Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Ekonom LPPI Prediksi Bank Indonesia Tahan BI Rate di 4,75% Meski Rupiah Melemah

Insi Nantika Jelita
18/2/2026 18:02
Ekonom LPPI Prediksi Bank Indonesia Tahan BI Rate di 4,75% Meski Rupiah Melemah
ilustrasi.(MI)

EKONOM senior Associate Faculty Lembaga Pengembang Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada bulan ini di level 4,75%.

Proyeksi tersebut didasarkan pada sejumlah indikator yang masih menunjukkan tekanan, antara lain inflasi tahunan yang tetap berada di atas 3% serta nilai tukar rupiah yang belum kembali normal dan stabil. Setelah libur panjang, rupiah tercatat melemah tajam.

Pada Rabu (18/2), rupiah di pasar spot melemah 0,28% ke level Rp16.884 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan posisi Jumat (13/2) di Rp16.836 per dolar AS, mata uang Garuda juga terdepresiasi 0,28%.

Tekanan terhadap rupiah dinilai masih berasal dari faktor eksternal, termasuk sentimen negatif dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Moody’s. Pada Rabu (28/1), MSCI membekukan peningkatan bobot Indonesia dalam indeks globalnya. Kebijakan tersebut langsung menekan pasar saham dan diikuti pengunduran diri sejumlah pimpinan lembaga di sektor pasar keuangan.

“Maka, pilihan terbaik yang tersedia adalah BI Rate ditahan di level 4,75%,” kata Ryan kepada Media Indonesia, Rabu (18/2).

Ia mengatakan, meski suku bunga acuan diproyeksikan tetap, ia menilai sikap kebijakan yang pro-pertumbuhan tetap dapat ditempuh melalui pelonggaran kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran.

Selain itu, ekspektasi inflasi menjelang Idulfitri, baik secara bulanan maupun tahunan, juga cenderung meningkat dari sisi cost push inflation maupun demand pull inflation. Karena itu, menurut Ryan, ruang penurunan BI Rate baru berpotensi terbuka setelah perayaan Lebaran, sekitar April atau Mei.

Di sisi lain, dorongan pertumbuhan ekonomi juga masih dapat berasal dari kebijakan fiskal, antara lain melalui penyediaan stimulus libur panjang sebesar Rp12 triliun serta akselerasi penyerapan belanja pemerintah, termasuk penyaluran tunjangan hari raya (THR) bagi aparatur sipil negara (ASN) dan bantuan sosial bagi kelompok masyarakat miskin.

Ryan menilai pelonggaran kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap cukup efektif dalam mendorong pertumbuhan meskipun suku bunga ditahan, karena dapat menstimulasi transaksi konsumsi masyarakat melalui kemudahan bertransaksi serta berbagai program promosi dari produsen maupun merchant. (Ins/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya