Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH studi global terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Pediatrics mengungkapkan temuan mengkhawatirkan mengenai kesehatan anak. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 1 dari 20 anak berpotensi mengembangkan alergi makanan pada saat mereka mencapai usia enam tahun.
Melansir ABC News, Rabu (11/2), analisis besar ini merangkum data dari 190 studi yang melibatkan lebih dari 2,7 juta anak di 40 negara. Para peneliti berhasil mengidentifikasi berbagai faktor risiko, baik mayor maupun minor, yang memicu munculnya alergi pada anak-anak.
Penelitian tersebut menyoroti bahwa alergi makanan tidak muncul begitu saja, melainkan dipicu oleh kombinasi kompleks. Beberapa faktor risiko utama yang diidentifikasi meliputi:
Riwayat kondisi alergi dini seperti asma dan eksim.
Penggunaan antibiotik pada bulan pertama kehidupan.
Riwayat alergi makanan pada orang tua.
Keterlambatan dalam memperkenalkan makanan pemicu alergi seperti telur, ikan, buah-buahan, dan kacang tanah.
Sementara itu, faktor risiko minor mencakup jenis kelamin laki-laki, kelahiran melalui operasi caesar, status sebagai anak sulung, hingga perbedaan genetik tertentu yang terkait dengan pelindung kulit (skin-barrier).
Koresponden medis utama ABC News, Dr. Tara Narula, menekankan bahwa alergi makanan bersifat multifaktorial. "Ini bukan hanya masalah genetik. Ini adalah perpaduan antara genetika, lingkungan, mikrobioma, dan kemungkinan kesehatan kulit," jelasnya.
Data dari StatPearls (National Library of Medicine) menunjukkan bahwa jenis makanan yang paling sering memicu alergi pada bayi dan anak-anak adalah susu, telur, kacang tanah, dan makanan laut (shellfish).
Salah satu poin penting yang ditekankan oleh para ahli dalam diskusi ini adalah pentingnya pencegahan. Strategi yang sangat dianjurkan adalah pengenalan dini makanan penyebab alergi (allergenic foods).
"Memperkenalkan makanan tersebut saat anak mulai mengonsumsi makanan padat, yakni sekitar usia 4 hingga 6 bulan, menjadi sangat penting untuk mencegah perkembangan alergi di masa depan," tambah Dr. Narula.
Meski demikian, peneliti memberikan catatan bahwa studi ini menunjukkan asosiasi faktor risiko dan bukan hubungan sebab-akibat langsung. Selain itu, karena mayoritas data berasal dari negara berpenghasilan tinggi, generalisasi hasil studi ini mungkin memiliki keterbatasan untuk wilayah lain. (B-3)
Terapi genetik zorevunersen menunjukkan hasil luar biasa bagi anak dengan epilepsi langka Dravet Syndrome. Kejang berkurang drastis dan kualitas hidup meningkat.
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Studi terbaru mengungkap bayi lahir tahun 2003-2006 terpapar lebih banyak zat kimia PFAS daripada dugaan semula.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama organisasi profesi dan akademisi menyoroti mutasi dan pemberhentian empat dokter spesialis anak yang dinilai tidak berdasar.
MULAI 2027 atau tahun depan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan memberikan vaksin human papillomavirus atau vaksin HPV untuk anak laki-laki usia 11 tahun.
Peneliti ungkap tanaman pangan seperti pisang dan kakao di wilayah bekas bencana tambang Brasil serap logam berat beracun. Anak-anak di bawah enam tahun paling berisiko.
Frustrasi mengajar anak ikat tali sepatu? Coba metode "Telinga Kelinci" dan trik viral dari bocah 5 tahun yang terbukti efektif untuk anak usia 4 tahun ke atas.
Sering dilarang menggendong bayi karena takut "manja"? Penelitian terbaru justru mengungkap sentuhan ibu sangat krusial bagi DNA dan perkembangan otak bayi.
Tren orangtua memberikan uang saku untuk kegiatan self-care seperti membaca dan olahraga mulai meningkat. Pakar peringatkan risiko hilangnya motivasi intrinsik anak.
Ramai Bridgerton Season 4 di Netflix, orang tua perlu waspada terhadap konten eksplisit. Simak saran psikolog dan tips mendampingi remaja saat menonton.
Studi terbaru ungkap hubungan unik antara ritme musik dan kemampuan bahasa bayi. Simak mengapa aktivitas musik sederhana di rumah sangat penting bagi otak si kecil.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved