Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Waspada Gejala Gegar Otak pada Balita Bisa Bertahan Hingga Setahun

Thalatie K Yani
10/2/2026 11:13
Waspada Gejala Gegar Otak pada Balita Bisa Bertahan Hingga Setahun
Ilustrasi(freepik)

SELAMA ini, gegar otak identik dengan cedera atlet remaja atau dewasa. Namun, riset terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics memberikan peringatan penting bagi orangtua dengan anak usia 6 bulan hingga 6 tahun. Penelitian ini mengungkap pemulihan cedera kepala pada balita tidak sesederhana yang dibayangkan.

Studi tersebut menemukan meskipun sebagian besar anak pulih dalam hitungan minggu, sekitar 28% balita tetap merasakan gejala sebulan setelah cedera. Bahkan, 16% di antaranya masih menunjukkan gejala hingga satu tahun kemudian.

Tantangan Diagnosis pada Anak Usia Dini

Dr. Sean Rose, ahli neurologi pediatrik dan penulis utama studi ini, menekankan bahwa penelitian terhadap balita sangat minim dibandingkan dengan atlet. Padahal, setiap tahunnya hampir 350.000 anak usia 0-6 tahun di AS masuk ke IGD akibat cedera kepala.

Kesulitan utama dalam menangani balita adalah keterbatasan komunikasi. Gregory Vitale, PsyD, neuropsikolog pediatrik, menjelaskan anak kecil sering kali tidak bisa menjelaskan apa yang mereka rasakan.

"Makalah ini menunjukkan anak-anak prasekolah [seperti anak yang lebih tua] memiliki gejala setelah cedera, dan mereka akan mendapat manfaat dari rekomendasi pemulihan yang disesuaikan," ujar Dr. Vitale.

Menariknya, kehilangan kesadaran atau hasil pemindaian CT scan ternyata tidak bisa memprediksi apakah gejala akan berlangsung lama. Indikator paling akurat justru adalah tingkat keparahan gejala yang dilaporkan orang tua dalam 72 jam pertama setelah kejadian.

Tanda-Tanda yang Harus Diwaspadai

Orang tua diminta tidak menunggu anak mengeluh sakit kepala. Dr. Jacob Snow, dokter IGD pediatrik, menjelaskan bahwa "tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata" pada usia ini. Segera bawa anak ke IGD jika muncul gejala berikut:

  • Pingsan atau tidak bertindak normal.
  • Bingung, gelisah, atau muntah terus-menerus.
  • Menutup mata/telinga (sensitif terhadap cahaya dan suara).
  • Menjadi sangat pendiam, mengantuk, atau sangat rewel (sulit ditenangkan).

Pemulihan: Istirahat vs. Deconditioning

Setelah cedera, anak membutuhkan istirahat dan lingkungan yang minim stimulasi selama 24 hingga 48 jam pertama. Namun, Dr. Vitale memperingatkan agar tidak membatasi aktivitas anak terlalu lama.

Jika anak dikurung di lingkungan tanpa stimulasi selama berminggu-minggu, hal itu justru bisa merugikan secara emosional dan menurunkan toleransi mereka terhadap aktivitas normal (deconditioning). Setelah dua hari istirahat total, anak sebaiknya mulai diajak beraktivitas secara bertahap sesuai kemampuan mereka.

Pencegahan Adalah Kunci

Meskipun tidak semua kecelakaan bisa dihindari, penggunaan helm saat bersepeda atau bermain skuter tetap menjadi langkah pencegahan paling efektif. Dr. Rose mengingatkan orang tua bahwa jika gejala menetap, bantuan medis seperti terapi fisik atau konseling perubahan perilaku sangat tersedia untuk membantu pemulihan anak. (Parents/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya