Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Cara Mengurangi Penggunaan Gawai pada Anak selama Libur Lebaran

Putri Rosmalia Octaviyani
18/3/2026 12:22
Cara Mengurangi Penggunaan Gawai pada Anak selama Libur Lebaran
Ilustrasi bermain bersama anak.(Dok. Freepik)

MENGURANGI penggunaan gawai pada anak memang bukan hal yang bisa dilakukan dengan instan dan mudah. Dibutuhkan komitmen orangtua untuk membuat anak memiliki kesibukan lain selain bermain gawai, khususnya di momen libur Lebaran yang panjang.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga telah memperketat aturan akses digital bagi anak di bawah 16 tahun lewat Peraturan Menteri Nomor 9 Tahun 2026. Namun, regulasi ini memerlukan dukungan penuh dari unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga.

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim atau yang akrab disapa Bunda Romi, menyatakan bahwa peran keluarga sangat krusial dalam menerapkan aktivitas yang dapat mengurangi ketergantungan gawai pada anak.

Pentingnya Kegiatan Pengganti yang Menarik

Menurut Prof. Romi, sekadar melarang atau mengambil gawai dari tangan anak tidak akan efektif. Anak justru akan merasa bingung dan frustrasi jika tidak ada aktivitas lain yang dilakukan bersama.

"Orang tua perlu menciptakan kegiatan alternatif. Jika anak hanya diminta berhenti menggunakan gawai tanpa ada aktivitas lain, anak justru akan kebingungan harus melakukan apa," ujar Romi di Jakarta.

Ide Aktivitas Pengganti Gawai di Rumah, Ide Mengisi Libur Lebaran:

  • Proyek Kreatif: Membuat karya seni atau prakarya dari bahan daur ulang.
  • Penelitian Sederhana: Mengajak anak mengamati ekosistem di halaman rumah, seperti menulis tentang jenis serangga atau tanaman.
  • Permainan Edukatif: Menyusun tebak-tebakan atau proyek kolaborasi antara kakak dan adik.
  • Eksplorasi Alam: Mengumpulkan foto atau objek alam di sekitar lingkungan tempat tinggal.

Pendampingan yang Fleksibel Namun Terprogram

Bagi orang tua yang keduanya bekerja, Prof. Romi menyarankan agar pendampingan bisa didelegasikan kepada orang yang dipercaya. Namun, orang tua tetap wajib menyusun "program harian" yang harus diikuti oleh anak dan pengasuhnya.

Ia menekankan bahwa kehadiran fisik orang tua harus dibarengi dengan keterlibatan emosional. "Jangan hanya duduk secara fisik, tetapi juga memberikan stimulasi tertentu. Itu akan jadi menantang juga untuk anak," tambahnya.

Mendukung Gerakan #SatuJamBerkualitas

Langkah ini sejalan dengan inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang mengampanyekan gerakan #SatuJamBerkualitas. Gerakan ini bertujuan menghadirkan waktu tanpa gangguan digital untuk membangun keterikatan batin antara orang tua dan anak.

Pada akhirnya, penggunaan gawai untuk edukasi tetap diperbolehkan selama dalam pengawasan ketat. Namun, stimulasi langsung tetap menjadi kunci utama perkembangan anak usia dini yang tidak bisa digantikan oleh interaksi virtual.

(Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik