Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Struktur Pemegang Saham Berubah, Apa Dampaknya ke Harga BUMI?

 Gana Buana
18/2/2026 20:37
Struktur Pemegang Saham Berubah, Apa Dampaknya ke Harga BUMI?
CIC Hengkang, BUMI Siap Meledak? Target 330 di Depan Mata(Dok. MI/AI)

DINAMIKA saham milik PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di awal tahun 2026 memasuki fase krusial. Pergerakan saham emiten tambang batu bara terbesar di Indonesia ini kini dipengaruhi oleh dua faktor utama, aksi divestasi masif dari Chengdong Investment Corporation (CIC) dan lonjakan porsi free float yang mengubah profil likuiditas perusahaan.

Eksodus Chengdong: Sisa Kepemilikan Tinggal 2,81%

Berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek per 31 Januari 2026, kepemilikan Chengdong di BUMI telah menyusut drastis menjadi hanya 2,81% atau setara 10,44 miliar lembar saham.

Dalam kurun waktu satu bulan sejak Desember 2025, entitas asal Tiongkok tersebut telah melepas sekitar 10,94 miliar lembar saham di pasar reguler.

Langkah exit ini dinilai positif bagi likuiditas pasar. Selama ini, kepemilikan besar Chengdong dianggap sebagai "tembok" atau standby seller yang menahan laju kenaikan harga. Dengan sisa saham yang semakin menipis, tekanan jual teknis diprediksi akan mereda sepenuhnya pada awal Maret 2026.

Lonjakan Free Float dan Struktur Pemegang Saham

Seiring dengan aksi jual oleh CIC, porsi saham publik BUMI mengalami lonjakan signifikan. Hal ini meningkatkan aksesibilitas saham bagi investor institusi maupun ritel. Berikut adalah rincian struktur kepemilikan terbaru:

Pemegang Saham Persentase Kepemilikan
Mach Energy (Grup Bakrie & Salim) 45,78%
Free Float (Masyarakat) 41,31%
UBS Switzerland AG 5,10%
Chengdong Investment Corp (CIC) 2,81%

Analisis Saham dari Stocknow id, Hendra Wardana menyampaikan, kenaikan free float hingga di atas 40% merupakan sinyal positif bagi indeks global seperti MSCI.

"Namun, investor perlu mencermati bahwa kenaikan harga saham BUMI sebelumnya lebih banyak dipicu oleh ekspektasi aliran dana indeks (MSCI), bukan semata karena perubahan fundamental jangka panjang. Saat MSCI menahan rebalancing, harga cenderung mengalami koreksi psikologis," ungkap Hendra pada Media Indonesia beberapa waktu lalu.

Proyeksi Harga: Peluang Menuju Level 330

Secara bisnis, kata Hendra, saham BUMI menunjukkan perbaikan struktur keuangan dan pengelolaan utang yang lebih disiplin. Hal ini tercermin dari lonjakan harga terbaru yang kembali menembus level 280-290. Kenaikan ini mengindikasikan adanya fase lanjutan rebound setelah tekanan sentimen global mereda.

Analis teknikal memproyeksikan jika momentum volume perdagangan tetap terjaga, terbuka peluang penguatan menuju target 330 hingga 344. Namun, mengingat volatilitasnya yang sangat tinggi, BUMI lebih tepat diperlakukan sebagai instrumen trading berbasis momentum. Investor ritel disarankan tetap disiplin dalam mengelola risiko dan memperhatikan level stop loss di kisaran 250 jika terjadi pembalikan arah. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya