Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG Klinis Kasandra Putranto yang tergabung dalam Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK) membagikan tips untuk orangtua atau pengasuh dalam menciptakan interaksi hangat dengan remaja sehingga tidak mengalami kecanduan gawai.
Mulai dari menjadi contoh hingga memperbanyak kegiatan yang bersifat fisik menjadi beberapa bagian dari kiat yang dibagikan sehingga remaja dapat menikmati interaksi langsung dan tidak bergantung pada dominasi interaksi sosial yang ada di gawainya.
"Orangtua perlu pertama tentu harus menjadi contoh yang baik untuk mengurangi penggunaan gadget agar remaja mampu mendapatkan pengalaman langsung bahwa keluarga bisa menikmati waktu bersama tanpa layar. Untuk itu orangtua perlu menciptakan lingkungan yang mendukung," kata Kasandra, dikutip Jumat (3/10).
Lingkungan yang mendukung untuk interaksi hangat yang dimaksud ialah saat interaksi berlangsung, orangtua tidak memberikan tekanan bahwa anak harus bercerita tentang kehidupannya.
Justru menurutnya, orangtua harus bisa memberikan ruang untuk mendengarkan tanpa beban tuntutan jika remaja memang belum ingin berbagi
cerita.
Hal ini juga sejalan dengan panduan UNICEF yang menyebut kunci komunikasi dengan remaja adalah pendekatan empati tanpa paksaan.
Ketika anak terbuka untuk bercerita kepada orangtua atau pengasuh, pastikan orangtua memberikan perhatian penuh dengan cara mendengarkan baik itu minat maupun masalah yang dihadapi sang remaja. Dengan demikian remaja memahami bahwa pengasuhnya memiliki kepedulian terhadap dunianya.
"Berikan contoh dengan kisah diri dan pengalaman masa muda untuk menciptakan kesamaan dan membuat percakapan lebih santai," ujar Kasandra.
Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu juga mengatakan ketika komunikasi dan interaksi langsung terjadi, pastikan orangtua memberikan bahasa tubuh yang positif baik berupa kontak mata maupun anggukan, serta tanpa intervensi gadget.
Langkah ini penting agar remaja bisa lebih nyaman saat berkomunikasi langsung dan merasa setiap suara yang disampaikannya dihargai dan direspons dengan serius.
Dalam menyampaikan pertanyaan, ada baiknya orangtua bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya terbuka dan bukan tertutup misalnya seperti pertanyaan mengenai perasaan yang dialami remaja sehingga ia bisa mengekspresikan dirinya dengan lebih baik.
Lalu, saat menyampaikan respons, orang tua memberikan apresiasi, afirmasi, dan validasi terhadap emosi remaja sehingga remaja dapat merasakan pengalaman komunikasi yang nyaman, tanpa beban, serta tidak menimbulkan rasa sendirian.
Interaksi hangat ini bisa lebih efektif apabila dilakukan dengan kegiatan yang dapat dilakukan bersama oleh semua anggota keluarga misalnya ketika momen makan bersama di meja makan, atau momen mengobrol santai di ruang keluarga tanpa gadget, hingga kegiatan piknik bersama di luar rumah.
Apabila ternyata remaja telah telanjur terbiasa memiliki kebiasaan akses gadget yang melekat, disarankan orang tua membuat aturan khusus untuk penggunaan gadget. Misalnya ketika akan tidur atau makan, anak tidak diperkenankan mengakses gadget sehingga bisa fokus kepada kegiatan terkait.
Cara ini penting agar penggunaan gawai tidak menimbulkan dampak negatif berkepanjangan pada tumbuh kembang sang remaja di masa mendatang. Hal ini juga harus dibarengi dengan upaya orang tua membangun interaksi hangat dengan buah hatinya.
"Aturan khusus memang diperlukan, tetapi sebaiknya disertai dengan contoh nyata dari orang tua, komunikasi yang hangat, serta penguatan
positif ketika anak mampu melakukan kegiatan tanpa gadget," tutup Kasandra.
Sebelumnya, pada Selasa (30/9), diwartakan bahwa Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menyatakan 34% remaja kesepian karena terlalu sering mengakses gawai, sehingga salah satu solusinya yakni keluarga perlu saling ngobrol.
"Ada 68 juta anak Indonesia berumur 10-24 tahun, tetapi hampir 34% di antaranya kesepian karena hidupnya asyik dengan teknologi. Ada keluarga baru handphone, ketika anak ngobrol dengan orangtua kadang tidak didengarkan," pungkas Kasandra. (Ant/Z-1)
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan
Rangkaian acara Silatnas dirancang komprehensif, mencakup simposium, peluncuran program strategis, hingga kegiatan sosial.
Komunikasi yang aman dan terbuka diyakini mampu membentengi remaja dari risiko negatif fenomena yang tengah viral.
Dorongan remaja untuk mengikuti tren berbahaya sering kali berakar pada kebutuhan psikologis untuk diterima oleh lingkungan sosial mereka.
Prima DMI ingin memastikan bahwa remaja masjid tidak hanya hadir di mimbar dakwah.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Pemerintah mengingatkan orangtua agar tidak melepas anak-anak ke dunia maya tanpa bekal pemahaman yang cukup mengenai konten yang mereka konsumsi beserta konsekuensinya.
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Ancaman utama dari Virus Nipah terletak pada angka kematiannya yang sangat tinggi, yakni mencapai 75%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved