Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
IBADAH puasa di bulan Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, momentum satu bulan penuh ini merupakan kesempatan emas bagi setiap individu untuk meregulasi emosi dan memperbaiki kualitas diri.
Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Internasional Batam (UIB), dr. Revit Jayanti S, Sp.KJ, menjelaskan bahwa suasana menenangkan di bulan Ramadan berakar dari makna spiritual yang mendalam.
Namun, secara klinis, ketenangan tersebut juga didukung oleh proses biologis yang terjadi di dalam tubuh manusia.
Secara neurologi, tubuh mengalami perubahan signifikan saat berpuasa. Pada jam-jam awal, penurunan kadar gula darah sering kali memicu rasa lelah dan membuat seseorang menjadi lebih sensitif secara emosi.
Selain itu, perubahan pola tidur dan makan dapat meningkatkan hormon kortisol (stres) serta memicu proses autophagy.
“Puasa membantu proses 'pembersihan' sel, termasuk otak,” ujar Revit, Minggu (15/2).
Proses pembersihan sel ini berperan penting dalam perlindungan dan perbaikan sel saraf.
Selain itu, puasa dapat meningkatkan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), sebuah protein yang memiliki peran krusial dalam fungsi kognitif dan kemampuan seseorang dalam meregulasi emosi.
Meski esensi puasa adalah pengendalian diri, Revit menyoroti fenomena meningkatnya perilaku konsumtif di masyarakat, seperti menjamurnya pasar takjil.
Menurutnya, dorongan impulsif untuk berbelanja secara berlebihan merupakan bentuk reaksi yang seharusnya bisa dikendalikan.
“Mungkin di awal-awal Ramadan tubuh kita merasakan lemah, letih, dan mudah capek, karena perubahan tadi. Tapi tubuh ini memiliki kemampuan beradaptasi. Setelah lewat tiga hari itu, pasti sudah 'enjoy' menjalaninya,” ungkapnya.
Revit menekankan bahwa regulasi emosi bukan berarti menekan atau memendam perasaan. Sebaliknya, hal ini adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi agar tetap terkendali dan diekspresikan secara sehat.
“Meregulasi emosi bukan berarti menahan atau menekan perasaan. Tetapi menyadari apa yang sedang dirasakan, memahami penyebabnya, mengontrol respons agar tidak berlebih dan mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat,” jelasnya.
Untuk menjaga kestabilan emosi selama berpuasa, ia membagikan beberapa tips praktis:
Melalui perpaduan antara ibadah dan pemahaman medis yang tepat, Ramadan diharapkan menjadi madrasah bagi umat Muslim untuk membentuk kesabaran, empati, dan kontrol diri yang lebih kuat. (Ant/Z-1)
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Human Initiative terus melakukan evaluasi dalam setiap pelaksanaan program.
Konsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi dapat menyebabkan kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
Inisiatif ini hadir sebagai solusi nyata bagi para pekerja kebun dan masyarakat sekitar dalam menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok yang biasanya terjadi selama bulan suci.
Suasana lingkungan yang kondusif hanya bisa tercipta jika terdapat hubungan harmonis antar pemeluk agama.
Namun, di tengah kemajuan tersebut, optimalisasi zakat nasional belum menunjukkan lompatan yang sepadan.
Konsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi dapat menyebabkan kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
SETIAP akhir Ramadan, jutaan orang bergerak mudik ke kampung halaman. Semua orang ingin merayakan Idul Fitri bersama keluarga dan orang-orang terdekat.
IDULFITRI adalah hari raya yang menandai akhir Ramadan dan rangkaian ibadah yang ada di dalamnya, khususnya puasa dan salat Tarawih.
Marah adalah ekspresi jiwa yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Daniel Goleman, dalam buku Emotional Intelligence (1995) mengutip Aristoteles (Atistotle) tentang marah
DALAM bahasa Inggris ada ungkapan: It's no use crying over split milk. Tak ada gunanya menangisi susu yang telah tumpah.
PADA sepuluh hari terakhir Ramadan, sebagian umat Islam berkeyakinan akan ada Lailatulqadar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved