Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Uang Sering Kali Dijadikan Alat Regulasi Emosi

Basuki Eka Purnama
05/12/2025 10:56
Uang Sering Kali Dijadikan Alat Regulasi Emosi
Pelajar memeriksa keaslian uang kertas saat kegiatan literasi keuangan kepada pelajar di Denpasar, Bali(ANTARA/Fikri Yusuf)

PSIKOLOG klinis lulusan Universitas Indonesia Olphi Disya Arinda, M.Psi., Psikolog mengungkapkan bahwa financial coping atau uang itu sering digunakan menjadi alat untuk regulasi emosi.

"Banyak orang yang menggunakan financial coping. Jadi, uang itu bukan cuman alat tukar, bukan alat tukar antarbarang aja, tapi juga alat tukar emosi, yang tadinya sedih biar bisa jadi senang lagi," kata Disya, dikutip Jumat (5/12).

Disya menilai perilaku seperti belanja berlebih, mengambil pinjaman, atau menghamburkan uang dijadikan sebagai cara tidak langsung mengurangi stres, kesepian, atau rasa tidak berdaya, ketika seseorang merasa insecure atau ada bagian dari dirinya yang dirasa tidak puas sehingga mengeluarkan uang seolah seperti punya kontrol atau punya power.

"Banyak orang juga yang mengeluarkan uang tidak pada tujuan yang tepat, sehingga bisa jadi ini ada latar belakang kondisi emosi yang bisa dibilang kurang sehat. Tanpa disadari ini menciptakan pola yang namanya emotional spending atau emotional debt," tutur dia.

Disya menjelaskan bahwa ketika emosi seseorang menjadi sulit untuk berpikir logis atau berpikir dengan cara yang cukup bijak lantaran area di bagian otak yakni amigdala di otak yang berfungsi mengontrol emosi terpicu menjadi lebih aktif.

Di sisi bagian lain di otak, yakni prefrontal cortex yang berfungsi untuk mengambil keputusan, pemecahan masalah, berpikir strategis justru bekerja menjadi lebih lambat. 

Respons amigdala dinilainya seperti sistem alarm di otak yang membuat hormon kortisol meningkat sebagai tanda adanya ancaman.

"Otak logis kita tuh jadi kayak redup, jadi kita enggak bisa melakukan perencanaan atau pengambilan keputusan yang bijak. Inilah yang membuat seseorang itu cenderung impulsif, menghindar kalau ada masalah atau mengambil keputusan jangka pendek," pungkas Psikolog yang juga berpraktik di Mayapada Medical Center Kuningan Jakarta itu. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik