU, bahkan bisa berakhir dengan kematian.
Penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sudah terbukti dapat menekan risiko penularan virus, termasuk virus covid-19 dan RSV terhadap lansia.
RSV merupakan virus pernapasan yang mudah menular dan berbahaya bagi bayi. Kenali gejala, risiko komplikasi, serta langkah pencegahan untuk melindungi anak.
Imunisasi dengan Palivizumab direkomendasikan oleh IDAI untuk mencegah bayi yang lahir prematur mengalami penurunan kesehatan karena infeksi RSV.
Tadinya dia tidak punya bakat asma, gara-gara kena RSV meski sudah sembuh, tapi jadi asma, terus sebentar-sebentar sakit.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved