Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Puasa: Kritik atas Sekularisme

Sukron Kamil Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta
27/2/2026 05:05
Puasa: Kritik atas Sekularisme
(MI/Seno)

DI antara isu yang mengguncang dunia Islam dari Maroko di barat hingga Indonesia di timur adalah sekularisme, baik sekularisme politik maupun kultural. Sekularisme merupakan produk Barat modern sesuai konteks sosiologinya, di mana kaum agamawan dengan kaum sekuler berhadap-hadapan, bahkan berperang seperti tampak dalam Revolusi Prancis dan lahirnya komunisme. Di awal kelahiran sains, saat Gereja berkuasa dengan negara teokrasinya banyak memenjarakan para ilmuwan, seperti Galileo Galilei dan menghukum gerakan agama rasional Protestan. Perang agama pun terjadi di Jerman, Belanda, Belgia, Inggris, dan Prancis, meski di Prancis dimenangkan kaum Katolik. Dunia Islam belakangan, secara politik terbelah dua: ada yang menganut negara sekuler, ada yang sebaliknya, teokratis (Islamic state). Karenanya, isu ini penting dibahas, khususnya terkait dengan puasa Ramadaan.

 

SEKULARISME POLITIK

Dalam teori sekularisme politik terdapat dua kecenderungan: sekularisme politik absolut sebagai freedom from religion yang alergi dengan agama, dan sekularisme politik moderat sebagai freedom of religion yang memberikan kebebasan beragama. Dalam pengertian pertama, sekularisme dipraktikkan di Prancis. Transisi ke republik/sekularisme absolut pada masa Revolusi Prancis telah menyapu bersih agama dari ruang publik. Sekularisme di Prancis bahkan dimulai dengan perampasan, penghinaan, dan peminggiran agama Katolik (Gereja). Yang paling ekstrem yang memusuhi agama sama sekali dipraktikkan di Uni Soviet/Rusia yang komunis/Tiongkok.

Sekularisme dalam pengertian freedom of religion memang tidak alergi kepada agama, karena agama sebagai wilayah pribadi, bukan negara yang bisa menindas. Para penganut agam pun diberikan kebebasan sebagai bagian dari HAM (hak asasi manusia). Namun, itu berarti berkembangnya agnostisisme (memercayai adanya Tuhan, tetapi tidak beragama formal) dan juga ateisme individual. Agama dianggap rendah, tak rasional dan tak sesuai sains yang empiris, sebagaimana dipraktikkan di Eropa Barat yang membuat sebagian gereja berlumut, ditinggalkan.

Namun, belakangan Habermas memunculkan sekularisme moderat lain, model ruang publik/negara multikultural, yang menerima aspirasi religius tanpa harus diblokir. Dengan begitu, kebijakan publik/negara menjadi lebih terlegitimasi karena melibatkan semua pihak, tanpa membungkam aspirasi religius. Namun, aspirasi religius itu harus diperdebatkan secara rasional; tidak melanggar HAM kaum minoritas; masing-masing (kaum sekuler, agamawan mayoritas/minoritas) saling mendengar; dan negara harus netral.

Di dunia Islam, sekularisme absolut pernah dipraktikkan Turki pada masa Kemal Pasha Ataturk (1881-1939), yang tak membolehkan azan dalam bahasa Arab dan melarang simbol-simbol Islam berada di ruang publik/politik. Sekularisme ini ditegakkan secara harfiah oleh kekuatan militer sebagai penjaga gawangnya. Mereka, bahkan acapkali kudeta terhadap pemerintah sipil hasil pemilu yang membawa Islam pada politik. Di Aljazair, Habib Bourquioba (berkuasa 1956-1987) pernah melarang para pekerja berpuasa pada bulan Ramadan karena dinilainya berpengaruh pada rendahnya produktivitas. Bahkan menutup Zaytouna, pusat kajian Islam. Sementara sekularisme moderat versi Habermas di atas kini dipraktikkan Indonesia, Turki periode Erdogan, dan Tunisia.

Puasa Ramadan/Islam menolak klaim sekularisme absolut dan juga sekularisme moderat versi agnostisisme, apalagi ateisme yang anti Tuhan. Dalam puasa Ramadan/Islam, sesuai nilai-nilai puasa berada pada pertengahan di antara dua pendapat ekstrem yang saling berlawanan; Sayyid Qutub dan al-Maududi yang teokratis, dan Ali Abd al-Raziq yang sekuler. Islam berada di tengah, dan dalam Islam terdapat prinsip-prinsip politik yang tercantum dalam Piagam Madinah Nabi Muhammad, yaitu multikulturalisme, minimal kewargaan, toleransi, pengakuan terhadap persamaan semua penduduk, dan keadilan sebagai tujuan negara.

Meski begitu, praktik politik Nabi juga berbeda dengan kaum teokratis/spiritualisme absolut, seperti yang berlaku di Iran, Arab Saudi, dan Sudan modern yang problem dalam kebebasan beragama dan antikritik. Alasannya, karena Nabi sendiri memberi ruang bagi perbedaan, terutama dalam bidang non-wahyu/non-ibadah. Lokasi Perang Badar yang terjadi di bulan Ramadan, Uhud, dan Parit adalah masukan dari sahabatnya. Nabi bahkan dikritik habis saat hendak melakukan Perjanjian Hudaibiyah dan Nabi menghormati hak hidup dan hak manusia lainnya dengan memaafkan musuh yang menghina dan memeranginya. Bahkan, anak musuh terbesarnya, Ikrimah bin Abu Jahal, menjadi sahabatnya. Sementara nonmuslim dilindungi dengan diberikan hak kebebasan beragama dan hak politik sesuai Piagam Madinah.

Puasa Ramadan tampak menganut sekularisme moderat/campuran/sekularisme-teokratis. Sekularisme yang berarti keduniaan dalam puasa tampak dari keharusan berbuka saat magrib, dianjurkan sahur, mengenakan pakaian baru kala Idul Fitri, memberikan buka puasa kepada orang lain, keharusan menaikkan zakat fitrah, dibolehkannya pemenuhan seksual malam hari, dan puasa sunah maksimal dalam bentuk puasa Nabi Daud (sehari puasa, sehari tidak). Itu semua memperlihat moderatisme (wasathiyyah), bahwa Islam berada di antara sekularisme dan teokratisme/kependetaan. Antara pandangan spiritualisme yang memandang hidup hanyalah rohani semata dan materialisme yang memandang hidup adalah materi/sekuler semata. Dalam puasa Ramadan juga ada sisi checks and balances seperti mengingatkan imam Tarawih yang salah; meritokrasi bahwa yang berhak menjadi imam ialah yang fasih bacaannya, dan sering kali ayat yang dibaca saat Tarawih ialah ayat keragaman sosial. Bahkan, nonmuslim di akhir Ramadan bisa mendapatkan zakat fitrah/sedekah jika miskin dan tak memerangi.

 

SEKULARISME BUDAYA

Adapun sekularisme budaya adalah sekularisme dalam konteks bukan kenegaraan, melainkan dalam konteks kehidupan sosial budaya. Bentuknya ialah ateisme/agnostisisme di atas. Ini disampaikan oleh Karl Marx dan Max Weber, bahwa semakin manusia tersainskan, maka agama akan kehilangan relevansinya. Agama akan menghilang. Albert Camus (1913-1960) bahkan menyuarakan keharusan manusia modern menolak Tuhan secara membabi buta agar cinta mereka tercurah kepada manusia, bukan kepada Tuhan, meski dalam Islam, Tuhan Mahakaya, dan Islam datang untuk menjaga hak hidup, agama, akal, keturunan, dan harta kekayaan manusia. Di Eropa/AS/Jepang, ateisme belakangan bukan hanya ideologi segelintir intelektual, melainkan menjadi keyakinan masif. Maka, meski kaya, masyarakatnya kehilangan makna hidup, mengalami kenestapaan, dan tingginya tingkat bunuh diri.

Puasa/Islam menekankan sekularisme budaya moderat bukanlah sekularisme budaya absolut yang memandang hidup segalanya serba-duniawi, sebagaimana kaum dahriyyun pra-Islam (masa Nabi) yang menolak akhirat (eskatologi). Hidup adalah soal dunia (sekuler) dan saat ini saja (sekuler). Namun, yang ditekan puasa harus menduniawikan hal-hal yang seharusnya duniawi (bukan wilayah sakral) yang karenanya harus melakukan desakralisasi terhadap hal-hal duniawi (mu’amalat). Dalam soal bagaimana bertani yang benar dan baik, misalnya, itu adalah urusan sekuler, sesuai hadis riwayat Muslim: “Kalian lebih tahu dalam urusan dunia (sekuler) kalian.” Tentu saja dengan tetap merujuk pada prinsip-prinsip Islam.

Namun, harus tetap melakukan sakralisasi terhadap hal-hal spiritualitas seperti dalam soal eskatologi, wahyu, dan ibadah seperti puasa. Puasa seberapa pun menyakiti badan dan tak rasional, harus dilakukan dengan ikhlas, karena puasa adalah cara Allah agar manusia tidak bersikap sekuler absolut. Dalam puasa, rohani manusia lebih berpengaruh pada jasmaninya ketimbang sebaliknya. Ini sebagaimana diakui ahli genom, ahli psychology of money (yang menentukan kesuksesan keuangan ialah akhlak/hatinya, seperti disiplin [sabar] dalam berinvestasi, sikap berintegritas, dan bersyukur yang menjadi tujuan puasa [QS. 2: 183-185]). Bahkan, riset terkini menyebut, 55% usia seseorang ditentukan oleh genetika (takdir), dan dalam Islam/puasa, tanpa beragama, manusia tak akan bahagia karena agama adalah kodratnya (QS 7: 172). Wallah a’lam bis-shawab.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya