Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, gegar otak identik dengan cedera atlet remaja atau dewasa. Namun, riset terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics memberikan peringatan penting bagi orangtua dengan anak usia 6 bulan hingga 6 tahun. Penelitian ini mengungkap pemulihan cedera kepala pada balita tidak sesederhana yang dibayangkan.
Studi tersebut menemukan meskipun sebagian besar anak pulih dalam hitungan minggu, sekitar 28% balita tetap merasakan gejala sebulan setelah cedera. Bahkan, 16% di antaranya masih menunjukkan gejala hingga satu tahun kemudian.
Dr. Sean Rose, ahli neurologi pediatrik dan penulis utama studi ini, menekankan bahwa penelitian terhadap balita sangat minim dibandingkan dengan atlet. Padahal, setiap tahunnya hampir 350.000 anak usia 0-6 tahun di AS masuk ke IGD akibat cedera kepala.
Kesulitan utama dalam menangani balita adalah keterbatasan komunikasi. Gregory Vitale, PsyD, neuropsikolog pediatrik, menjelaskan anak kecil sering kali tidak bisa menjelaskan apa yang mereka rasakan.
"Makalah ini menunjukkan anak-anak prasekolah [seperti anak yang lebih tua] memiliki gejala setelah cedera, dan mereka akan mendapat manfaat dari rekomendasi pemulihan yang disesuaikan," ujar Dr. Vitale.
Menariknya, kehilangan kesadaran atau hasil pemindaian CT scan ternyata tidak bisa memprediksi apakah gejala akan berlangsung lama. Indikator paling akurat justru adalah tingkat keparahan gejala yang dilaporkan orang tua dalam 72 jam pertama setelah kejadian.
Orang tua diminta tidak menunggu anak mengeluh sakit kepala. Dr. Jacob Snow, dokter IGD pediatrik, menjelaskan bahwa "tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata" pada usia ini. Segera bawa anak ke IGD jika muncul gejala berikut:
Setelah cedera, anak membutuhkan istirahat dan lingkungan yang minim stimulasi selama 24 hingga 48 jam pertama. Namun, Dr. Vitale memperingatkan agar tidak membatasi aktivitas anak terlalu lama.
Jika anak dikurung di lingkungan tanpa stimulasi selama berminggu-minggu, hal itu justru bisa merugikan secara emosional dan menurunkan toleransi mereka terhadap aktivitas normal (deconditioning). Setelah dua hari istirahat total, anak sebaiknya mulai diajak beraktivitas secara bertahap sesuai kemampuan mereka.
Meskipun tidak semua kecelakaan bisa dihindari, penggunaan helm saat bersepeda atau bermain skuter tetap menjadi langkah pencegahan paling efektif. Dr. Rose mengingatkan orang tua bahwa jika gejala menetap, bantuan medis seperti terapi fisik atau konseling perubahan perilaku sangat tersedia untuk membantu pemulihan anak. (Parents/Z-2)
Studi terbaru mengungkap bayi lahir tahun 2003-2006 terpapar lebih banyak zat kimia PFAS daripada dugaan semula.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama organisasi profesi dan akademisi menyoroti mutasi dan pemberhentian empat dokter spesialis anak yang dinilai tidak berdasar.
MULAI 2027 atau tahun depan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan memberikan vaksin human papillomavirus atau vaksin HPV untuk anak laki-laki usia 11 tahun.
Peneliti ungkap tanaman pangan seperti pisang dan kakao di wilayah bekas bencana tambang Brasil serap logam berat beracun. Anak-anak di bawah enam tahun paling berisiko.
Studi JAMA Pediatrics mengungkap 1 dari 20 anak berisiko alergi makanan pada usia 6 tahun. Faktor genetik, lingkungan, hingga pola makan awal jadi pemicu utama.
BPOM perketat pengawasan Program Makan Bergizi Gratis karena risiko keamanan pangan. Sepanjang 2024 tercatat 138 KLB keracunan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved