Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Pendekatan Edukatif: Kunci Keberhasilan Pembatasan Gawai di Sekolah

Basuki Eka Purnama
04/2/2026 11:36
Pendekatan Edukatif: Kunci Keberhasilan Pembatasan Gawai di Sekolah
Ilustrasi(Freepik)

DINAS Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten resmi memulai uji coba kebijakan pembatasan penggunaan telepon seluler di lingkungan SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) mulai Februari 2026. 

Menanggapi hal tersebut, Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, menilai bahwa efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada cara penyampaiannya kepada siswa.

Menurut Kasandra, pihak sekolah perlu menerapkan pendekatan yang bersifat edukatif dan kontekstual agar kebijakan ini tidak dipandang negatif oleh peserta didik.

“Pendekatan ini membantu siswa memahami bahwa pembatasan bukan hukuman, melainkan upaya menciptakan lingkungan belajar yang fokus dan sehat secara mental,” ujar Kasandra, dikutip Rabu (4/2).

Fleksibilitas di Lingkungan Sekolah

Dalam implementasinya, Kasandra menyarankan beberapa prinsip praktis. Ponsel sebaiknya disimpan hanya selama jam pelajaran berlangsung, kecuali jika perangkat tersebut memang dibutuhkan dalam proses belajar-mengajar. 

Selain itu, sekolah dapat menetapkan "zona bebas ponsel" di area tertentu seperti ruang kelas atau perpustakaan.

Ia juga menekankan pentingnya memberikan ruang bagi siswa pada waktu-waktu tertentu. Pembatasan sebaiknya tidak bersifat larangan total di seluruh area sekolah, melainkan tetap membolehkan penggunaan ponsel pada jam istirahat. Hal ini bertujuan agar aturan tetap relevan dengan kebutuhan sosial remaja.

Kolaborasi dengan Orangtua dan Siswa

Lebih lanjut, Kasandra menyoroti pentingnya keterlibatan semua pihak dalam perumusan kebijakan. Sosialisasi yang dilakukan sekolah harus menyentuh sisi esensi, yakni demi kepentingan siswa sendiri, bukan sekadar penegakan disiplin yang kaku.

“Kunci utamanya adalah gaya komunikasi demokratis (authoritative parenting) tegas namun hangat,” jelasnya mengenai peran orangtua di rumah.

Di lingkungan keluarga, orangtua diharapkan menghindari kontrol berlebihan, seperti memeriksa ponsel anak tanpa izin. 

Sebaliknya, orangtua perlu memberikan ruang diskusi dan negosiasi. Kasandra mengingatkan agar orangtua mendengarkan sudut pandang anak dan menghindari penggunaan aturan sebagai alat ancaman.

Dampak Positif Pelibatan Remaja

Secara psikologi perkembangan, remaja yang dilibatkan dalam pembuatan aturan cenderung menunjukkan perilaku yang lebih kooperatif. Mereka akan lebih jujur kepada orang tua dan memiliki relasi keluarga yang lebih sehat karena merasa dihargai.

Langkah yang diambil Dindikbud Banten melalui surat edaran tertanggal 29 Januari 2026 ini pada dasarnya bertujuan meminimalkan dampak negatif gawai terhadap konsentrasi dan kedisiplinan. 

Dengan dukungan komunikasi yang tepat dari sekolah dan orangtua, kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih kondusif di Provinsi Banten. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya