Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
KONSEP "tugas rumah tangga" atau chores dalam keluarga kini mengalami pergeseran makna yang cukup signifikan. Jika dulu anak-anak hanya mendapatkan uang saku tambahan setelah merapikan tempat tidur atau mencuci piring, kini daftar tugas tersebut mulai merambah ke ranah perawatan diri (self-care) dan pengembangan diri.
Data terbaru dari Greenlight, aplikasi keuangan anak, menunjukkan fenomena menarik sepanjang tahun 2025. Dari 73 juta tugas yang diselesaikan anak-anak, membaca buku menjadi aktivitas self-care yang paling umum, menyumbang sekitar 7% atau sekitar 4,9 juta tugas. Selain itu, sekitar 40.000 anak tercatat menyelesaikan tugas yang berkaitan dengan olahraga, latihan musik, hingga belajar bahasa demi mendapatkan upah.
Fenomena ini selaras dengan meningkatnya jumlah uang saku di Amerika Serikat, di mana rata-rata bulanan kini mencapai US$52 (sekitar Rp800 ribuan). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan generasi orangtua mereka dahulu setelah disesuaikan dengan inflasi. Namun, di balik upaya memupuk otonomi anak ini, para pakar psikologi mulai menyuarakan kekhawatiran.
Psikolog berlisensi Anne Josephson, PsyD, MSEd, memperingatkan membayar anak untuk tugas perawatan diri dapat memicu kebingungan. Hal ini memberikan penguatan eksternal pada aktivitas yang seharusnya tumbuh dari motivasi intrinsik (dalam diri).
"Saat seorang anak dibayar untuk membaca, mereka mungkin akan membatasi aktivitas tersebut dan mengasosiasikannya dengan menghasilkan uang, alih-alih menikmati kegiatan membaca itu sendiri," jelas Josephson.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Emily Bly, CEO Psychology Partners Group, menilai langkah memonetisasi kebiasaan baik seperti meditasi atau menyikat gigi bisa mengirimkan pesan yang salah. Ia khawatir hal ini membuat anak merasa bahwa meluangkan waktu untuk pikiran dan perasaan adalah sebuah beban atau tugas yang hanya dilakukan jika ada permintaan (dan imbalan).
"Kekhawatiran saya sebagai orang tua adalah bahwa dengan memonetisasi sesuatu seperti kesadaran penuh (mindfulness) dan meditasi, kita secara efektif memberi tahu anak-anak bahwa sendirian dengan pikiran dan perasaan Anda adalah sebuah tugas," ungkap Dr. Bly.
Psikolog klinis Emma Basch, PsyD, menekankan mengaitkan perawatan diri dengan uang saku dapat mengaburkan konsep harga diri. Anak-anak perlu memahami merawat diri adalah bentuk rasa hormat kepada diri sendiri, bukan pekerjaan yang akan dibayar siapa pun di masa depan.
"Ini menurunkan motivasi intrinsik untuk menyelesaikan tugas dan dapat mengirimkan pesan bahwa berpartisipasi dalam tugas rumah tangga adalah sebuah pekerjaan, bukan tanggung jawab keluarga bersama," tegas Basch.
Sebagai alternatif, para pakar menyarankan orangtua untuk tetap memberikan uang saku mingguan sebagai sarana belajar finansial, namun tanpa mengaitkannya dengan tugas self-care. Penguatan positif tetap bisa diberikan melalui pujian spesifik, hak istimewa (seperti memilih film untuk ditonton), atau sistem poin yang dapat ditukar dengan hadiah kecil, guna menjaga agar motivasi alami anak tetap tumbuh tanpa harus selalu diukur dengan uang tunai. (Parents/Z-2)
Frustrasi mengajar anak ikat tali sepatu? Coba metode "Telinga Kelinci" dan trik viral dari bocah 5 tahun yang terbukti efektif untuk anak usia 4 tahun ke atas.
Sering dilarang menggendong bayi karena takut "manja"? Penelitian terbaru justru mengungkap sentuhan ibu sangat krusial bagi DNA dan perkembangan otak bayi.
Ramai Bridgerton Season 4 di Netflix, orang tua perlu waspada terhadap konten eksplisit. Simak saran psikolog dan tips mendampingi remaja saat menonton.
Studi terbaru ungkap hubungan unik antara ritme musik dan kemampuan bahasa bayi. Simak mengapa aktivitas musik sederhana di rumah sangat penting bagi otak si kecil.
Riset mengungkap 17% orangtua yakin anaknya bakal jadi atlet pro. Padahal, statistik berkata lain.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved