Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
MOMEN hari pertama sekolah biasanya diabadikan dengan foto anak memegang papan tulis berisi cita-cita. "Kalau sudah besar, aku ingin jadi atlet profesional," tulis mereka. Meski terlihat menggemaskan, ambisi ini bisa menjadi pedang bermata dua jika orang tua tidak menyikapinya dengan bijak.
Dua studi terbaru dari Talker Research dan kolaborasi antara University of Florida serta The Ohio State University menyoroti ekspektasi orangtua dalam olahraga remaja. Ditemukan orangtua yang anaknya menuliskan "atlet pro" di papan tulis tersebut cenderung sangat percaya bahwa impian itu pasti menjadi kenyataan. Namun, statistik menunjukkan realitas yang jauh berbeda.
Budaya kita mencatat statistik yang konsisten selama 20 tahun terakhir, 70% anak berhenti bermain olahraga pada usia 13 tahun. Alasan utamanya sederhana: olahraga tersebut tidak lagi terasa menyenangkan.
Bagi mereka yang terus bertahan hingga tingkat sekolah menengah, peluangnya tetaplah kecil:
Secara statistik, jika Anda mengumpulkan 6.667 anak sekolah dasar di satu lapangan, kemungkinan besar hanya akan ada satu orang yang menjadi atlet profesional di masa depan.
Masalah muncul ketika orangtua merasa anaknya "ditakdirkan" menjadi bintang. Sekitar 17% orangtua yang disurvei meyakini hal ini. Ketika label "atlet pro" melekat terlalu kuat, identitas anak menjadi terikat pada satu aktivitas saja.
"Kita harus memperlakukan masa sekolah dasar seperti prasmanan, biarkan anak mencoba segalanya," saran seorang direktur atletik senior. Tanpa ruang eksplorasi, minat anak yang secara alami berubah seiring usia akan terhambat ekspektasi orangtua yang kaku.
Mendukung mimpi bukan berarti memberi janji palsu, melainkan memfasilitasi perjalanan anak dengan mata terbuka. Berikut tiga tips untuk orang tua:
Validasi kerja keras mereka tanpa memprediksi masa depan secara pasti. Gunakan kalimat "Ibu senang kamu peduli dengan hobi ini" daripada "Kamu pasti jadi pemain pro." Pergeseran kata ini menciptakan ruang emosional yang aman bagi anak.
Banyak orangtua takut anaknya tertinggal jika tidak mulai serius sejak dini. Namun, studi terhadap 30.000 atlet elit menunjukkan hanya 10% dari mereka yang menjadi bintang saat masih anak-anak.
"Jika seorang atlet memang ditakdirkan mencapai level itu, mereka akan sampai di sana. Kita tidak perlu 'memanufakturnya' sejak sekolah dasar," ujar Stacey Nuveman-Deniz, pelatih kepala San Diego State.
Pastikan ini adalah mimpi sang anak, bukan mimpi orangtua yang diproyeksikan. Peran orangtua adalah memfasilitasi dan menawarkan peluang, namun keputusan akhir tetap di tangan anak. Biarkan mereka belajar dari kegagalan dalam lingkungan yang aman.
Pada akhirnya, nilai sejati dari olahraga remaja bukanlah seberapa banyak uang yang dihasilkan atau seberapa jauh mereka melangkah, melainkan karakter dan pelajaran hidup yang mereka petik selama proses tersebut. (Parents/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved