Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Inflasi Jelang Ramadan 3,55 persen, BI Tahan Suku Bunga Acuan di 4,75 persen

Insi Nantika Jelita
19/2/2026 16:31
Inflasi Jelang Ramadan 3,55 persen, BI Tahan Suku Bunga Acuan di 4,75 persen
ilustrasi.(MI)

GLOBAL Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai tekanan inflasi yang meningkat menjelang Ramadan dan Idulfitri menjadi salah satu alasan utama Bank Indonesia menahan suku bunga acuan. Pada bulan ini, BI Rate masih bertahan di level 4,75%.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Januari 2026 mencapai 3,55% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan inflasi Desember 2025 yang sebesar 2,92%. Angka inflasi bulan lalu berada di atas target bank sentral.

Myrdal memperkirakan inflasi masih berpotensi meningkat pada Februari dan Maret seiring faktor musiman Ramadan dan Idulfitri.

"Jadi, karena itulah BI Rate kelihatannya masih akan tetap terjaga stabil sampai kuartal pertama 2026,” ungkapnya kepada Media Indonesia, Kamis (19/2).

Myrdal meramalkan pada kuartal kedua 2026 suku bunga acuan juga berpeluang tetap bertahan. Hal ini dipengaruhi oleh tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat meningkatnya permintaan valas untuk kebutuhan pembayaran dividen. Sementara itu, dari sisi impor masih sangat bergantung pada perkembangan aktivitas ekonomi domestik.

Myrdal menilai perbankan juga menghadapi tantangan karena penurunan suku bunga kredit berlangsung lambat.

“Bagi perbankan, saya rasa dengan kondisi penurunan bunga kredit yang lambat, mereka bertahan juga untuk laju kreditnya. Karena ya sejauh ini juga untuk suku bunga kredit juga kan masih banyak belum berubah,” katanya.

Karena itu, perbankan didorong mencari peluang dari sektor-sektor yang sejalan dengan program prioritas pembangunan pemerintah. Ia menambahkan, ruang penurunan BI-Rate masih terbuka apabila inflasi kembali melandai setelah periode musiman berlalu dan nilai tukar rupiah stabil di bawah atau sejalan dengan asumsi APBN di kisaran Rp16.500 per dolar AS.

“Nanti kalau suku bunganya lebih rendah lagi dan penurunannya lebih agresif, terutama jika inflasi sudah mulai melandai, lalu dari sisi perkembangan nilai tukar rupiahnya juga sudah stabil, saya rasa ya BI Rate bisa lebih rendah lagi,” ucapnya.

Penurunan suku bunga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit perbankan. Myrdal menilai, kondisi tersebut akan memperkuat fungsi intermediasi perbankan sehingga penyaluran kredit pada tahun ini berpotensi meningkat dibandingkan capaian tahun lalu.

"Jika pada tahun sebelumnya kredit hanya tumbuh sekitar 9,7%, maka pada tahun ini pertumbuhannya diperkirakan dapat menembus kisaran 10%," harapnya.

Ia menambahkan, akselerasi kredit sangat bergantung pada efektivitas pelaksanaan program-program ekonomi pemerintah serta iklim usaha yang kondusif bagi sektor swasta. Dengan dukungan tersebut, pertumbuhan kredit diharapkan mampu menjadi salah satu motor penggerak utama perekonomian.

Terpisah, Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman berpandangan inflasi di atas 3% hanya bersifat semu. Ia menegaskan inflasi sepanjang 2026 diperkirakan tetap terkendali dan bahkan berada di bawah level 3%. Kenaikan inflasi pada awal tahun dinilai sebagai dampak lanjutan dari kebijakan diskon tarif listrik yang diberikan pada 2025.

Dampak kebijakan tersebut masih terasa pada Januari hingga Maret 2026 sehingga mendorong inflasi pada awal tahun. Pada Januari, inflasi yang tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 3,55%.

"Meski ini sedikit di atas target inflasi kita, tapi ini sifatnya sementara," kata Aida

Pihaknya memperkirakan kondisi inflasi menjelang Ramadan dan Idulfitri dinilai masih tetap terjaga. Meski demikian, masih terdapat dampak dari komponen administered price, khususnya efek diskon listrik pada tahun lalu, sehingga inflasi diperkirakan sedikit berada di atas level 3%.

"Setelah periode tersebut, inflasi diproyeksikan kembali bergerak menurun dan tetap berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia sepanjang 2026," harapnya.

Dari sisi pangan, pasokan juga terpantau aman. Saat ini sejumlah komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit tengah memasuki musim panen. Bank Indonesia pun terus melakukan monitoring mingguan terhadap pergerakan harga, dan hasilnya masih berada dalam kisaran proyeksi yang telah ditetapkan.

Ke depan, Bank Indonesia akan semakin memperkuat koordinasi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID). Selain itu, peluncuran Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) menjadi langkah lanjutan untuk memperkokoh ketahanan pangan, terutama melalui penguatan sisi pasokan dan kelancaran distribusi.

"Peluncuran ini akan berlanjut dengan launching-launching bersama dengan pemerintah pusat dan daerah untuk memastikan inflasi yang terjaga termasuk pada saat Ramadan dan Idulfitri,” pungkasnya. (Ins/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya