Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, gegar otak identik dengan cedera atlet remaja atau dewasa. Namun, riset terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics memberikan peringatan penting bagi orangtua dengan anak usia 6 bulan hingga 6 tahun. Penelitian ini mengungkap pemulihan cedera kepala pada balita tidak sesederhana yang dibayangkan.
Studi tersebut menemukan meskipun sebagian besar anak pulih dalam hitungan minggu, sekitar 28% balita tetap merasakan gejala sebulan setelah cedera. Bahkan, 16% di antaranya masih menunjukkan gejala hingga satu tahun kemudian.
Dr. Sean Rose, ahli neurologi pediatrik dan penulis utama studi ini, menekankan bahwa penelitian terhadap balita sangat minim dibandingkan dengan atlet. Padahal, setiap tahunnya hampir 350.000 anak usia 0-6 tahun di AS masuk ke IGD akibat cedera kepala.
Kesulitan utama dalam menangani balita adalah keterbatasan komunikasi. Gregory Vitale, PsyD, neuropsikolog pediatrik, menjelaskan anak kecil sering kali tidak bisa menjelaskan apa yang mereka rasakan.
"Makalah ini menunjukkan anak-anak prasekolah [seperti anak yang lebih tua] memiliki gejala setelah cedera, dan mereka akan mendapat manfaat dari rekomendasi pemulihan yang disesuaikan," ujar Dr. Vitale.
Menariknya, kehilangan kesadaran atau hasil pemindaian CT scan ternyata tidak bisa memprediksi apakah gejala akan berlangsung lama. Indikator paling akurat justru adalah tingkat keparahan gejala yang dilaporkan orang tua dalam 72 jam pertama setelah kejadian.
Orang tua diminta tidak menunggu anak mengeluh sakit kepala. Dr. Jacob Snow, dokter IGD pediatrik, menjelaskan bahwa "tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata" pada usia ini. Segera bawa anak ke IGD jika muncul gejala berikut:
Setelah cedera, anak membutuhkan istirahat dan lingkungan yang minim stimulasi selama 24 hingga 48 jam pertama. Namun, Dr. Vitale memperingatkan agar tidak membatasi aktivitas anak terlalu lama.
Jika anak dikurung di lingkungan tanpa stimulasi selama berminggu-minggu, hal itu justru bisa merugikan secara emosional dan menurunkan toleransi mereka terhadap aktivitas normal (deconditioning). Setelah dua hari istirahat total, anak sebaiknya mulai diajak beraktivitas secara bertahap sesuai kemampuan mereka.
Meskipun tidak semua kecelakaan bisa dihindari, penggunaan helm saat bersepeda atau bermain skuter tetap menjadi langkah pencegahan paling efektif. Dr. Rose mengingatkan orang tua bahwa jika gejala menetap, bantuan medis seperti terapi fisik atau konseling perubahan perilaku sangat tersedia untuk membantu pemulihan anak. (Parents/Z-2)
Secara medis, puasa yang dilakukan dengan pengawasan orang tua dapat membantu anak belajar pola makan teratur dan mengurangi kebiasaan jajan berlebihan.
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh penyakit campak dan cacar air pada anak, terutama saat musim hujan.
MUSIM hujan meningkatkan risiko berbagai penyakit infeksi, mulai dari flu hingga leptospirosis, dengan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Peneliti UCSF mengungkap stres pada anak akibat bullying hingga kemiskinan berdampak permanen pada otak.
KESEHATAN anak menjadi perhatian utama bagi orang tua, terutama saat memasuki musim hujan yang membawa perubahan cuaca ekstrem. Di periode ini, anak-anak sangat rentan mengalami alergi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved