Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Membangun Kualitas Kebersamaan Orangtua dan Anak: Tips dari Psikolog UI

Putri Rosmalia Octaviyani
18/3/2026 12:09
Membangun Kualitas Kebersamaan Orangtua dan Anak: Tips dari Psikolog UI
Ilustrasi kebersamaan orangtua dan anak.(Dok. Freepik)

KESIBUKAN pekerjaan sering kali menjadi penghalang utama bagi orangtua dalam menghabiskan waktu bersama buah hati. Namun, psikolog anak dan keluarga lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Sani B. Hermawan, P.Si, mengingatkan bahwa kunci kedekatan bukanlah pada durasi, melainkan pada kualitas interaksi yang tercipta.

Menurut Sani, kebersamaan orangtua dan anak tidak harus berlangsung lama, terutama bagi mereka yang memiliki jadwal kerja padat. Hal yang paling krusial adalah adanya interaksi aktif selama waktu yang tersedia tersebut.

Kualitas di Atas Kuantitas: Cukup 15 Menit Sehari

Banyak orangtua saat ini merasa kesulitan untuk meluangkan waktu hingga satu jam setiap harinya. Sani menjelaskan bahwa sesi singkat selama 15 menit yang dilakukan secara berkualitas sudah cukup untuk memberikan dampak positif bagi perkembangan anak.

“Dengan 15 menit saja bersama berkualitas, bisa berbagi cerita, ketawa, memeluk, itu lebih bagus kedekatannya atau manfaat emotional attachment (keterikatan emosional)-nya,” ujar Sani dalam sebuah sesi wawancara di Jakarta.

Kualitas kebersamaan ini bisa dibangun oleh ayah maupun ibu, tergantung siapa yang memiliki kesempatan dan waktu luang. Hal ini menjadi solusi bagi keluarga modern di mana kedua orangtua sering kali harus bekerja di luar rumah.

Tips Parenting Membangun Komunikasi Dua Arah yang Sehat

Membangun komunikasi yang efektif dengan anak sebaiknya dimulai sejak usia dini agar kebiasaan tersebut terbawa hingga mereka remaja dan dewasa. Berikut adalah beberapa strategi parenting yang disarankan oleh Sani B. Hermawan:

  • Dialog Tanpa Interogasi: Ajak anak berdialog dengan cara bertanya yang hangat, hindari nada bicara yang terkesan mengaudit atau menyudutkan.
  • Berikan Ruang Ekspresi: Biarkan anak mengutarakan pendapat dan perasaannya tanpa perlu takut dihakimi atau diberi label (labeling) tertentu.
  • Gunakan Media yang Disukai Anak: Penggunaan gawai (gadget) tidak selamanya buruk. Bermain gim bersama atau menonton film bisa menjadi sarana diskusi jika orangtua aktif bertanya tentang jalan cerita atau strategi permainan tersebut.
  • Aktivitas Tanpa Gawai: Untuk variasi, orangtua bisa mengajak anak bermain permainan papan seperti ular tangga, catur, atau aktivitas fisik seperti petak umpet untuk membangun kedekatan emosional yang lebih nyata.

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan. Jika komunikasi belum terbangun sejak kecil, mulailah secara perlahan dengan niat baik untuk memperbaiki kualitas hubungan dua arah.

Mendukung Gerakan #SatuJamBerkualitas

Pentingnya kehadiran orangtua secara utuh ini juga sejalan dengan inisiatif dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Melalui kampanye #SatuJamBerkualitas, pemerintah mengajak keluarga Indonesia untuk menghadirkan waktu khusus tanpa gangguan gawai guna membentengi anak-anak dari dampak negatif penggunaan media sosial yang berlebihan.

Dengan membangun fondasi komunikasi yang kuat, anak akan merasa lebih aman dan nyaman untuk terbuka kepada orangtua, yang pada akhirnya akan mendukung kesehatan mental dan tumbuh kembang mereka secara optimal di masa depan.

(Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik