Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Belanja Digital akan Dominasi Ramadan 2026 di Indonesia

Basuki Eka Purnama
27/2/2026 10:35
Belanja Digital akan Dominasi Ramadan 2026 di Indonesia
Ilustrasi(Freepik)

LANSKAP ekonomi Ramadan di Indonesia pada 2026 diprediksi akan mengalami transformasi digital yang masif. Visa merilis proyeksi terbaru yang menunjukkan bahwa adopsi pembayaran digital yang semakin luas akan menjadi motor utama pertumbuhan konsumsi masyarakat sepanjang bulan suci hingga Idul Fitri.

Laporan tersebut menegaskan bahwa total belanja kartu pada Ramadan 2026 diperkirakan melampaui pencapaian tahun sebelumnya. Fenomena ini didorong oleh kuatnya konsumsi domestik serta penetrasi teknologi pembayaran nirsentuh (contactless), e-commerce, dan transaksi di dalam aplikasi (in-app) yang merata di seluruh Indonesia.

Pergeseran ke Perilaku Digital-Native

Salah satu temuan kunci dalam laporan ini adalah terbentuknya perilaku konsumen yang semakin hybrid. 

Saat ini, sekitar 62% masyarakat Indonesia telah terbiasa berbelanja daring dua hingga tiga kali per bulan. Integrasi antara pencarian produk secara online dan eksekusi pembelian secara offline kini telah menjadi standar baru bagi konsumen tanah air.

Vira Widiyasari, Country Manager Visa Indonesia, menekankan bahwa saat ini sedang terjadi pergeseran struktural dalam ekonomi Ramadan.

"Kami melihat adanya perubahan dari sekadar peningkatan volume menuju perilaku konsumen yang lebih canggih dan digital-native. Integrasi yang seamless antara pencarian produk secara online dan pembelian offline kini menjadi ekspektasi dasar. Agar bisnis dapat berhasil di periode krusial ini, mereka harus menawarkan pengalaman pembayaran yang aman dan tanpa hambatan, sesuai dengan keluwesan perjalanan konsumen masa kini, baik saat memesan perjalanan mudik maupun membeli kebutuhan hari raya," papar Vira.

Puncak Transaksi di Ruang Digital

Visa memproyeksikan aktivitas belanja digital akan semakin intensif pada paruh kedua bulan Ramadan. 

Puncak transaksi diperkirakan terjadi pada pekan ketiga, seiring dengan meningkatnya pembelian tiket perjalanan (mudik), pengiriman hadiah (parsel), serta kebutuhan persiapan hari raya yang dilakukan melalui platform digital.

Analisis data menunjukkan bahwa 10 hari terakhir menjelang Idul Fitri tetap menjadi periode paling krusial bagi ekosistem ritel. 

Meski volume transaksi secara historis menurun 30%–40% pada hari Idul Fitri karena fokus masyarakat pada ibadah, pola belanja diprediksi akan segera pulih (rebound) dalam waktu singkat setelahnya.

Strategi Berbasis Data Digital

Bagi pelaku usaha, lonjakan belanja digital ini bukan sekadar peningkatan angka, melainkan peta jalan strategis untuk memenangkan pasar.

"Data menunjukkan adanya jendela peluang yang sangat terkonsentrasi di pekan-pekan terakhir, diikuti oleh jeda yang dapat diprediksi saat Idul Fitri," ungkap Simon Baptist, Asia Pacific Principal Economist Visa. 

"Wawasan kami mengindikasikan bahwa bisnis yang secara proaktif menyelaraskan rantai pasok, promosi terarah, dan infrastruktur pembayaran dengan lonjakan yang dapat diprediksi. terutama di kategori pertumbuhan tinggi seperti perjalanan, akan memperoleh keunggulan kompetitif yang signifikan pada 2026," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya