Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Anak Remaja Suka Balas Dendam Tidur di Akhir Pekan? Ternyata Ini Manfaatnya bagi Mental

Thalatie K Yani
25/1/2026 07:00
Anak Remaja Suka Balas Dendam Tidur di Akhir Pekan? Ternyata Ini Manfaatnya bagi Mental
Ilustrasi(freepik)

JIKA anak remaja Anda sering sulit dibangunkan atau memilih tidur lebih lama di akhir pekan, sebaiknya jangan terburu-buru memarahi mereka. Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders mengungkapkan kebiasaan "balas dendam tidur" atau weekend catch-up sleep ternyata membawa dampak positif yang signifikan bagi kesehatan mental mereka.

Studi tersebut menemukan tambahan waktu tidur di akhir pekan dapat mengurangi risiko depresi harian hingga 41% bagi individu berusia 16-24 tahun. Temuan ini menjadi angin segar di tengah krisis kesehatan mental remaja yang kian meningkat.

Bukan Tanda Kemalasan, Melainkan Kebutuhan Biologis

Banyak orangtua menganggap remaja yang tidur hingga siang hari sebagai tanda kemalasan. Namun, para ahli membantah anggapan tersebut.

"Saya sering meyakinkan orangtua, tidur lebih lama di akhir pekan bukanlah tanda kemalasan. Itu adalah respons biologis terhadap utang tidur yang nyata," ujar Wendy Troxel, spesialis pengobatan tidur dari Rand Corporation.

Data dari CDC menunjukkan sekitar 71% hingga 84% siswa SMA kurang tidur. Sementara remaja membutuhkan rata-rata sembilan jam tidur, kenyataannya mereka hanya mendapatkan enam hingga tujuh jam di hari sekolah. Hal ini menyebabkan akumulasi "utang tidur" lebih dari 10 jam setiap minggunya.

Mengapa Tidur Sangat Krusial bagi Remaja?

Masa remaja adalah periode kritis kedua bagi perkembangan otak setelah masa bayi. Proses pembersihan, pemulihan, dan pemrosesan emosi di otak terjadi saat mereka terlelap.

"Jika kita dapat memahami hubungan ini dengan lebih baik, maka kualitas tidur bisa menjadi bagian dari pendekatan multifaset untuk mencegah dan mengobati depresi pada populasi ini," jelas Jason Carbone, salah satu penulis studi dari SUNY Upstate Medical University.

Kurang tidur membuat remaja lebih rentan terhadap kecemasan karena otak tidak memiliki waktu cukup untuk memulihkan diri. Akibatnya, hari-hari mereka terasa lebih berat dan memicu pikiran negatif.

Batasan yang Sehat: Maksimal Dua Jam

Meski bermanfaat, para ahli menyarankan agar orangtua tetap memberikan batasan agar jam biologis anak tidak kacau. "Tidur lebih lama di akhir pekan itu oke dan mungkin membantu, tetapi terlalu banyak tidur juga tidak baik," kata Dr. Carbone.

Beberapa tips agar catch-up sleep tetap sehat antara lain:

  • Membatasi durasi: Tambahan tidur sebaiknya maksimal dua jam dari jadwal biasanya agar tidak memicu "jet lag" saat hari Senin tiba.
  • Kebersihan tidur: Tetap terapkan rutinitas malam yang konsisten, jauhkan perangkat elektronik dari kamar, dan hindari kafein di sore hari.

Kapan Harus Waspada?

Orangtua perlu waspada jika perubahan pola tidur disertai dengan isolasi sosial, penurunan prestasi akademik, atau jika anak tetap merasa sangat kelelahan meskipun sudah tidur ekstra. Jika tidur berlebihan dibarengi dengan penarikan diri dari aktivitas yang disukai, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan profesional atau terapis. (Parents/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya