Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Diplomat PBB Mohamad Safa Mundur, Bongkar Skenario Penggunaan Nuklir ke Iran

Wisnu Arto Subari
01/4/2026 20:40
Diplomat PBB Mohamad Safa Mundur, Bongkar Skenario Penggunaan Nuklir ke Iran
Mohamad Safa.(Wikimedia Commons.)

SEORANG diplomat di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mohamad Safa, secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat (27/3). Langkah ini diambil sebagai bentuk protes sekaligus upaya untuk membocorkan informasi terkait dugaan persiapan skenario penggunaan senjata nuklir terhadap Iran oleh badan internasional tersebut.

Mohamad Safa merupakan perwakilan PBB untuk Patriotic Vision Association (PVA), sebuah organisasi nonpemerintah yang memegang status konsultatif khusus dengan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (Ecosoc). Dalam pernyataannya, Safa mengeklaim bahwa sejumlah tokoh senior di PBB kini lebih melayani kepentingan lobi-lobi kuat ketimbang menjalankan misi asli organisasi tersebut.

Peringatan Kemanusiaan dari Teheran

Melalui unggahan di media sosial yang menyertakan foto ibu kota Iran, Safa mengingatkan dunia tentang dampak kemanusiaan yang mengerikan jika perang nuklir benar-benar terjadi. Ia menekankan bahwa Teheran adalah kota metropolitan dengan hampir 10 juta penduduk, bukan sekadar wilayah gurun tanpa penghuni.

"Ada keluarga, anak-anak, dan orang-orang kelas pekerja biasa dengan mimpi di sana. Anda sakit jiwa jika menginginkan perang," tegas Safa. Ia menambahkan bahwa keputusannya meninggalkan karier diplomatik bertujuan agar dirinya tidak menjadi bagian atau saksi dari kejahatan terhadap kemanusiaan tersebut.

"Bayangkan mengebom Washington, Berlin, Paris, London, atau lebih jauh lagi dengan senjata nuklir," katanya. "Saya rasa orang-orang tidak memahami betapa seriusnya situasi ini karena PBB sedang mempersiapkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran. Saya meninggalkan karier diplomatik saya untuk membocorkan informasi ini," tambahnya.

Catatan Profil: Mohamad Safa telah menjabat sebagai Direktur Eksekutif PVA sejak 2013 dan dinominasikan sebagai perwakilan tetap di PBB pada 2016, menurut data Program Lingkungan PBB Champions of the Earth.

WHO Bersiap Hadapi Skenario Terburuk

Kekhawatiran Safa sejalan dengan pernyataan pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Direktur Regional WHO, Hanan Balkhy, mengungkapkan kepada Politico bahwa pihaknya sedang mempersiapkan skenario terburuk terkait bencana nuklir jika eskalasi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus meningkat.

Balkhy menekankan bahwa insiden nuklir akan membawa konsekuensi lintas generasi yang berlangsung selama beberapa dekade. Persiapan WHO mencakup mitigasi terhadap serangan pada fasilitas nuklir hingga kemungkinan penggunaan senjata nuklir secara langsung.

Senada dengan hal tersebut, mantan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan peraih Nobel, Mohamed ElBaradei, juga memberikan peringatan keras. "Jika Anda memiliki pemimpin gila dan mereka merasa kalah, saya tidak mengesampingkan (kemungkinan penggunaan senjata nuklir)," ujarnya kepada Middle East Eye.

"Apakah saya harus sepenuhnya mengesampingkannya? Tidak. Apakah saya berdoa setiap malam agar hal itu tidak terjadi? Ya," tambahnya.

Iran Pertimbangkan Keluar dari NPT

Di sisi lain, tekanan internasional memicu perdebatan internal di Teheran. Beberapa politisi Iran mulai menyuarakan agar negara tersebut keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT). Hal ini menyusul meningkatnya serangan terhadap situs nuklir sipil mereka.

Ebrahim Rezaei, juru bicara komisi keamanan nasional parlemen Iran, menyatakan bahwa bertahan dalam NPT mungkin tidak lagi memberikan manfaat bagi keamanan nasional Iran. Sebagai informasi, Iran telah menjadi anggota NPT sejak 1970 dan secara hukum terikat untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Baca juga: Panduan Mitigasi Perang Nuklir untuk Keluarga Indonesia Bertahan Hidup

Status Perjanjian Nuklir Iran Israel
Anggota NPT Ya (Sejak 1970) Tidak
Kewajiban Hukum Terikat Verifikasi Internasional Tidak Terikat NPT

Situasi di Timur Tengah kini berada pada titik nadir. Pengunduran diri Mohamad Safa menjadi sinyal merah bagi komunitas internasional mengenai potensi bencana global yang lebih besar. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya