Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Memulihkan Kepercayaan Pelaku Pasar

Ryan Kiryanto Ekonom senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia
02/2/2026 05:00
Memulihkan Kepercayaan Pelaku Pasar
(MI/Seno)

PERKEMBANGAN pasar keuangan Indonesia, khususnya pasar modal, akhir-akhir ini sedang dihadapkan pada turbulensi. Di tengah hiruk pikuk merosotnya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), tiba-tiba pelaku bursa dikejutkan pengumuman pengunduran diri Direktur Utama BEI pada Jumat (30/1) pagi, sebagai bentuk tanggung jawab atas gejolak di pasar modal yang terjadi dalam dua hari terakhir.

Pernyataan tersebut disampaikan secara resmi tanpa sesi tanya jawab dalam kesempatan jumpa pers singkat di Jakarta. Dengan keputusan tersebut, ia berharap yang terbaik buat pasar modal Indonesia. Pertimbangannya ialah menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar. Dipastikan pula, seluruh proses administrasi dan dokumentasi akan berjalan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.

Dalam dua hari berturut-turut, IHSG mengalami guncangan hebat yang memaksa otoritas bursa (BEI) menekan tombol darurat berupa trading halt. Terpantau investor asing melanjutkan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp4,44 triliun, seiring dengan kejatuhan IHSG, Kamis (29/1), sebanyak 88,36 poin (1,06%) menjadi 8.232. Dengan demikian, total net sell dalam dua hari telah mencapai Rp10,61 triliun.

Perdagangan saham intraday sesi I sempat terkena trading halt selama 30 menit setelah IHSG terjun 8% hanya dalam 26 menit transaksi. Bahkan, IHSG sempat anjlok 839 poin atau lebih dari 10% menjadi 7.481. IHSG bergerak fluktuatif dengan rentang pergerakan 7.481-8.320 dengan nilai transaksi Rp64,17 triliun.

Penurunan IHSG hari itu dipicu kejatuhan hampir seluruh sektor saham, kecuali saham sektor transportasi yang naik 0,76%. Penurunan paling dalam melanda saham sektor konsumer primer, kesehatan, properti, hingga energi.

Penurunan indeks yang sempat menyentuh level 10% dalam satu sesi bukan sekadar fluktuasi teknis, melainkan juga sinyal peringatan dini atas defisit kepercayaan investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Tanah Air. Pemicu utamanya tak lain keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk membekukan sementara proses rebalancing indeks saham Indonesia.

 

KARTU KUNING

Ibarat permainan sepak bola, langkah MSCI ini merupakan 'kartu kuning' bagi otoritas. Mereka melihat adanya masalah mendasar terkait dengan transparansi, tingginya konsentrasi kepemilikan, serta indikasi perdagangan terkoordinasi yang tidak sehat. Tata kelola pengambilan keputusan perusahaan pelat merah (BUMN) terbuka yang terpusat di satu lembaga pun menjadi perhatian investor global.

Langkah tersebut tentu mengejutkan pemegang saham (investor) publik, khususnya investor asing, lantaran tidak dikomunikasikan sebelumnya oleh eksekutif dari perseroan. Cara seperti itu dikesankan mengabaikan kepentingan investor minoritas yang secara regulasi kepentingan mereka seharusnya juga terlindungi.

Catatan MSCI memberikan dorongan kepada otoritas bursa untuk melakukan perbaikan nyata hingga Mei 2026 agar Indonesia terhindar dari potensi turun kasta dari emerging market menjadi frontier market. Jika sampai turun kelas ke frontier market, akan ada potensi eksodus modal asing senilai US$13 miliar. Perkiraan itu bukan ilusi prediktif, misalnya Goldman Sachs, melainkan kenyataan pahit yang bisa melemahkan nilai tukar rupiah dan stabilitas ekonomi nasional.

Oleh karena itu, komitmen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan reformasi total di bursa saham domestik merupakan sebuah keharusan. Rencana penerapan aturan free float minimum 15%, dari sebelumnya 7,5%, serta redefinisi saham publik yang lebih ketat merupakan langkah yang tepat sasaran.

Maklum, selama ini kategori free float kerap kali dianggap semu karena masih mencakup saham pra-initial public offering (IPO) yang dimiliki pihak terafiliasi. Itulah salah satu hal yang disorot MSCI sebagai ketidakpatuhan terhadap praktik yang berlaku di bursa global (global best practice). Untuk diketahui, free float saham merupakan peraturan terkait dengan batas jumlah saham suatu perusahaan terbuka (emiten) yang tersedia untuk diperdagangkan secara bebas kepada publik.

Reformasi pasar modal domestik tidak boleh hanya sampai pada urusan administratif. Dibutuhkan juga pemulihan integritas bursa, likuiditas yang memadai dan terdistribusi secara luas, dan kepatuhan terhadap penerapan regulasi. Free float yang dinilai terlalu kecil harus diperbesar agar tidak terjadi eksklusivitas pada segelintir pengendali emiten korporasi. Bursa yang sehat ialah pasar yang dikelola dengan basis prinsip good corporate governance (GCG), inklusif, dan dapat diprediksi.

Target IHSG di level 10 ribu pada akhir 2026 berpotensi terwujud jika otoritas mampu menuntaskan pekerjaan rumah dari MSCI sebelum tenggat Mei mendatang. Itu ujian kelembagaan bagi otoritas untuk mengubah gejolak tersebut menjadi fondasi baru yang lebih kuat bagi pasar modal yang lebih kredibel, resilien, dan berkelanjutan sehingga BEI tetap masuk radar investor global.

 

PEKERJAAN RUMAH LANJUTAN

Pada saat bursa terus bergejolak (30/1), pelaku pasar dikejutkan dengan pengumuman dari OJK, yang menyampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK), dan Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (DKTK) telah menyampaikan pengunduran diri dari jabatan mereka.

Pengunduran diri tersebut telah disampaikan secara resmi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan akan diproses lebih lanjut sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK sebagaimana telah diperkuat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

Pengunduran diri petinggi OJK tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung terciptanya langkah pemulihan yang diperlukan. OJK menegaskan proses pengunduran diri tersebut tidak memengaruhi pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan OJK dalam mengatur, mengawasi, serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan.

Pada saat kabar pengunduran diri beberapa petinggi OJK sedang menjadi perbincangan publik, masih pada hari yang sama, tak berapa lama kemudian OJK kembali merilis pengumuman bahwa Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK menyatakan pengunduran diri dari jabatannya.

Karena itu, pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK untuk sementara waktu akan dijalankan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan tata kelola yang berlaku guna memastikan keberlangsungan kebijakan, pengawasan, dan pelayanan kepada masyarakat serta pelaku industri jasa keuangan.

Ditegaskan pula bahwa OJK berkomitmen untuk terus menjaga kepercayaan publik dan pelaku industri jasa keuangan melalui penerapan prinsip tata kelola yang baik, transparansi, serta akuntabilitas dalam setiap proses kelembagaan.

Kini pemilik utama kewenangan atas OJK baik secara kelembagaan maupun terhadap petinggi OJK, yang dipilih dan ditetapkan melalui proses politik, harus segera menyelesaikan agenda strategis penetapan kepemimpinan di OJK agar lembaga itu mampu melanjutkan tugas pekerjaan mereka secara amanah dan profesional. Lebih dari itu, juga agar kepercayaan segenap pelaku pasar dapat kembali pulih dan kondisi bursa saham domestik (BEI) bergairah lagi.

 

PEMBELAJARAN YANG BAIK

Catatan MSCI memang menjadi semacam 'cambukan keras' sekaligus pembelajaran berharga dan instrumen introspeksi bagi seluruh pemangku kepentingan bursa lokal. Tentu catatan tersebut harus ditelaah, ditindaklanjuti, dan diwujudnyatakan dalam tindakan supaya pada asesmen pada Mei mendatang MSCI tetap memberikan predikat bursa saham Indonesia tetap sebagai emerging market.

Patut dicatat, pelaku pasar memiliki logika dan bahasanya sendiri yang acap kali berbeda dengan logika dan bahasa otoritas, regulator, pebisnis, dan masyarakat awam. Siapa pun yang secara langsung atau tidak langsung 'disentil' MSCI hendaknya dengan legowo (berbesar hati) menerima input-input tersebut sebagai referensi perbaikan pasar modal Indonesia ke depan. Perbaikan tata kelola (utamanya aspek transparansi), implementasi disiplin pasar, dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku yang market and investors friendly.

Kini pelaku pasar menunggu kesungguhan dari para pihak yang terkait dengan pemulihan bursa saham lokal untuk bebenah agar kepercayaan pasar kembali pulih sehingga pengharapan IHSG menembus level 10 ribu pada akhir 2026 ini bisa tercapai.

 

MENAVIGASI PASAR YANG BERGEJOLAK

Tidak mudah menavigasi pasar saham yang bergejolak. Dibutuhkan sikap kedewasaan dan kematangan oleh siapa pun agar tetap mampu menjaga level kepercayaan seluruh pelaku pasar.

Pertama, bersikap tetap tenang dan fokus. Jangan biarkan perubahan pasar harian mengaburkan tujuan investasi jangka panjang. Ingat, tren historis menunjukkan pasar pulih dari penurunan. Fokus untuk mempertahankan portofolio yang terdiversifikasi dan tahan keinginan untuk membuat keputusan impulsif berdasarkan peristiwa jangka pendek.

Kedua, mengevaluasi kembali toleransi risiko. Volatilitas itu ialah kesempatan bagus untuk mengevaluasi kembali toleransi risiko. Jika kerugian baru-baru ini menyebabkan seseorang stres yang tidak semestinya, mungkin sudah waktunya untuk menyesuaikan alokasi aset ke opsi yang lebih konservatif seperti obligasi berpendapatan tetap.

Ketiga, mencari peluang di saham-saham tergolong sektor defensif. Sementara beberapa bagian pasar sedang bergolak, yang lain mungkin menawarkan pelindungan. Sektor defensif, seperti bahan pokok konsumen, utilitas, dan perawatan kesehatan, cenderung berkinerja lebih baik selama penurunan ekonomi.

Keempat, tetap bersabar dan disiplin pasar. Jangan terpengaruh oleh reli jangka pendek atau keputusasaan selama hari-hari yang sulit. Pasar membutuhkan waktu untuk sembuh dan pekerjaan perbaikan yang signifikan mungkin diperlukan sebelum pemulihan berkelanjutan berlangsung. Bersabar, pertahankan disiplin pasar, dan terus pantau indikator utama seperti level support dan resistance.

Kelima, mempersiapkan diri untuk kemungkinan penurunan yang lebih dalam. Sementara pemulihan yang kuat belum terlihat, bersiap diri untuk kemungkinan penurunan yang lebih curam. Itu termasuk meskipun terjadi trading halt, yakni penghentian sementara aktivitas perdagangan saham, indeks, atau seluruh pasar oleh bursa (BEI) akibat penurunan tajam (baca: volatilitas ekstrim) atau rilis informasi material.

Tujuannya menjaga stabilitas pasar, mencegah kepanikan jual oleh investor, dan memastikan transparansi informasi. Hal itu biasanya berlangsung 30 menit atau lebih, untuk kemudian bursa dibuka kembali.

 

CATATAN PENUTUP

Sementara pasar saham mengalami turbulensi jangka pendek, prospek jangka panjang tetap positif. Investor harus mempertahankan pendekatan disiplin, berfokus pada perusahaan berkualitas, dan mendiversifikasi portofolio.

Dengan mempertimbangkan lingkungan pasar saat ini dengan cermat dan menerapkan strategi investasi yang dipikirkan dengan matang dan seksama, investor akan mampu menavigasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang tersedia.

Cepat atau lambat perkembangan bursa saham domestik akan kembali membaik melalui berbagai upaya dan langkah strategis yang ditempuh pemerintah, otoritas, dan self regulatory organization (SRO). Konsolidasi dan koordinasi lintas lembaga dibutuhkan untuk dapat segera mengembalikan kepercayaan pasar.

Komunikasi yang taktis dan konstruktif oleh pihak-pihak yang kompeten juga diperlukan sebagai referensi investor publik ketika harus mengambil posisi investasi. Semoga demikian pemikiran skenariotif yang akan terjadi ke depannya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya