Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
DINAMIKA saham milik PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di awal tahun 2026 memasuki fase krusial. Pergerakan saham emiten tambang batu bara terbesar di Indonesia ini kini dipengaruhi oleh dua faktor utama, aksi divestasi masif dari Chengdong Investment Corporation (CIC) dan lonjakan porsi free float yang mengubah profil likuiditas perusahaan.
Berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek per 31 Januari 2026, kepemilikan Chengdong di BUMI telah menyusut drastis menjadi hanya 2,81% atau setara 10,44 miliar lembar saham.
Dalam kurun waktu satu bulan sejak Desember 2025, entitas asal Tiongkok tersebut telah melepas sekitar 10,94 miliar lembar saham di pasar reguler.
Langkah exit ini dinilai positif bagi likuiditas pasar. Selama ini, kepemilikan besar Chengdong dianggap sebagai "tembok" atau standby seller yang menahan laju kenaikan harga. Dengan sisa saham yang semakin menipis, tekanan jual teknis diprediksi akan mereda sepenuhnya pada awal Maret 2026.
Seiring dengan aksi jual oleh CIC, porsi saham publik BUMI mengalami lonjakan signifikan. Hal ini meningkatkan aksesibilitas saham bagi investor institusi maupun ritel. Berikut adalah rincian struktur kepemilikan terbaru:
| Pemegang Saham | Persentase Kepemilikan |
|---|---|
| Mach Energy (Grup Bakrie & Salim) | 45,78% |
| Free Float (Masyarakat) | 41,31% |
| UBS Switzerland AG | 5,10% |
| Chengdong Investment Corp (CIC) | 2,81% |
Analisis Saham dari Stocknow id, Hendra Wardana menyampaikan, kenaikan free float hingga di atas 40% merupakan sinyal positif bagi indeks global seperti MSCI.
"Namun, investor perlu mencermati bahwa kenaikan harga saham BUMI sebelumnya lebih banyak dipicu oleh ekspektasi aliran dana indeks (MSCI), bukan semata karena perubahan fundamental jangka panjang. Saat MSCI menahan rebalancing, harga cenderung mengalami koreksi psikologis," ungkap Hendra pada Media Indonesia beberapa waktu lalu.
Secara bisnis, kata Hendra, saham BUMI menunjukkan perbaikan struktur keuangan dan pengelolaan utang yang lebih disiplin. Hal ini tercermin dari lonjakan harga terbaru yang kembali menembus level 280-290. Kenaikan ini mengindikasikan adanya fase lanjutan rebound setelah tekanan sentimen global mereda.
Analis teknikal memproyeksikan jika momentum volume perdagangan tetap terjaga, terbuka peluang penguatan menuju target 330 hingga 344. Namun, mengingat volatilitasnya yang sangat tinggi, BUMI lebih tepat diperlakukan sebagai instrumen trading berbasis momentum. Investor ritel disarankan tetap disiplin dalam mengelola risiko dan memperhatikan level stop loss di kisaran 250 jika terjadi pembalikan arah. (Z-10)
Hasil rebalancing MSCI Februari 2026 resmi dirilis. INDF turun kelas ke Small Cap, sementara ACES dan CLEO keluar dari indeks. Cek jadwal efektifnya
Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, mengatakan BEI dijadwalkan kembali melakukan pertemuan lanjutan dengan MSCI pada 11 Februari 2026.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) memanggil Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) untuk membahas rencana peningkatan porsi saham beredar (free float) 15%.
Peningkatan batas minimal free float saham menjadi 15% serta rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan bagian dari agenda reformasi pasar modal nasional.
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah mengapresiasi pengunduran diri empat petinggi Otoritas Jasa Keuangan, Jumat (30/1) kemarin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved