Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Tanggapi Kasus Pandji Pragiwaksono, Alissa Wahid : Kalau Humor Dilarang, Kritik tak Punya Ruang

Abi Rama
13/1/2026 19:02
Tanggapi Kasus Pandji Pragiwaksono, Alissa Wahid : Kalau Humor Dilarang, Kritik tak Punya Ruang
Para tokoh dalam Gerakan Nurani Bangsa(Abi Rama/MI)

PUTRI Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, sekaligus Perwakilan Gerakan Nurani Bangsa (GNB), Alissa Wahid, menegaskan bahwa humor memiliki peran penting sebagai medium kritik dan refleksi sosial. Hal itu ia sampaikan merespons kasus laporan terhadap Komika Pandji Pragiwaksono dalam acara Mens Rea. 

Menurutnya, kritik terhadap kehidupan yang semakin kompleks justru lebih mudah dipahami dan diterima apabila disampaikan melalui humor.

Alissa menilai humor bukan sekadar sarana hiburan, melainkan cara efektif untuk menyampaikan kritik kepada masyarakat maupun penguasa. Ia menyebut, jika humor mulai dilarang, maka ruang kritik yang lebih serius berpotensi semakin menyempit.

“Kalau kemudian humor itu justru sekarang dilarang, kita bisa membayangkan kritik yang lebih serius akan jauh lebih berat lagi dan tidak akan ada ruang,” ujar Alissa di Graha Pemuda, Jakarta, Selasa (13/1).

Ia menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk pengekangan kebebasan berpandangan, berpendapat, berkumpul, dan berserikat. Menurut Alissa, kebebasan berekspresi termasuk menyampaikan kritik melalui demonstrasi, komedi, maupun media sosial merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi.

Alissa juga mengingatkan rakyat yang kritis bukanlah musuh negara. Sebaliknya, sikap kritis masyarakat merupakan modal utama bagi kemajuan bangsa. Ia menilai pelarangan kritik justru akan membawa Indonesia ke arah kemunduran.

“Kalau rakyatnya tidak boleh mengkritik, itu berarti Indonesia sebagai negara pasti akan segera mengalami kemunduran,” katanya.

Sebagai pengikut pemikiran Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alissa menegaskan sikapnya menolak segala bentuk penindasan terhadap pihak-pihak yang menyampaikan pendapat, termasuk para komika. Ia menyebut, kebebasan berpendapat merupakan nilai yang secara konsisten diperjuangkan oleh Gus Dur.

Alissa kemudian mengingatkan humor legendaris Gus Dur pada masa Orde Baru tentang masyarakat Indonesia yang berobat ke dokter gigi di Singapura karena “bisa membuka mulut”. Menurutnya, humor tersebut menjadi kritik tajam terhadap situasi politik yang mengekang kebebasan berbicara saat itu.

“Jangan sampai di masa depan orang tidak boleh buka mulut lagi,” ujar Alissa.

Ia berharap kasus-kasus yang berpotensi membungkam kebebasan berekspresi tidak terulang, agar ruang kritik, termasuk melalui humor, tetap terjaga dalam kehidupan demokrasi Indonesia. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya