Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Hanya 1 dari 4 Remaja AS yang Cukup Tidur, Ini Dampaknya

Thalatie K Yani
09/3/2026 13:00
Hanya 1 dari 4 Remaja AS yang Cukup Tidur, Ini Dampaknya
Ilustrasi(freepik)

REMAJA Amerika Serikat saat ini melaporkan tingkat tidur terendah dalam lebih dari satu dekade pemantauan nasional. Tren penurunan ini menempatkan mayoritas siswa jauh di bawah durasi istirahat yang dibutuhkan oleh otak yang sedang berkembang.

Berdasarkan analisis Taeho Greg Rhee dari University of Connecticut School of Medicine (UConn) yang diterbitkan dalam jurnal JAMA, krisis ini telah menyebar secara sistemis. Tahun 2023, tercatat hanya satu dari empat remaja yang berhasil mencapai waktu tidur delapan jam pada malam sekolah.

Lonjakan Remaja dengan "Malam Terpendek"

Data nasional menunjukkan pergeseran yang mengkhawatirkan pada kelompok remaja dengan waktu tidur paling sedikit. Proporsi remaja yang tidur lima jam atau kurang dalam semalam melonjak dari sekitar 16% pada 2007 menjadi kira-kira 23% pada 2023.

Kondisi ini bukan sekadar masalah rasa kantuk. Tidur nyenyak sangat krusial bagi tubuh untuk memperbaiki jaringan, mengatur ulang sinyal stres, dan menjaga kontrol gula darah. Remaja yang tidur kurang dari lima jam berada dalam zona risiko serius terhadap masalah kesehatan dan hambatan belajar.

Organisasi medis menekankan bahwa remaja membutuhkan 8 hingga 10 jam tidur. Otak yang sedang tumbuh menggunakan waktu tersebut untuk mengunci memori dan menstabilkan suasana hati. Tanpa itu, mereka akan kesulitan mengatur emosi dan daya ingat melambat saat di sekolah.

Biologi vs Jadwal Sekolah

Secara biologis, masa pubertas mendorong remaja untuk tidur lebih larut. Namun, jadwal sekolah tidak menyesuaikan diri dengan perubahan biologis tersebut. Banyak siswa tetap harus terjaga jauh sebelum pukul 08.30 pagi untuk mengejar bus atau mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

Benturan antara kebutuhan biologis dan tuntutan jadwal ini membuat para peneliti mendefinisikan masalah tidur remaja sebagai masalah publik, bukan sekadar kebiasaan pribadi. Menariknya, penurunan kualitas tidur ini terjadi merata, baik pada siswa yang memiliki masalah kesehatan mental atau penggunaan zat, maupun mereka yang tidak memilikinya.

Taeho Greg Rhee menegaskan pentingnya perubahan dalam skala besar. "Tren ini menyoroti perlunya intervensi tingkat populasi di kalangan remaja," ujar Rhee, yang menggambarkan bahwa masalah ini jauh lebih besar daripada sekadar perilaku individu.

Dilema Layar dan Solusi Sekolah

Penggunaan media digital sering menjadi sasaran kritik, namun penelitian terhadap 79 pemuda menunjukkan poin yang lebih spesifik: penggunaan layar setelah di tempat tidur jauh lebih merusak daripada sebelum tidur. Aktivitas interaktif seperti berkirim pesan dan menggulir media sosial menjaga otak tetap waspada saat seharusnya mulai beristirahat.

Salah satu solusi yang terbukti efektif adalah memundurkan jam masuk sekolah. Sebuah studi di Minnesota menunjukkan bahwa memulai sekolah lebih siang berhasil memperpanjang waktu tidur siswa dan mengurangi kebiasaan "balas dendam" tidur di akhir pekan.

Hingga jadwal sekolah, teknologi, dan ekspektasi sosial berubah, banyak remaja akan terus memulai hari mereka dalam kondisi kekurangan energi yang kronis. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya