Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
PERAN orangtua dalam kehidupan remaja tidak hanya sebatas menyediakan makan dan pakaian, tetapi juga membentuk iklim emosional di rumah. Sebuah studi terbaru yang melibatkan 583 pelajar di wilayah barat Nepal menunjukkan pola asuh memiliki kaitan kuat dengan perbedaan tingkat depresi, kecemasan, stres, hingga kepercayaan diri pada remaja.
Secara global, satu dari tujuh remaja hidup dengan gangguan mental. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat masa remaja berlangsung dari usia 10-19 tahun, periode krusial ketika dukungan emosional keluarga sangat berpengaruh.
Psikolog menyebut pola asuh sebagai pola konsisten yang menunjukkan kehangatan dan kontrol orangtua terhadap anak. Secara umum, pola asuh terbagi menjadi tiga kategori utama, otoritatif, otoriter, dan permisif.
Penelitian ini dipimpin Rabina Khadka, dosen kesehatan masyarakat di Manmohan Memorial Institute of Health Sciences, Kathmandu. “Pola asuh otoriter berhubungan dengan kesehatan mental dan harga diri yang lebih baik pada remaja,” ujar Khadka
Pola asuh otoritatif dikenal seimbang, menggabungkan ekspektasi yang jelas dan respons yang hangat. Temuan tim menunjukkan kombinasi ini membantu remaja menghadapi tekanan dan tantangan dengan lebih percaya diri.
Studi dilakukan secara potong lintang melalui survei satu kali terhadap pelajar di Kota Bheemdatt. Remaja diminta melaporkan gejala depresi, kecemasan, stres, serta tingkat kepercayaan diri.
Hasilnya, sekitar sepertiga remaja menunjukkan gejala depresi, sementara hampir setengah mengalami kecemasan. Sekitar seperempat berada pada tingkat stres tinggi, meski sebagian besar tetap melaporkan kepercayaan diri yang cukup baik.
Analisis statistik memperhitungkan berbagai faktor latar belakang sehingga hubungan antara pola asuh dan kesehatan mental dinilai konsisten. Peneliti juga menemukan remaja yang mengalami perundungan atau merasa kurang dekat dengan teman maupun guru memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan psikologis.
Studi ini juga menyoroti pola asuh otoriter, yang ditandai aturan ketat dan minim diskusi. Remaja dalam keluarga seperti ini cenderung lebih sering melaporkan gejala depresi dan memiliki pandangan diri yang lebih negatif.
Sebaliknya, pola asuh permisif, yang hangat namun minim batasan, berhubungan dengan tingkat stres lebih tinggi. Ketika tekanan sekolah meningkat, remaja dapat merasa kurang didukung karena tidak memiliki struktur atau batasan yang jelas.
Hasil penelitian menegaskan pentingnya lingkungan rumah yang suportif. Di mana orangtua mampu mengenali perubahan emosi anak dan merespons dengan tenang. Temuan ini sejalan dengan pedoman WHO yang menekankan pentingnya hubungan antara rumah, sekolah, dan komunitas bagi kesehatan mental remaja.
Selain itu, remaja yang menghadapi pengasuhan tidak suportif sekaligus perundungan di sekolah menanggung beban ganda. Kondisi ini mempersempit ruang pemulihan emosional mereka.
Sekolah dan pemerintah lokal dapat berperan dengan memperkuat layanan konseling, menerapkan aturan anti-bullying, serta mendorong keterlibatan orangtua dalam isu kesehatan mental. Bagi keluarga, percakapan rutin, aktivitas bersama, dan aturan yang jelas namun tetap menghormati anak dapat membantu membangun ketahanan emosional remaja.
Penelitian ini menunjukkan pola komunikasi, cara mendengarkan, dan batasan yang diterapkan orang dewasa di rumah berperan besar dalam kondisi emosional remaja. Faktor-faktor tersebut dapat menentukan apakah tekanan yang mereka alami berubah menjadi masalah jangka panjang atau tetap berada pada level yang dapat dikendalikan.(Earth/Z-2)
Kasus rawat inap gangguan makan pada pria melonjak hingga 416%. Simak penjelasan ahli mengenai pemicu sosial media dan gejala yang sering terabaikan.
Studi terbaru mengungkap 36% remaja laki-laki terjebak dalam praktik judi terselubung seperti loot boxes di game online dan iklan algoritma di media sosial.
Studi terbaru mengungkap membiarkan remaja tidur lebih lama di akhir pekan dapat menurunkan risiko depresi hingga 41%. Simak penjelasan ahli di sini.
Penelitian terbaru mengungkap paparan layar (screen time) pada usia di bawah 2 tahun dapat mempercepat pematangan saraf secara tidak alami dan memicu gangguan kecemasan.
Kesehatan mental pelajar semakin memprihatinkan. Data CDC dan WHO menunjukkan tingginya depresi, pikiran bunuh diri, dan kasus bullying pada remaja di sekolah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved