Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI banyak orangtua, memberikan gawai (gadget) pada bayi sering kali dianggap sebagai solusi praktis untuk menenangkan anak atau mencuri waktu istirahat sejenak. Namun, penelitian jangka panjang terbaru memperingatkan paparan layar di dua tahun pertama kehidupan dapat meninggalkan jejak permanen pada perkembangan otak anak.
Studi yang dipimpin Dr. Ai Peng Tan dari National University of Singapore ini memantau perkembangan anak dari bayi hingga remaja melalui kohort Growing Up in Singapore Towards Healthy Outcomes. Hasilnya menunjukkan adanya rantai dampak yang mengkhawatirkan. Paparan layar dini mengubah jaringan otak, yang kemudian memperlambat kemampuan mengambil keputusan, dan akhirnya meningkatkan kerentanan terhadap kecemasan di usia 13 tahun.
Dua tahun pertama adalah masa pertumbuhan otak tercepat. Stimulasi visual dari layar yang sangat intens dan cepat ternyata mendorong sistem visual bayi untuk matang secara prematur. Meskipun terdengar positif, pematangan yang terlalu cepat ini justru merusak keseimbangan otak.
"Pematangan yang dipercepat terjadi ketika jaringan otak tertentu berkembang terlalu cepat, sering kali sebagai respons terhadap kesulitan atau rangsangan lainnya. Dalam perkembangan normal, jaringan otak secara bertahap menjadi lebih terspesialisasi seiring berjalannya waktu," ujar Dr. Huang Pei, penulis utama studi.
Ia menambahkan pada anak dengan paparan layar tinggi, jaringan pengontrol visi dan kognisi terspesialisasi lebih cepat sebelum membangun koneksi efisien yang diperlukan untuk berpikir kompleks. Akibatnya, fleksibilitas dan ketahanan otak anak dalam beradaptasi di kemudian hari menjadi terbatas.
Ketidakseimbangan jaringan otak ini mulai terlihat dampaknya saat anak berusia 8,5 tahun. Dalam tes pengambilan keputusan, anak-anak yang terpapar layar secara berlebihan saat bayi membutuhkan waktu lebih lama untuk menentukan pilihan. Sinyal sensorik yang tidak merata membuat otak mereka kesulitan memproses informasi secara efisien.
Masalah kognitif ini kemudian berkembang menjadi masalah mental. Saat memasuki usia 13 tahun, anak-anak dengan kecepatan pengambilan keputusan yang lambat tersebut melaporkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Para peneliti menemukan hubungan yang jelas: paparan layar dini memicu pematangan otak yang tidak alami, yang mengganggu regulasi emosi di masa remaja.
Di tengah temuan yang mengkhawatirkan ini, penelitian yang sama menemukan "obat" penawar yang efektif, yaitu membaca bersama orangtua. Interaksi manusia melalui membaca melibatkan perhatian bersama, ekspresi wajah, dan kehangatan emosional yang tidak dimiliki oleh layar.
Aktivitas membaca secara rutin terbukti mampu memperlemah hubungan antara paparan layar dini dengan perubahan otak yang merugikan.
"Penelitian ini memberi kita penjelasan biologis mengapa membatasi waktu layar di dua tahun pertama sangat krusial. Namun, ini juga menyoroti pentingnya keterlibatan orangtua, menunjukkan aktivitas orangtua dan anak, seperti membaca bersama, dapat memberikan perbedaan yang nyata," ujar Dr. Tan.
Pilihan kecil di awal kehidupan, seperti menjauhkan gawai dan memperbanyak interaksi manusia, terbukti menjadi investasi besar bagi kesehatan mental anak hingga mereka beranjak remaja. (Earth/Z-2)
Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia dinilai masih berisiko tertinggal dari rata-rata dunia dan dapat menjadi ancaman serius di masa depan.
Tak semua makanan baik untuk anak. Ketahui lima makanan yang sebaiknya dihindari agar tumbuh kembang otak anak optimal.
Learning Time hadir dengan program bermain berbasis milestone untuk bantu orang tua menstimulasi perkembangan anak optimal sejak 1.000 hari pertama kehidupan.
Alpukat mengandung lemak tak jenuh tunggal dan lemak tak jenuh ganda yang baik yang penting untuk perkembangan otak anak.
Makanan harian yang tepat bisa membantu perkembangan otak anak, sehingga mereka lebih fokus, daya ingat kuat, dan cepat menangkap pelajaran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved