Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
ORANGTUA diimbau untuk lebih peka terhadap perkembangan bicara anak sejak dini. Pasalnya, keterlambatan bicara bisa menjadi indikator adanya masalah pendengaran, terutama bagi anak yang belum pernah menjalani skrining pendengaran.
Dokter spesialis THT dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana, dr. Fikry Hamdan Yasin, Sp.THT-BKL, Subsp.K.(K), menjelaskan bahwa fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
"Biasanya pada anak-anak yang mengalami tuli atau gangguan telinga sejak lahir itu, dia perkembangan bicaranya terganggu juga ya. Misalkan pada usia 6-8 bulan itu dia belum bisa babbling atau ngoceh-ngoceh. Atau dia belum bisa berkata kata-kata yang mengulang seperti mama, papa gitu ya," ujar Fikry, dikutip Rabu (25/3).
Meski memiliki kaitan erat, Fikry menekankan bahwa tidak semua gangguan bicara secara otomatis berarti anak mengalami ketulian.
Ada berbagai faktor eksternal lain yang bisa memicu keterlambatan bicara (speech delay) pada anak dengan pendengaran normal, di antaranya:
Oleh karena itu, orangtua disarankan untuk mengevaluasi pola asuh dan interaksi di rumah sebelum menyimpulkan adanya gangguan organ pendengaran.
Jika anak terbukti mengalami gangguan pendengaran, salah satu langkah rehabilitasi yang disarankan adalah Auditory Verbal Therapy (AVT). Terapi ini merupakan intervensi dini yang dirancang khusus untuk membantu anak mengembangkan kemampuan mendengar dan berkomunikasi secara lisan.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan urgensi penanganan masalah ini:
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Biasanya kalau di tempat ramai, dia (lansia) itu sudah merasa enggak bisa (mendengar). Itu disebut sebagai cocktail party deafness.
Penurunan fungsi pendengaran sering dianggap sebagai konsekuensi alami dari pertambahan usia.
Gangguan pendengaran adalah kondisi ketika kemampuan seseorang dalam menangkap suara menurun, baik sebagian maupun secara keseluruhan
Paparan suara keras secara terus menerus dapat menyebabkan tinitus kronis atau telinga berdenging dan penurunan pendengaran secara progresif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved