Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Strategi Sleep Banking: Benarkah Kita Bisa "Menabung" Tidur untuk Masa Depan?

Thalatie K Yani
03/2/2026 06:13
Strategi Sleep Banking: Benarkah Kita Bisa
Ilustrasi(freepik)

AKHIR pekan sering kali dianggap sebagai kesempatan emas untuk mematikan alarm dan membalas dendam pada kurang tidur selama hari kerja. Namun, alih-alih sekadar "membayar utang" tidur, beberapa ilmuwan menyarankan taktik yang berbeda: sleep banking atau menabung tidur.

Konsepnya sederhana, yakni tidur lebih lama selama beberapa malam sebelum menghadapi periode sibuk atau kurang tidur. Tujuannya agar otak memiliki cadangan energi dan kesiagaan ekstra saat waktu istirahat nantinya terbatas.

Eksperimen Militer dan Performa Atlet

Konsep ini diperkenalkan pada 2009 oleh para peneliti di Walter Reed Army Institute of Research. Mereka membagi personel militer ke dalam dua kelompok, kelompok yang tidur 7 jam dan kelompok yang tidur 10 jam selama seminggu. Hasilnya mengejutkan. Saat waktu tidur mereka dipangkas menjadi hanya 3 jam pada minggu berikutnya, kelompok yang telah "menabung" tidur menunjukkan penurunan fokus yang jauh lebih sedikit.

Tak hanya di militer, manfaat ini juga dirasakan di dunia olahraga:

  • Pemain Basket: Tidur lebih lama selama 5–7 minggu terbukti meningkatkan akurasi tembakan dan kecepatan lari.
  • Pemain Tenis: Satu minggu tidur 9 jam meningkatkan akurasi servis.
  • Atlet Rugbi: Mengurangi tingkat stres fisik dengan durasi tidur 10 jam.

Mekanisme di Balik Tabungan Tidur

Secara fisiologis, tidur adalah momen bagi tubuh untuk membuang "sampah" saraf. Michael Howell, profesor neurologi dari University of Minnesota, menjelaskan:

"Semua sel Anda butuh tidur sehat untuk mengisi bahan bakar dan memperbaiki diri. Di siang hari, berbagai produk limbah menumpuk di tubuh dan otak. Saat tidurlah otak membuangnya."

Kurang tidur yang kronis dapat mengakibatkan akumulasi limbah ini, yang berdampak pada penurunan motivasi hingga kemampuan kognitif yang melambat. Sleep banking dipercaya memberikan waktu ekstra bagi otak untuk membersihkan limbah neuronal dan mengisi ulang cadangan glikogen sebelum masa krisis tidur dimulai.

Celengan atau Kartu Kredit?

Meski terdengar menjanjikan, sleep banking masih menuai kontroversi. Elizabeth Klerman, profesor neurologi dari Harvard Medical School, termasuk yang meragukannya. Baginya, tidur lebih mirip kartu kredit daripada celengan.

"Untuk membuktikan sleep banking terjadi, Anda harus membuktikan seseorang bisa tidur saat tidak lelah, dan tidak ada bukti untuk itu. Dengan kata lain, Anda bisa menumpuk utang, tapi tidak bisa menumpuk surplus," tegas Klerman.

Ia khawatir konsep ini membuat orang merasa "aman" untuk sengaja kurang tidur hanya karena merasa sudah cukup tidur sebelumnya.

Tips Mencoba Sleep Banking

Jika Anda akan menghadapi jadwal padat atau penerbangan jarak jauh, para ahli menyarankan untuk menambah durasi tidur 30–60 menit setiap malam selama 1 hingga 2 minggu sebelumnya.

Cara paling efektif adalah dengan bangun lebih siang di pagi hari karena secara biologis lebih mudah bagi tubuh untuk tetap di tempat tidur daripada mencoba tidur lebih awal di malam hari. Namun, perlu diingat bahwa taktik ini bukanlah solusi jangka panjang. Pola tidur yang konsisten tetap menjadi kunci utama kesehatan mental dan fisik. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya