Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Prabowo Subianto menyoroti dilema yang kerap dihadapi pejabat pemerintah saat turun ke lokasi bencana. Menurutnya, kehadiran pemimpin di lapangan sering kali dinilai serba salah, dikritik ketika datang, namun juga disalahkan ketika tidak hadir langsung.
Hal tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan arahan dalam rapat terbatas bersama 10 menteri serta Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, dan Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi di lokasi pembangunan Rumah Hunian Danantara, Aceh Tamiang, Kamis (1/1).
Prabowo mengungkapkan bahwa sebagian kritik publik kerap muncul dari sudut pandang yang selalu negatif terhadap aktivitas pemerintah, termasuk dalam situasi penanganan bencana.
"Saya pernah dengar ada kritik begini, 'Untuk apa menteri datang ke tempat bencana hanya datang melihat?' Saudara-saudara, serba susah," ujar Prabowo.
"Menteri tidak datang, dibilang tidak peduli. Menteri datang, ya masa menteri ikut macul? Bukan itu," lanjutnya.
Menurut Prabowo, kehadiran pemimpin dan pejabat pemerintah di daerah bencana sejatinya memiliki tujuan substantif, yakni melihat langsung kondisi di lapangan, mengidentifikasi persoalan, serta menentukan langkah-langkah cepat yang dibutuhkan masyarakat.
"Pejabat datang, pemimpin datang melihat apa kekurangan, apa masalah, apa yang bisa kita bantu, mana yang kita bisa percepat kan begitu. Saya datang ketemu gubernur, gubernur sampaikan kita butuh ini, kita itu, Pak ada usul ini, ada saya tahu langsung saya bisa cek, kan begitu ceritanya," kata Prabowo.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa kritik, hujatan, bahkan fitnah merupakan konsekuensi yang harus dihadapi oleh setiap pemimpin. Namun, hal tersebut tidak boleh melemahkan semangat kerja, melainkan dijadikan bahan evaluasi dan kewaspadaan dalam mengambil kebijakan.
Ia juga menekankan bahwa pendekatan kerja pemerintah tidak bersifat seremonial, melainkan berorientasi pada bukti dan hasil nyata. Kehadiran pejabat di lapangan, menurutnya, merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan yang berbasis fakta.
"Kita sekarang dalam rangka membuktikan. Jadi kalau ada menteri-menteri, pejabat turun, itu dia tidak turun untuk wisata. dia datang dia melihat, mencatat, mengerti mengambil keputusan, kan demikian," ujarnya.
Lebih lanjut, Kepala Negara menegaskan bahwa prioritas utama pemerintah adalah meringankan penderitaan masyarakat. Kritik publik dipandang sebagai pengingat, namun tidak boleh menghambat upaya negara dalam mengurus kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
"Tugas kita, saya, walaupun tidak sehari-hari sama saudara ya, saya di pusat ya, saya berpikir bagaimana saya atasi ini, membantu saudara di lapangan. Tetapi sementara nasib 280 juta rakyat Indonesia tetap harus kita urus secara nasional," ujarnya. (Ant/P-4)
Putri Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, menegaskan humor punya posisi penting sebagai medium kritik dan refleksi sosial.
Alissa Wahid, menegaskan bahwa humor memiliki peran penting sebagai medium kritik. Itu disampaikan menanggapi kasus pandji pragiwaksono
Kehadiran buku sejarah baru merupakan bagian penting dari upaya memperkaya literasi dan pemahaman masyarakat terhadap perjalanan bangsa Indonesia.
Keputusan UI menghadirkan Peter Berkowitz sebagai pembicara di acara PSAU Pascasarjana 2025 memicu kecaman luas dari mahasiswa dan publik.
Negara demokrasi tanpa kritik dapat membuka jalan menuju otoritarianisme.
PT Agincourt Resources (PTAR) menjadi salah satu dari 28 perusahaan yang dicabut izinnya oleh pemerintah terkait dengan kerusakan ekologis yang menyebabkan bencana di Sumatra.
WAHANA Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatra Utara (Sumut) mengingatkan bahwa pencabutan izin perhutanan terhadap 28 perusahaan oleh pemerintah berisiko menjadi kebijakan simbolik.
Pencabutan izin 28 perusahaan oleh pemerintah tidak berhenti pada sanksi administratif.
ANCAMAN besar korban penyintas bencana di Aceh bukan hanya rumah yang digulung gelombang banjir bandang pada 24-27 November 2025 lalu.
Pemerintahan telah beralih dari melayani rakyat menjadi menanggapi tekanan opini.
Dari total lahan terdampak bencana tersebut, sebagian besar mengalami kerusakan berat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved