Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Mengenal Fenomena 'Velcro Baby', Saat Si Kecil Menempel Terus Seperti Perekat

Thalatie K Yani
01/2/2026 07:00
Mengenal Fenomena 'Velcro Baby', Saat Si Kecil Menempel Terus Seperti Perekat
Ilustrasi(freepik)

BAGI sebagian orangtua, memiliki anak yang selalu ingin menempel setiap saat menjadi tantangan tersendiri. Kondisi yang disebut Velcro Baby itu merujuk pada bayi atau balita yang seolah memiliki perekat di tubuhnya, selalu ingin kontak fisik tanpa henti, bahkan saat orangtua sedang berusaha menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

Fenomena ini ramai diperbincangkan di media sosial seperti TikTok. Salah satu unggahan dari akun @arielvidal_ menunjukkan betapa melelahkannya menjadi ibu rumah tangga dengan anak "Velcro".

"Memiliki Velcro baby itu tidak main-main. Terkadang saya merasa bersalah karena banyak hal tidak terselesaikan, tetapi tidak mungkin melakukan semuanya hanya dengan satu tangan," ungkapnya.

Bukan Manipulasi, Melainkan Rasa Aman

Banyak komentar di media sosial menyarankan agar orangtua membiarkan anak menangis agar mereka terbiasa mandiri. Namun, para ahli memiliki pandangan berbeda. Kiana Shelton, seorang pekerja sosial klinis dari Mindpath Health, menjelaskan perilaku "menempel" ini sebenarnya adalah mekanisme pertahanan hidup.

"Saat kita mengeksplorasi perilaku manja dari sudut pandang teori keterikatan (attachment theory), kita belajar bahwa keterikatan adalah mekanisme bertahan hidup," ujar Shelton.

Menurutnya, kedekatan fisik memberikan jaminan keamanan bagi bayi. Hal ini biasanya meningkat pada usia 6 hingga 9 bulan saat bayi mulai berinteraksi dengan lebih banyak orang.

Tips Menghadapi 'Velcro Baby' Tanpa Harus Stres

Menghadapi anak yang menempel 24 jam memang melelahkan. Berikut adalah beberapa strategi dari para ahli untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan anak dan kesehatan mental orang tua:

1. Jangan Sembunyi Saat Pergi

Seringkali orangtua tergoda untuk menyelinap pergi saat anak tidak melihat. Namun, Shelton menyarankan untuk tetap berpamitan. Meskipun akan ada tangisan, berpamitan memberikan kepastian Anda akan kembali, sehingga mengurangi kecemasan anak di masa depan.

2. Gunakan Komunikasi Verbal

Abbey Sangmeister, seorang konselor dari Evolving Whole, menyarankan orangtua untuk tetap mengomunikasikan perasaan mereka meski anak belum sepenuhnya paham. "Contohnya, 'Ibu sedang merasa kewalahan saat ini, dan Ibu mengerti kamu ingin dipeluk. Ibu akan menari bersamamu selama satu lagu, lalu kita akan istirahat'," saran Sangmeister.

3. Lakukan Langkah Kecil

Mulailah melatih perpisahan secara bertahap. Coba tinggalkan anak selama 30 detik, lalu kembali. Tingkatkan durasinya secara perlahan menjadi satu menit, dan seterusnya, untuk membangun kepercayaan anak bahwa perpisahan itu bersifat sementara.

4. Rutinitas yang Terprediksi

Anak-anak merasa lebih aman jika mereka tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Rutinitas yang konsisten membantu mengurangi kecemasan mereka.

Hanya Sebuah Fase

Penting bagi orangtua untuk menyadari kondisi ini hanyalah sebuah musim dalam pertumbuhan anak. Memiliki anak yang "nempel" justru merupakan tanda adanya ikatan yang kuat dan keterikatan yang aman (secure attachment).

"Ingatlah bahwa mengasuh anak memang membutuhkan pengorbanan, tetapi Anda tidak boleh merasa menderita. Ketahuilah bahwa perilaku manja adalah bagian normal dari perkembangan anak," tutup Shelton. (Parents/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya