Headline
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah upaya pemerintah memperketat pengawasan digital bagi anak-anak, suara dari akar rumput mengingatkan bahwa regulasi teknis saja tidak cukup. Wiwik Ningsih, 44, seorang ibu di Jakarta, menekankan bahwa keterlibatan aktif orangtua jauh lebih ampuh dibandingkan sekadar mengandalkan aturan administratif.
Saat ini, pemerintah, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), tengah menggodok Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS). Meski mengapresiasi langkah tersebut sebagai bentuk tanggung jawab sosial platform digital, Wiwik mengaku tetap merasa khawatir.
“Jangan sampai dengan adanya aturan ini, kita sebagai orangtua malah berpikir tugas kita sudah selesai. Seolah-olah kalau sudah ada hukumnya, anak kita otomatis aman. Itu pola pikir yang berbahaya,” tegas Wiwik saat ditemui di Jakarta, pekan ini.
Wiwik menyoroti fenomena di Australia, ketika pelarangan total media sosial bagi anak di bawah 16 tahun justru memicu aksi "kucing-kucingan" digital. Anak-anak di sana ditemukan tetap bisa mengakses platform menggunakan akun palsu atau mengakali sistem verifikasi.
Baginya, efektivitas di lapangan tidak bisa diukur hanya dari seberapa bersih layar ponsel anak, melainkan dari pembangunan karakter mereka.
“Kita tidak bisa cuma pasang pagar tinggi-tinggi karena anak-anak kita itu kreatif, mereka akan selalu menemukan cara untuk melompatinya kalau mereka tidak paham kenapa pagar itu ada,” tambahnya.
Alih-alih menerapkan larangan keras yang kaku, Wiwik dan suaminya memilih pendekatan diskusi yang cair di rumah. Media sosial dipandang bukan sebagai ancaman yang harus dibicarakan secara sembunyi-sembunyi, melainkan sebagai ruang belajar.
Dalam kesehariannya, Wiwik mengajak anaknya berdiskusi mengenai berbagai risiko nyata, mulai dari hoaks, etika berkomentar, hingga bahaya cyber bullying dan konten dewasa.
Tujuan utamanya bukan sekadar memutus akses, melainkan membangun kepercayaan agar anak merasa aman untuk melapor jika menemukan hal yang mengganggu di jagat maya.
Wiwik berharap implementasi PP TUNAS ke depan benar-benar mendorong kolaborasi yang memberdayakan keluarga, bukan sekadar batasan teoritis.
Ia melihat peran negara adalah sebagai "wasit" bagi ekosistem digital dan sekolah sebagai pengajar etika.
Namun, ia menegaskan bahwa pendamping pertama dan utama tetaplah keluarga. Tanpa keterlibatan aktif orangtua, regulasi hanya akan menjadi selembar dokumen yang dingin, sementara anak-anak akan tetap berkelana di ruang digital tanpa kompas yang kuat. (Z-1)
Tingginya mobilitas masyarakat, terutama pada momen libur lebaran, menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai orangtua mengenai risiko campak pada anak.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Sistem pengawasan internet yang diterapkan suatu negara dapat memengaruhi bagaimana konten digital beredar serta seberapa besar ruang anonimitas yang tersedia bagi pengguna.
Dengan bantuan platform online video, pengguna dapat mengedit klip, menambahkan teks, memasukkan musik, hingga membuat video profesional langsung dari browser.
Saat ini, sekitar 62 persen masyarakat Indonesia telah terbiasa berbelanja daring dua hingga tiga kali per bulan.
KECINTAAN Justisia Dewi pada jam tangan, dan kepeduliannya terhadap lingkungan menjadi salah satu sumber inspirasi usahanya. Ia menghadirkan Ma.ja Watch pada tahun 2021
Tanpa kematangan psikologis yang cukup, anak-anak berisiko tinggi terpapar konten yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved