Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Warisan Sejarah Indonesia di Kaledonia Baru

Naldo Helmys Diplomat Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Noumea
20/2/2026 02:20
Warisan Sejarah Indonesia di Kaledonia Baru
(MI/Seno)

SUATU sore di Baie de l’Orphelinat, di salah satu teluk di Kota Noumea, puluhan diaspora Indonesia, umumnya keturunan Jawa, berkumpul. Hujan yang mengguyur kota dan angin yang menyapu kapal-kapal yang berlabuh tak dihiraukan. Mereka tengah merayakan peringatan kedatangan pekerja Jawa ke Kaledonia Baru. Kali ini adalah peringatan ke-130 tahun, menandai momen bersejarah ketibaan para pekerja Jawa ke Kaledonia Baru, 16 Februari 1896.

Peringatan tak hanya berlangsung di Noumea. Kota-kota lain di Kaledonia Baru turut merayakannya sepanjang Februari. Meski skalanya bukan seperti perayaan nasional yang sering dijumpai di Indonesia, peringatan ini tetap dipandang penting, tak hanya oleh diaspora maupun warga negara Indonesia, tetapi juga oleh pemerintah setempat. Sejumlah pejabat mulai dari perwakilan Komisaris Tinggi Prancis di Kaledonia Baru, Kongres Kaledonia Baru, Gubernur Provinsi Selatan, dan Wali Kota Noumea turut hadir. Dalam relasi kuasa, upacara ini menyimbolkan rekognisi akan kontribusi diaspora Indonesia terhadap pembangunan politik, ekonomi, dan sosial budaya Kaledonia Baru.

Barangkali Kaledonia Baru terdengar asing bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Kaledonia Baru adalah wilayah seberang laut Prancis dan beribu kota di Noumea. Lokasinya di Pasifik dan secara geografis lebih dekat ke Jakarta ketimbang Paris. Pada tahun 1864, nikel ditemukan di Kaledonia Baru sehingga teritori ini bernilai ekonomis dan strategis. Dengan adanya tambang inilah kemudian muncul kebutuhan akan tenaga kerja.

Kesempatan ini lantas disambut sebagai peluang ekonomi oleh penduduk Jawa di masa kolonial Hindia Belanda. Dengan informasi yang masih sangat terbatas, mereka datang ke Kaledonia Baru dan barangkali tak akan menyangka langkah tersebut justru menjadi bibit peradaban. Kini banyak keturunan Indonesia di Kaledonia Baru menempati posisi penting, dari tenaga medis, pelaku usaha, hingga pejabat pemerintahan.

Di Museum Kota Noumea, fragmen sejarah diaspora Indonesia tersimpan baik sebagai peninggalan historis maupun informasi. Menurut catatan museum, pekerja Jawa yang sudah habis masa kontraknya mulai menetap di Noumea pada tahun 1946. Sebagian berusaha kembali ke tanah air setelah Indonesia merdeka melalui program repatriasi dari tahun 1948 hingga 1953. Namun, setelah beberapa tahun, sebagian kembali menetap di Kaledonia Baru, salah satunya karena penyesuaian hidup kembali ke Indonesia yang dipandang sulit. Dari proses asimilasi puluhan tahun, lahirlah suatu karakteristik budaya Jawa Kaledonia yang menuturkan bahasa Prancis.

AGAR TAK MENJADI ABU

Pengetahuan yang disimpan di dalam museum bukanlah untuk dibiarkan berdebu. Peringatan pun bukan sekadar formalitas. Ia ada untuk digali lebih dalam agar dapat melahirkan suatu pengetahuan dan kebijaksanaan yang mampu merawat denyut nadi kebangsaan.

Sayangnya, sejarah nasional Indonesia cenderung melihat ke dalam. Jarang sekali peradaban bangsa Indonesia ditempatkan sebagai bagian dari narasi besar sejarah dunia. Apalagi jika dikatakan turut membentuk sejarah global itu sendiri. Dalam sejarah yang lazim dikenal, Nusantara dihadirkan sebagai tempat yang dikunjungi bangsa-bangsa di luarnya, sebut saja kunjungan I Tsing, Ibnu Battutah, hingga Marco Polo. Namun, sejarah kurang memberikan tempat untuk pengaruh yang telah diberikan bangsa Indonesia di luar Nusantara. Ia sering kali hanya jadi cerita pinggiran. Sudah saatnya paradigma ini digeser, bahwa Indonesia bukan sekadar tempat singgah yang menanti secara pasif dinamika global yang terjadi.

Sejarah adalah pelajaran yang amat berharga. Banyak yang dapat direfleksikan dari jejak warisan Indonesia di Kaledonia Baru, kendati untuk saat ini akan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Memang penarikan kesimpulan tak perlu tergesa-gesa, mengingat masih terbatasnya riset-riset tentang subjek ini dari berbagai disiplin. Meski demikian, riset dalam hal ini sangatlah penting untuk menyusun pengetahuan yang lebih utuh.

Banyak hal menarik yang sebetulnya dapat dikembangkan. Kurun waktu 130 tahun sudah cukup untuk menjadi pertimbangan betapa penting keberadaan diaspora Indonesia di Kaledonia Baru. Sudah sepatutnya ada upaya yang lebih serius, misalnya dari akademisi dan pakar sejarah untuk membaca warisan yang sangat berharga ini.

Secara historis, misalnya, keberangkatan pekerja Jawa kiranya dapat melengkapi catatan praktik kolonialisme Hindia Belanda. Sebab, meski orang-orang Jawa dipekerjakan di teritori Prancis, pihak yang mengirim mereka ke sana ialah pemerintah kolonial Hindia Belanda, di masa ekonomi liberal. Pada periode 1896 hingga 1939, setidaknya ada 20.000 pekerja Jawa di Kaledonia Baru. Jumlah tersebut merupakan yang terbesar setelah pekerja Jawa di Suriname yang mencapai 33.000 pada kurun yang relatif bersamaan.

Nasib dan kisah eksploitasi tenaga kerja pada masa kolonial dapat dibaca secara paralel. Sebab, ia tidak hanya dialami oleh mereka yang dipekerjakan di Kaledonia Baru maupun di Suriname. Kolonial Hindia Belanda melakukan pengerahan serupa di pulau-pulau di luar Jawa yang dinilai strategis dan ekonomis setelah ditemukan hasil alam yang menguntungkan. Menarik untuk dilihat, apakah pekerja Jawa di Kaledonia Baru, misalnya, bernasib serupa dengan saudara sezaman mereka yang dieksploitasi di tambang batu bara Ombilin, Sumatra Barat. Serta hasil akulturasi dan asimilasi budaya dan identitas apa yang kemudian dihasilkan, juga tak kalah penting digali.

Pembacaan tersebut tentunya bukan tanpa tujuan. Sedikit banyak, model ekonomi ekstraktif masih diterapkan, tanpa kalkulasi yang benar-benar matang sejauh mana masyarakat ditempatkan sebagai penerima manfaat. Jangan sampai praktik eksploitatif ala kolonial hanya berganti nama dan corak, tetapi jubahnya tetap sama. Warisan sejarah Indonesia di Kaledonia Baru, yang sebenarnya, bukanlah dalam bentuk monumen atau artefak, melainkan berupa kebijaksanaan untuk menjadi bangsa yang lebih baik yang menempatkan kemuliaan martabat sebagai manusia sama pentingnya dengan penghormatan terhadap alam dan lingkungan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya