Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Sering Nyanyi untuk Bayi? Ternyata Bisa Bantu Si Kecil Cepat Bicara!

Thalatie K Yani
01/2/2026 11:02
Sering Nyanyi untuk Bayi? Ternyata Bisa Bantu Si Kecil Cepat Bicara!
Ilustrasi(freepik)

SELAMA ribuan tahun, orangtua menggunakan nina bobo untuk menenangkan buah hati mereka. Namun, penelitian terbaru menunjukkan aktivitas ini memberikan manfaat yang jauh lebih besar: bernyanyi membantu mempersiapkan otak bayi untuk belajar bahasa.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Developmental Science menemukan adanya koneksi kuat antara cara bayi memproses ritme musik dan cara mereka memproses bahasa. Bayi yang lebih mahir mendeteksi ritme musik ternyata juga lebih ahli dalam mengenali pola bicara. Keterampilan kunci untuk mempelajari kata-kata baru.

Otak Bayi Sebagai Detektor Pola

Para ahli menjelaskan musik dan bahasa memiliki kesamaan struktur dasar yang dibangun di atas pola-pola tertentu.

"Musik dan bahasa sama-sama dibangun di atas pola. Ketukan berkelompok dalam musik sama halnya dengan suku kata yang berkelompok menjadi kata dalam ucapan," ujar Jordyn Koveleski Gorman, pakar perkembangan anak dan pendiri Eat Play Say.

Senada dengan hal tersebut, Rachel Albert, Ph.D., profesor psikologi dari Lebanon Valley College, menyebut  bayi adalah "detektor pola alami". Studi ini mempertegas paralel antara musik dan bahasa yang keduanya mengandung suara dengan pola yang sangat teratur.

Mengintip Cara Kerja Otak Bayi 

Dalam penelitian yang melibatkan 44 bayi berusia 6 hingga 9 bulan, para peneliti di Belanda menggunakan alat EEG untuk mengukur aktivitas otak. Bayi-bayi tersebut mendengarkan aliran ucapan buatan dan pola musik ritmis.

Hasilnya menunjukkan sinkronisasi yang konsisten. Bayi yang gelombang otaknya sinkron dengan meteran ritme musik juga menunjukkan sinkronisasi yang sama terhadap kata-kata dalam bahasa buatan. Ini mengindikasikan adanya tumpang tindih dalam cara otak bayi memproses musik dan bahasa.

Interaksi Lebih Penting daripada Bakat 

Studi ini juga mematahkan mitos bahwa kemampuan ritme musik sepenuhnya bersifat genetik. Sebaliknya, frekuensi interaksi musik antara orang tua dan anak jauh lebih menentukan.

"Anda tidak perlu menjadi orang yang musikal. Anda tidak perlu bernyanyi dengan nada yang tepat," jelas Gorman. "Anda hanya perlu bersedia untuk bernyanyi, bertepuk tangan, memantul-mantul, dan bersikap konyol bersama bayi Anda."

Gorman menambahkan interaksi langsung jauh lebih efektif daripada sekadar memutar musik di latar belakang. Saat orang tua bernyanyi, mereka cenderung memperlambat tempo bahasa, melebih-lebihkan suara, dan menggunakan pengulangan yang memudahkan otak bayi mengatur serta memahami ucapan.

Pesan untuk Orangtua 

Meskipun hasil penelitian ini menggembirakan, para ahli mengingatkan orangtua agar tidak perlu terburu-buru mendaftarkan bayi ke kursus musik formal. Hal-hal sederhana yang dilakukan sehari-hari, seperti bernyanyi saat mengganti popok atau bertepuk tangan saat bermain, sudah sangat bermakna secara perkembangan.

Namun, perkembangan anak tidaklah hitam-putih. Jika seorang bayi tidak terlalu menunjukkan minat pada musik, bukan berarti mereka akan kesulitan berbahasa. Ritme hanyalah salah satu bagian dari teka-teki besar perkembangan bahasa anak yang kompleks. (Parents/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya