Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
PENURUNAN fungsi pendengaran sering dianggap sebagai konsekuensi alami dari pertambahan usia. Namun, proses degenerasi ini sebenarnya dapat diperlambat dengan langkah pencegahan yang tepat sejak dini.
Guru Besar Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan - Bedah Kepala dan Leher (THTBKL) dari RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, Prof. Dr. dr. Jenny Bashirudin, Sp.THTBKL, Subsp.NO (K), membagikan sejumlah kiat strategis untuk menjaga kesehatan telinga hingga usia lanjut.
Dalam sebuah diskusi daring di Jakarta, Prof. Jenny menekankan bahwa gaya hidup sehat memiliki korelasi langsung dengan ketajaman pendengaran.
Aktivitas fisik yang rutin, seperti berolahraga pagi atau pergi ke pusat kebugaran (gym), terbukti membantu menjaga kebugaran organ tubuh secara keseluruhan, termasuk telinga.
"Dengan kebiasaan hidup sehat yang bagus, seperti berolahraga. Ada juga kan orang tua yang kita temui terlihat masih kuat dan sehat, karena ternyata suka gym, masih suka berolahraga pagi, itu biasanya sesuai kesehatannya maka pendengarannya bagus," ujar Prof. Jenny.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pola hidup sehat berfungsi sebagai benteng terhadap penyakit metabolik seperti diabetes melitus dan hipertensi.
Kedua kondisi ini diketahui sebagai pemicu gangguan pendengaran karena dampaknya terhadap sistem sirkulasi tubuh.
"Penyakit metabolik biasanya dapat membuat aliran darah dan sistem imun terganggu. Ini juga dapat mempercepat gangguan telinga," jelas dokter yang juga tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis THTBKL Indonesia ini.
Selain faktor internal, faktor lingkungan seperti kebisingan juga menjadi ancaman serius. Prof. Jenny menyarankan bagi individu yang bekerja di lingkungan bising untuk disiplin menggunakan alat pelindung diri berupa penyumbat telinga (earplugs).
Hal lain yang perlu diwaspadai adalah penggunaan obat-obatan bersifat ototoksik, yaitu zat kimia yang dapat merusak telinga dalam dan memicu tinnitus serta gangguan keseimbangan.
Obat jenis ini biasanya ditemukan pada terapi penyakit berat seperti tuberkulosis dan kanker.
"Obat-obatan yang sangat ototoksik itu sebisa mungkin dihindari. Kalau misalnya itu berdampak pada kualitas hidup, maka pilih yang paling penting untuk kesehatan. Misalnya memang seseorang terkena cancer itu ya tetap harus digunakan (untuk penyembuhan)," tambahnya.
Sebagai penutup, Prof. Jenny mengingatkan bahwa meskipun proses degenerasi organ adalah hal yang pasti terjadi pada lansia, hal tersebut tidak seharusnya menurunkan kualitas hidup seseorang secara drastis.
"Kita tahu ya bahwa usia lanjut itu pasti terjadi proses degenerasi dimana semua organ tubuh itu mengalami penurunan fungsi. Cuma kan hal itu tidak boleh mengurangi quality of life, jadi kita perlu melakukan pencegahan-pencegahan untuk menjaganya," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Biasanya kalau di tempat ramai, dia (lansia) itu sudah merasa enggak bisa (mendengar). Itu disebut sebagai cocktail party deafness.
Ingin mudik aman tanpa drama? Simak panduan lengkap manajemen stres dan kenyamanan kabin khusus untuk perjalanan bersama anak-anak dan lansia di sini
Efektivitas terapi kanker harus berjalan selaras dengan kondisi fisik dan psikologis pasien.
Kemensos bersama Badan Gizi Nasional (BGN) mematangkan skema pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas.
Studi JAMA 2026 ungkap 32% kasus demensia terkait gangguan pendengaran. Simak tanda awal dan cara alat bantu dengar cegah penurunan kognitif hingga 50%.
Studi terbaru ungkap tambahan 11 menit tidur, aktivitas fisik, dan konsumsi sayur bisa menurunkan risiko penyakit jantung hingga 10%.
Penyakit jantung tak hanya dipengaruhi genetik. Ahli Mayo Clinic menyebut gaya hidup punya peran lebih besar.
Penelitian terhadap 100 ribu orang menunjukkan pola diet sehat dapat menurunkan risiko kematian hingga 24% dan membantu memperpanjang usia hidup.
Kolesterol tinggi bisa terjadi meski sudah diet, terutama usia di atas 40 tahun. Kenali penyebabnya dan langkah efektif menjaga kesehatan jantung.
Minyak sawit sering dianggap berbahaya. Simak fakta ilmiah tentang komposisi lemak, risiko kanker, obesitas, dan kesehatan jantung yang jarang diketahui publik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved