Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Puasa Ramadan, Momentum Medis dan Psikologis untuk Regulasi Emosi

Basuki Eka Purnama
16/2/2026 18:04
Puasa Ramadan, Momentum Medis dan Psikologis untuk Regulasi Emosi
Ilustrasi(Freepik)

IBADAH puasa di bulan Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, momentum satu bulan penuh ini merupakan kesempatan emas bagi setiap individu untuk meregulasi emosi dan memperbaiki kualitas diri.

Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Internasional Batam (UIB), dr. Revit Jayanti S, Sp.KJ, menjelaskan bahwa suasana menenangkan di bulan Ramadan berakar dari makna spiritual yang mendalam. 

Namun, secara klinis, ketenangan tersebut juga didukung oleh proses biologis yang terjadi di dalam tubuh manusia.

Proses Neurologi saat Berpuasa

Secara neurologi, tubuh mengalami perubahan signifikan saat berpuasa. Pada jam-jam awal, penurunan kadar gula darah sering kali memicu rasa lelah dan membuat seseorang menjadi lebih sensitif secara emosi. 

Selain itu, perubahan pola tidur dan makan dapat meningkatkan hormon kortisol (stres) serta memicu proses autophagy.

“Puasa membantu proses 'pembersihan' sel, termasuk otak,” ujar Revit, Minggu (15/2).

Proses pembersihan sel ini berperan penting dalam perlindungan dan perbaikan sel saraf. 

Selain itu, puasa dapat meningkatkan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), sebuah protein yang memiliki peran krusial dalam fungsi kognitif dan kemampuan seseorang dalam meregulasi emosi.

Tantangan Perilaku Konsumtif

Meski esensi puasa adalah pengendalian diri, Revit menyoroti fenomena meningkatnya perilaku konsumtif di masyarakat, seperti menjamurnya pasar takjil. 

Menurutnya, dorongan impulsif untuk berbelanja secara berlebihan merupakan bentuk reaksi yang seharusnya bisa dikendalikan.

“Mungkin di awal-awal Ramadan tubuh kita merasakan lemah, letih, dan mudah capek, karena perubahan tadi. Tapi tubuh ini memiliki kemampuan beradaptasi. Setelah lewat tiga hari itu, pasti sudah 'enjoy' menjalaninya,” ungkapnya.

Seni Meregulasi Emosi

Revit menekankan bahwa regulasi emosi bukan berarti menekan atau memendam perasaan. Sebaliknya, hal ini adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi agar tetap terkendali dan diekspresikan secara sehat.

“Meregulasi emosi bukan berarti menahan atau menekan perasaan. Tetapi menyadari apa yang sedang dirasakan, memahami penyebabnya, mengontrol respons agar tidak berlebih dan mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat,” jelasnya.

Untuk menjaga kestabilan emosi selama berpuasa, ia membagikan beberapa tips praktis:

  1. Teknik Pernapasan: Menggunakan metode 4x4x4 (tarik napas 4 detik, tahan 4 detik, dan embuskan 4 detik) untuk menenangkan sistem saraf.
  2. Manajemen Energi: Mengatur energi dengan tidur yang cukup dan mengonsumsi protein saat sahur.
  3. Berpikir Realistis: Mengganti pikiran negatif dengan logika yang masuk akal. “Misalnya, selama puasa mau istirahat saja tidak kerja, lalu terima gaji THR. Apa bisa begitu? Ini kan enggak realistis namanya,” pungkas dr. Revit.

Melalui perpaduan antara ibadah dan pemahaman medis yang tepat, Ramadan diharapkan menjadi madrasah bagi umat Muslim untuk membentuk kesabaran, empati, dan kontrol diri yang lebih kuat. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik