Headline
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Kumpulan Berita DPR RI
BERTENTANGAN dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa Angkatan Udara Iran telah dilumpuhkan, pada 3 April Iran berhasil menjatuhkan beberapa jenis jet tempur dan helikopter AS dalam sehari. Ini bukan saja menunjukkan AL Iran masih operasional, tapi juga menunjukkan kapabilitas rudal pertahanan udara Iran. Pada Minggu, 5 April, AS berhasil menyelamatkan seorang personel dari jet F-15E yang jatuh ditembak Iran, tapi masih ada kru pesawat lain yang jatuh belum ditemukan.
Tentu saja jatuhnya jet-jet dan helikopter AS meningkatkan deterrence Iran. Memang mudah untuk memulai perang, tapi selalu sulit untuk mengakhirinya. Agresi yang dilakukan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, berbasis pada asumsi dan skenario sesat bahwa perang hanya akan berlangsung tiga hari dengan hasil pergantian rezim di Iran. Nyatanya hal itu tidak terjadi. Sebaliknya, perang terus bereskalasi dengan dinamika dan ramifikasi yang tak diperhitungkan sebelumnya. Kewalahan menghadapi dampak perang di dalam negeri maupun global, AS menawarkan perdamaian.
Namun, 15 syarat yang diajukan AS tak lebih dari lelucon. Bagaimana mungkin Iran yang sedang di atas angin dituntut menyerah total. Intinya 15 syarat tersebut sama dengan tuntutan AS dalam perundingan dua putaran di Jenewa yang ditetapkan Iran sebagai garis merah. Tak mengherankan jika Iran mengajukan proposalnya sendiri yang sulit diterima AS. Tuntutan Iran masuk akal sebagai pihak yang dizalimi, tapi 5 syarat yang diajukan, yang kalau diterima, sama artinya AS mengaku kalah. Maka, terjadi deadlock.
Pakistan ditunjuk sebagai mediator. Pada 29 Maret, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Mesir, dan Turki berkumpul di Islamabad untuk mencari terobosan yang bisa diterima kedua pihak. Tapi gap antara tuntutan AS dan Iran terlalu jauh untuk dijembatani. Sementara AS dan Israel tak mengendurkan serangan terhadap Iran yang menargetkan infrastruktur sipil, seperti universitas, rumah sakit, permukiman warga, sekolah, depot minyak, dan instalasi air bersih. Iran membalas hal yang sama ke seluruh kawasan.
Untuk meningkatkan pressure terhadap Iran, AS mengirim ribuan pasukan infanteri dan pasukan khusus, yang direncanakan melakukan serangan terhadap Iran. Pulau Kharg di Teluk, terminal bagi 90% ekspor minyak Iran, jadi target pendudukan. Juga untuk menduduki pulau di mulut Selat Hormuz yang ditutup Iran guna menghancurkan militer Iran di sana.
Pada saat bersamaan, proksi Iran di Yaman, Houthi, mulai melancarkan serangan terhadap Israel dan mungkin akan menutup Teluk Aden. Ini leverage Iran yang diremehkan. Ketika membantu Hamas melawan Israel, Houthi berhasil menenggelamkan beberapa kapal di Laut Merah dan memaksa kapal-kapal terkait Israel menempuh perjalanan lebih jauh mengelilingi Benua Afrika sehingga meningkatkan biaya transportasi. Serangan AS, Israel, dan Inggris terhadap Houthi gagal membungkam sehingga memaksa Trump membuat gencatan senjata dengan mereka. Rudal Houthi mampu menjangkau seluruh target di kawasan.
KECEROBOHAN TRUMP-NETANYAHU
Agresi AS-Israel telah menghancurkan status quo Timteng dan tatanan internasional berbasis hukum yang akan memperkecil pengaruh AS di kawasan untuk digantikan Tiongkok dan Rusia. Cita-cita lama Israel menjadi hegemon utama di kawasan ikut redup. Sebaliknya, Iran berpotensi muncul sebagai pemenang perang yang akan mengangkat pamor di tingkat regional dan internasional. Negara-negara Arab akan melakukan realignment menghadapi realitas baru.
Perang yang menyeret dunia ke dalam krisis energi ini bersumber dari ambisi besar Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu. Ambisi dan kepercayaan diri berlebihan biasanya membutakan orang dari realitas yang ingin dikuasainya. Berbasis pada laporan badan intelijen Israel (Mossad) bahwa mereka telah menyiapkan kaki tangan di Iran untuk mengambil alih rezim mullah yang rapuh. Israel dan AS hanya perlu melenyapkan para pemimpin Iran untuk memungkinkan pergantian rezim.
Informasi dangkal ini diteruskan Netanyahu kepada Trump yang, sebagaimana Netanyahu, melihat ini sebagai kesempatan emas untuk makin mengagungkan dirinya setelah berhasil menculik Presiden Nicolas Maduro yang mengubah struktur kekuasaan Venezuela. Kesediaan Iran duduk berunding dengan AS pra-perang terkait isu-isu strategis, bahkan Iran bersedia memberi konsesi signifikan terhadap AS, memperkuat keyakinan Trump bahwa musuhnya itu dalam posisi lemah.
Kendati telah berhasil melumpuhkan Hamas, pemenggalan leher Hizbullah di Libanon, dan munculnya rezim baru di Suriah yang merapat ke AS, publik Israel belum melihat tujuan perang Netanyahu di Gaza dan di Libanon telah tercapai. Padahal, pada Oktober mendatang digelar pemilu di Israel yang berpotensi melahirkan kepemimpinan baru. Maka Iran, yang ekonominya sedang terpukul hebat dan keresahan sosial meluas akibat tindakan represif rezim yang menewaskan ribuan demonstran, dijadikan target baru.
Keberhasilan melakukan regime change di Iran akan menjadikan Netanyahu sebagai king of king Israel, Israel menjadi hegemon utama di kawasan, negara-negara Arab akan bergabung ke dalam Abraham Accord, dan cita-cita Palestina memiliki negara terkubur. Terbukti kemudian, skenario ini berantakan. Agresi kedua memang berhasil membunuh pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Khamenei, puluhan petinggi militer, dan tokoh bangsa. Namun, rezim Iran tetap eksis. Malah makin kuat dan keras.
AS dan Israel tidak memahami struktur kekuasaan Iran, budaya pemujaannya pada mati syahid, kebanggaan pada identitas sebagai bangsa dengan peradaban kuno yang senantiasa resisten terhadap intervensi asing, kemampuan dan strategi militer, dukungan Rusia dan Tiongkok, dan leverage-nya di kawasan. Tahu bahwa mustahil bisa mengalahkan AS-Israel secara militer dalam perang konvensional, Iran memilih perang asimetris dengan menyerang aset militer dan sipil AS-Israel di seluruh kawasan.
Kesalahan Israel juga terlihat di Libanon. Setelah Hizbullah menarik diri dari selatan Libanon sesuai perjanjian gencatan senjata pada 2024, Israel tak mematuhi gencatan senjata. Tentara Israel (IDF) tetap bertahan di lima titik strategis di Libanon sambil melancarkan serangan ke permukiman penduduk untuk memaksa pemerintahan Presiden Joseph Aoun melucuti Hizbullah. Kendati menolak dilucuti, Hizbullah tak membalas serangan Israel yang diniatkan menjadikan Libanon selatan, basis Hizbullah, seperti Gaza.
Lagi-lagi asumsi Israel meleset. Ternyata sikap pasif Hizbullah bertujuan menipu Israel dan memberi kesempatan kepadanya melakukan konsolidasi, serta mengganti senjata yang rusak selama perang dengan Israel (8 Oktober 2023-24 November 2024). Maka, ketika Khamenei dibunuh, Hizbullah melancarkan serangan substansial ke Israel. Beberapa tank Israel dihancurkan, puluhan tentaranya tewas. Warga Israel mengungsi kembali dan upaya IDF maju ke utara malah jadi mangsa empuk Hizbullah.
LEVERAGE IRAN
Setelah agresi Israel-AS pada Juni, Iran melakukan desentralisasi militer. Unit-unit yang mandiri diberi otoritas bertindak sendiri sesuai kebutuhan berdasarkan blue print dari komando pusat. Dus, menyerang pemimpin militer tertinggi Iran tak mengubah realitas di lapangan. Dengan konfigurasi militer seperti inilah Iran melancarkan perang asimteris. Kemampuan menyerang infrastruktur militer AS di negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk – Arab Saudi, Oman, UEA, Qatar, Bahrain, dan Kuwait – plus Irak dan Yordania adalah leverage tak terduga Iran.
Sementara kekuatan Israel tersedot ke utara menghadapi Hizbullah, Iran tak hentinya membombardir target-target di berbagai kota Israel. Inilah untuk pertama kalinya sejak 1948 Israel menghadapi musuh yang serius. Kapal-kapal perang AS, bahkan kapal induk Abraham Lincoln tak luput dari target Iran.
Leverage lain Iran ialah menutup Selat Hormuz, rute satu-satunya bagi tanker internasional yang mengangkut 20% kebutuhan energi dunia. Tidak mudah membuka paksa tanpa menimbulkan bahaya yang lebih besar.
Rencana yang disusun Pentagon bagi serangan pasukan khusus ke pulau-pulau Iran di dekat Selat Hormuz dilihat pakar militer sebagai tak visible. Rakyat AS ikut memikul beban perang yang tak mereka kehendaki akibat kenaikan harga BBM. Tak mengherankan jika demonstrasi bertajuk No Kings melanda kota-kota di 50 negara bagian AS. Di sisi lain, tak ada sekutu Barat yang menyambut permintaan Trump untuk membantu AS membuka Selat Hormuz.
Tidak seperti biasanya, perang yang dilancarkan Trump tidak dibicarakan terlebih dahulu dengan sekutu -- selain tidak berbasis pada resolusi DK PBB. Lagi pula, NATO menentang agresi Rusia terhadap Ukraina, mengapa sekarang mereka harus mendukung agresi AS-Israel ketika penyelesaian diplomatik sedang mengalami kemajuan substansial? Mereka tambah kecewa setelah Trump mencabut embargo energi Rusia sebagai hukuman atas invasinya ke Ukraina yang memberdayakan Rusia kembali.
Selain peluang menang kecil, perang ini menguras sumber daya AS, menghancurkan reputasi sebagai digdaya militer terhebat di dunia, mengisolasi AS, mengikis pengaruhnya di Timteng, dan memberi keuntungan pada Tiongkok dan Rusia. Jangan heran kalau para tokoh penting kubu MAGA (Make America Great Again) berbalik menentang Trump. Dulu mereka mendukung Trump karena ia menjanjikan tak akan melancarkan perang opsional di luar negeri. Apalagi perang ini didorong oleh Israel dan lobi Yahudi di AS.
DEESKALASI
Peran Pakistan –dibantu Arab Saudi, Mesir, dan Turki–untuk melakukan deeskalasi tidak mudah. Pakistan bersama tiga rekannya itu merupakan sekutu AS. Di dalam negeri, pemerintah Pakistan menghadapi komunitas Syiah yang besar jumlahnya, nomor dua terbesar setelah di Iran. Bahkan, komunitas Sunni pun bersimpati kepada Iran. Iran pun merupakan sahabat Pakistan yang tak ingin terjadi regime change di sana. Dalam posisi ini, Pakistan tak dapat menekan Iran untuk memberi konsesi bermakna kepada AS. Di pihak lain, watak Trump yang egoistis menyulitkannya memberi konsesi yang bisa diinterpretasikan sebagai kapitulasi.
Namun, realitas domestik dan global akan mendikte kebijakan perang Trump. Dalam konteks ini, Israel tidak lagi menjadi variabel yang diperhitungkan. Belakangan ini publik Israel mulai turun ke jalan mengecam Netanyahu. Pasalnya, perang telah menghancurkan kota-kota dan infrastruktur vital, juga menewaskan tentara dan warga sipilnya, tanpa menjanjikan kemenangan, sementara ekonominya morat-marit serta sistem pertahanan udaranya kewalahan menangkis drone dan rudal Iran.
Di AS muncul kesadaran bahwa perang ini hanya untuk melayani kepentingan Israel. Padahal, Mahkamah Internasional (ICJ) dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menyatakan Israel melakukan genosida di Gaza dan ethnic cleansing di Tepi Barat. Netanyahu dan Menhan Israel Yaov Gallant ditetapkan sebagai penjahat perang dan penjahat kemanusiaan. AS terlibat dalam kejahatan ini karena memasok senjata dan memberi perlindungan diplomatik atas Israel. Dus, mendukung Israel merugikan kepentingan AS.
Di pihak lain, dukungan domestik terhadap rezim Iran kian kuat. Leverage lain yang dimiliki Iran ialah Rusia dan Tiongkok tak akan membiarkan terjadinya regime change. Tak mengherankan jika Rusia memasok intelijen, data, dan posisi militer AS di seluruh kawasan, selain memasok senjata sebelum perang. Tiongkok melakukan hal yang sama. Melihat semua variabel ini, maka tidak masuk akal bila Trump melanjutkan perang dengan biaya besar yang menggerus sumber daya sambil kehilangan kepercayaan GCC terhadap AS sebagai penjamin keamanan mereka.
Jalan terbaik yang tersedia bagi AS dan Israel untuk menyelamatkan diri dari kekalahan kolosal ialah menghentikan perang secepatnya. Peran Pakistan ialah mencari jalan untuk menyelamatkan muka Trump. Tak usah berharap banyak dari Iran karena ia menghadapi perang eksistensial. Trump harus mengakomodasi persyaratan Iran: ganti rugi, jaminan secara tegas bahwa agresi terhadap mereka tak terulang di masa depan, dan hak-hak fundamental Iran diakui. Irasionalitas dan egoisme hanya mempercepat kemerosotan AS sambil menyeret dunia ke dalam jurang kehancuran.
Diplomat PBB Mohamad Safa mengundurkan diri dan mengungkap kekhawatiran skenario penggunaan senjata nuklir terhadap Iran di tengah ketegangan global.
Presiden AS Donald Trump umumkan penarikan pasukan dari Iran dalam 2-3 pekan setelah mengeklaim misi cegah nuklir dan perubahan rezim di Teheran tercapai.
KEMUNGKINAN penarikan Iran dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) sedang dibahas di Teheran. Ini menurut laporan media Iran pada Sabtu (28/3).
PM Israel Benjamin Netanyahu tegaskan serangan ke Iran dan Libanon terus berlanjut meski ada klaim kesepakatan dari Donald Trump. Pakistan tawarkan diri jadi mediator.
FBI selidiki Joe Kent terkait dugaan kebocoran informasi rahasia. Kent sebut pembunuhan Ali Khamenei oleh AS-Israel adalah kesalahan fatal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved