Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Terdeteksi 42 Jenis "Forever Chemicals", Paparan Kimia pada Janin Ternyata Lebih Tinggi dari Dugaan

Thalatie K Yani
24/2/2026 13:43
Terdeteksi 42 Jenis
Ilustrasi(freepik)

SEBUAH studi terbaru mengungkap fakta mengejutkan mengenai paparan zat kimia abadi atau per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS) pada bayi yang lahir di awal era 2000-an. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Science & Technology ini menemukan janin terpapar jauh lebih banyak varian zat kimia berbahaya di dalam rahim daripada yang pernah disadari sebelumnya.

Dengan menggunakan metode penyaringan kimia canggih pada darah tali pusat, para ilmuwan berhasil mendeteksi 42 senyawa PFAS yang berbeda. Jumlah ini jauh melampaui hasil tes standar yang biasanya hanya memeriksa segelintir jenis senyawa saja.

Mengapa Disebut "Zat Kimia Abadi"?

PFAS merupakan zat kimia sintetis yang ditemukan pada produk sehari-hari seperti peralatan masak antilengket, kemasan makanan, kain tahan noda, hingga busa pemadam kebakaran. Zat ini dijuluki "zat kimia abadi" karena proses penguraiannya yang sangat lambat, sehingga terus menumpuk di lingkungan dan di dalam tubuh manusia.

Penelitian ini dipimpin Dr. Shelley H. Liu dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai. Timnya menjadi yang pertama menggunakan analisis kimia non-target untuk memindai ratusan hingga ribuan bahan kimia sekaligus pada sampel darah tali pusat dari 120 bayi yang lahir antara tahun 2003 dan 2006.

Mengubah Paradigma Medis

Temuan ini membuktikan bayi terpapar campuran PFAS yang sangat beragam sebelum dilahirkan, termasuk senyawa-senyawa baru yang efek kesehatannya belum sepenuhnya dipahami. Dr. Liu menekankan cara mengukur paparan ini sangat memengaruhi kesimpulan medis.

"Temuan kami menunjukkan metode pengukuran PFAS sangatlah penting," ujar Dr. Liu. "Ketika kita melihat secara lebih komprehensif, kita mendapati bahwa bayi terpapar jauh lebih banyak zat kimia PFAS sebelum lahir daripada yang kita sadari sebelumnya, dan beberapa pola yang kita anggap sudah kita pahami mungkin akan berubah."

Sebelumnya, penelitian dengan lingkup lebih sempit menyebutkan adanya perbedaan tingkat paparan antara bayi dari ibu yang baru pertama kali hamil dengan ibu yang sudah pernah hamil. Namun, dengan metode baru yang lebih menyeluruh ini, perbedaan tersebut tidak ditemukan.

Risiko Jangka Panjang bagi Kesehatan Anak

Masa kehamilan merupakan jendela perkembangan yang sangat sensitif. Penelitian sebelumnya telah mengaitkan paparan PFAS prenatal dengan berbagai masalah kesehatan, mulai dari berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, perubahan respons imun terhadap vaksin, hingga gangguan metabolisme.

"Memahami gambaran lengkap ini sangat penting jika kita ingin melindungi kesehatan anak dan mengurangi risiko lingkungan yang dapat dicegah," tambah Dr. Liu.

Saat ini, paparan PFAS memang belum diukur secara rutin dalam praktik klinis. Namun, para peneliti berharap metode baru ini dapat membantu dokter di masa depan untuk memantau populasi yang berisiko tinggi dan menginformasikan strategi pengobatan pencegahan sejak dini.

Langkah selanjutnya, tim peneliti berencana mengamati apakah akumulasi paparan PFAS yang tinggi di awal kehidupan ini berkaitan dengan masalah kesehatan pada anak-anak tersebut saat mereka beranjak remaja. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya