Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH anak tampak kerap memegang alat kelaminnya sehingga tak jarang orangtua merasa khawatir melihat kebiasaan anak yang sedang senang memegang alat genitalnya, yakni penis atau vaginanya. Melansir dari platform parenting dan perkembangan anak, Instagram @psikologianak.ig, kondisi anak yang sedang senang memegang penis atau vaginanya merupakan hal yang wajar terjadi dan artinya anak sudah memasuki fase phallic.
Fase phallic ialah tahapan yang akan dilalui anak pada usia 3-5 tahun. Hal ini sesuai dengan perkembangan psikoseksual anak, di mana anak mulai merasakan sensasi seksual di kelaminnya pertama kali.
Perkembangan psikoseksual terdiri dari beberapa tahapan, sebagai berikut.
Pada usia ini, anak memasuki tahap fase oral, di mana anak sudah mulai merasakan sensasi seksual di area mulut.
Selanjutnya anak memasuki fase anal yaitu fase anak-anak mulai merasakan sensasi seksual di duburnya.
Pada usia ini, anak akan memasuki fase phallic, di mana anak mulai merasakan sensasi seksual di area kelamin.
Selanjutnya, anak-anak memasuki fase laten. Pada fase ini, anak tidak fokus dengan sensasi seksualnya, tapi lebih banyak pada tumbuh kembang fisik dan kognitif, biasanya dirasakan anak yang sudah masuk sekolah.
Fase genital yaitu tahapan akhir di mana anak sudah memasuki tahapan kehidupan seksual sesungguhnya yang ditandai dengan pubertas.
Saat melihat anak memegang alat kelaminnya, orangtua tidak perlu khawatir secara berlebihan, apalagi sampai memarahi anak.
Apabila dimarahi, justru akan terekam dalam memori anak sebagai kejadian yang baginya memegang kelamin/beraktivitas seksual merupakan hal terlarang. Hal ini justru berpotensi memunculkan persepsi buruk terkait seksual di masa depan anak.
Fase phallic wajar akan dilalui setiap anak laki-laki dan perempuan. Biasanya, fase ini berhenti di usia sekitar 5/6 tahun. Oleh karena itu, saat anak sedang melalui fase ini, biarkan saja sejauh tidak mengganggu lingkungan sekitar. Apabila sudah terlalu sering, orangtua bisa mengalihkan ke aktivitas positif yang menyenangkan, seperti bermain.
(H-3)
RESOLUSI tahun baru sebaiknya dimulai dari target yang masuk akal agar proses menjalaninya terasa lebih ringan dan tidak berubah menjadi tekanan atau hukuman atas kekurangan pribadi.
Remaja saat ini lebih membutuhkan dukungan emosional dan pendampingan untuk menavigasi kompleksitas ruang siber.
DPR mendorong adanya keterlibatan ahli dan profesional dalam menanggulangi kasus bullying agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.
Perilaku perundungan atau bullying tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari proses belajar anak terhadap lingkungan terdekatnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Semakin remaja mengenali emosi dan nilai-nilainya, semakin mudah ia menentukan langkah dan pilihan hidup yang sesuai.
Psikolog sekaligus Founder dan Direktur Personal Growth Counseling & Development Center, Ratih Ibrahim menanggapi peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved