Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Waspada! Judi Online Terselubung Incar Remaja Lewat Game dan Medsos

Thalatie K Yani
05/2/2026 10:31
Waspada! Judi Online Terselubung Incar Remaja Lewat Game dan Medsos
Ilustrasi(freepik)

PRAKTIK perjudian kini semakin jamak ditemui di kalangan remaja laki-laki usia 11 - 17 tahun di Amerika Serikat. Ironisnya, banyak orangtua yang tidak menyadari hal ini karena aktivitas tersebut kerap menyamar dalam fitur permainan daring.

Laporan terbaru dari Common Sense Media mengungkapkan mekanisme seperti loot boxes, gacha, dan skin cases dalam video game beroperasi layaknya mesin slot modern. Michael Robb kepala penelitian di Common Sense Media, menjelaskan sistem ini menormalkan pembayaran uang asli untuk hadiah acak.

“Perjudian adalah sesuatu yang semakin tertanam dalam ruang digital tempat anak laki-laki menghabiskan waktu,” ujar Robb. “Lebih dari satu dari tiga anak laki-laki antara usia 11-17 tahun berjudi dalam setahun terakhir. Bagi banyak orang, paparan paling umum bukanlah jenis taruhan tradisional seperti judi olahraga atau poker, melainkan sistem perjudian berbasis game yang terlihat dan terasa seperti judi, namun mungkin tidak segera dikenali sebagai perjudian.”

Statistik yang Mengkhawatirkan

Studi terhadap lebih dari 1.000 remaja laki-laki ini menemukan 36% responden telah berjudi dalam satu tahun terakhir. Selain melalui game, sekitar 12,5% remaja terlibat dalam judi tradisional seperti poker, dan satu dari delapan anak bertaruh pada pertandingan olahraga.

Selain interaksi langsung, paparan iklan juga sangat masif. Sebanyak 60% remaja melaporkan melihat iklan judi di YouTube, TikTok, dan Instagram. Seringkali, konten ini muncul melalui algoritma tanpa dicari oleh sang anak.

Dampak Psikologis dan Risiko Kecanduan

Paparan judi di usia dini berisiko menciptakan pola perilaku bermasalah di masa dewasa. Dr. Erin Palmwood, seorang psikolog klinis, menekankan otak remaja masih berkembang, terutama di area pengambilan keputusan dan kontrol impuls.

“Hal ini membuat kebiasaan terbentuk lebih cepat, dan juga membuatnya lebih sulit untuk dihentikan setelah terbentuk,” jelas Palmwood. Dampaknya bisa meluas ke penurunan prestasi akademik, gangguan kecemasan, hingga depresi.

Langkah Pencegahan bagi Orangtua

Robb menekankan tidak semua aktivitas ini harus dianggap jahat, namun orang tua perlu membangun batasan yang jelas. Ia menyarankan agar orang tua tidak memberikan akses langsung ke kartu kredit di dalam game dan rutin meninjau riwayat pembelian bersama anak.

“Saya tidak berbicara tentang ceramah. Maksud saya adalah percakapan, menetapkan ekspektasi tentang pengeluaran dalam game yang wajar atau memiliki batas pengeluaran,” saran Robb.

Ia menambahkan bahwa frekuensi aktivitas lebih penting dipantau daripada kesalahan sekali pakai. Pola bermasalah biasanya berkembang bertahap seiring anak-anak terbiasa dengan sistem berbasis keberuntungan tersebut.(Parents/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik