Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Rupiah Jeblok, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga 4,75 Persen

Andhika Prasetyo
21/1/2026 10:51
Rupiah Jeblok, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga 4,75 Persen
Ilustrasi(Antara)

Sejumlah ekonom memproyeksikan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026, Rabu (21/1) siang ini. Proyeksi tersebut muncul seiring masih berlanjutnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai meskipun terdapat arus masuk modal portofolio pasca penurunan suku bunga Amerika Serikat, tekanan eksternal masih mendominasi. Penguatan dolar AS dan meningkatnya sentimen risiko global dinilai membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter domestik.

“Menahan suku bunga kebijakan di 4,75% akan membantu menjaga diferensial suku bunga, memperkuat kepercayaan pasar, serta menahan volatilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” ujar Riefky dalam laporan bulanan LPEM FEB UI di Jakarta.

Ia mencatat, aliran modal asing ke pasar keuangan domestik mencapai sekitar US$1,49 miliar pada periode pertengahan Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026. Dana tersebut terdiri dari sekitar US$560 juta ke Surat Berharga Negara (SBN) dan US$940 juta ke pasar saham. Namun, arus masuk tersebut lebih terkonsentrasi pada instrumen berjangka pendek.

Menurut Riefky, perbedaan imbal hasil obligasi pemerintah menunjukkan minat investor asing yang masih terbatas pada tenor pendek, sementara obligasi jangka panjang tertahan oleh meningkatnya persepsi risiko fiskal. Penerbitan SRBI dengan imbal hasil relatif tinggi, tenor lebih singkat, dan risiko durasi yang lebih rendah juga turut mengalihkan minat investor dari obligasi pemerintah jangka panjang.

Tekanan terhadap rupiah tercermin dari pelemahan sekitar 1,16% secara bulanan (mtm) dari pertengahan Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026, yakni dari Rp16.685 menjadi Rp16.880 per dolar AS. Pada periode yang sama, indeks dolar AS (DXY) menguat dari kisaran 98,15 ke 99,32.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman. Menurutnya, opsi menahan BI Rate merupakan pilihan yang paling logis dengan kondisi data saat ini.

“Dalam situasi nilai tukar yang masih tertekan, ruang untuk menurunkan suku bunga menjadi sangat terbatas karena berpotensi memperbesar tekanan terhadap rupiah,” ujarnya.

Rizal menilai peluang penurunan suku bunga tetap terbuka sepanjang 2026, namun sangat bergantung pada sejumlah prasyarat, antara lain stabilitas nilai tukar, inflasi yang tetap terkendali, serta risiko fiskal yang tidak meningkat. Karena itu, fokus kebijakan moneter pada fase awal 2026 dinilai lebih tepat diarahkan pada penguatan stabilitas makroekonomi.

Sementara itu, Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai peluang kenaikan suku bunga relatif kecil karena berpotensi menimbulkan biaya besar bagi pemulihan ekonomi. Menurutnya, opsi paling seimbang bagi bank sentral saat ini adalah menahan suku bunga sembari memperkuat stabilisasi nilai tukar dan komunikasi kebijakan.

Josua menambahkan, arah kebijakan suku bunga sepanjang 2026 sangat ditentukan oleh stabilitas rupiah dan arah kebijakan suku bunga AS. Jika tekanan nilai tukar mereda, inflasi terkendali, dan arus modal membaik, ruang pelonggaran moneter dapat terbuka secara bertahap pada paruh kedua 2026. Namun, jika kekhawatiran fiskal dan isu kredibilitas kebijakan terus menekan kepercayaan pasar, BI berpotensi mempertahankan suku bunga lebih lama guna menjaga daya tarik aset rupiah dan mencegah volatilitas kurs berkembang menjadi tekanan inflasi. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya