Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Para Ekonom Kompak Prediksi BI Tahan Suku Bunga Acuan

Andhika Prasetyo
19/2/2026 10:00
Para Ekonom Kompak Prediksi BI Tahan Suku Bunga Acuan
ilustrasi(Antara)

Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75% bulan ini menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, seiring meningkatnya tekanan dan volatilitas arus modal dalam beberapa pekan terakhir.

Chief Economist BSI Banjaran Surya menilai stabilitas nilai tukar rupiah masih menjadi perhatian utama, sehingga mempertahankan suku bunga acuan dipandang sebagai langkah yang tepat.

“Walaupun inflasi relatif terjaga, BI juga perlu mempertahankan daya tarik yield surat berharga dibanding yang lain. Di sisi lain, pengaruh MSCI membuat aliran modal melalui pasar saham cenderung tertahan,” ujar Banjaran di Jakarta, Kamis.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI disebut telah meningkatkan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada Februari 2026 serta kembali menjalankan operasi moneter yang bersifat kontraktif.

Secara terpisah, Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman mencatat peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait isu free float serta revisi outlook Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif berpotensi meningkatkan premi risiko dan volatilitas arus modal.

Ia menilai dalam jangka pendek BI akan lebih mengutamakan stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor dibandingkan mendorong pelonggaran moneter. Menurutnya, peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat masih terbatas hingga tekanan eksternal mereda dan sentimen pasar kembali membaik.

Sementara itu, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mencatat sejak pengumuman MSCI, Indonesia mengalami arus modal keluar dari pasar saham sebesar US$1,01 miliar. Arus keluar juga terjadi di pasar obligasi sebesar US$0,37 miliar setelah perubahan outlook Moody’s. Dengan demikian, total arus modal keluar dalam 30 hari terakhir mencapai US$1,06 miliar.

Kondisi tersebut turut tercermin dari kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun dari 6,31% pada 19 Januari 2026 menjadi 6,40% per 13 Februari 2026, sementara tenor satu tahun meningkat dari 4,67% menjadi 4,87%.

Untuk meredam tekanan tersebut, BI secara aktif meningkatkan kepemilikan surat utang pemerintah, sehingga depresiasi rupiah tetap terkendali. Sejak akhir bulan lalu, rupiah hanya melemah 0,27% dan bahkan menguat 0,44% secara bulanan dalam 30 hari terakhir. Namun secara year to date rupiah tercatat melemah 0,84% dan terdepresiasi 3,74% secara tahunan.

Di sisi lain, inflasi Januari 2026 meningkat menjadi 3,55 persen (yoy), sedikit di atas kisaran target BI, terutama akibat kenaikan harga pada beberapa komponen. Tekanan inflasi diperkirakan berlanjut menjelang periode Ramadhan dan Idul Fitri.

Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai BI dan The Fed cenderung mempertahankan suku bunga acuan setidaknya hingga akhir kuartal pertama tahun ini. Meski demikian, risiko perlambatan ekonomi AS dan potensi koreksi harga aset dapat membuka ruang penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun 2026. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya